Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

MENGGAPAI VISI

oleh: Y.Andik BC

 GAMBARAN SEMINARI

Seminari Garum Jayalah

Tumbuh Mekarkan Benih-Benihmu

Ibu Sejati Almamaterku

Majulah ‘tuk sebarkan sabda Allah

“Cinta dan s’luruhku untukmu….

Kuserahkan demi jayamu…”

Tegak Diriku Menjagamu

Rahmat Tuhan ‘kan Slalu bersamamu[1]

Satu hal yang membanggakan dan membahagiakan dalam hidup saya adalah ”Aku alumni seminari Garum”. Kebanggaan ini muncul karena saya telah hidup selama lebih kurang empat tahun dalam komunitas seminari, mencoba menyemangati diri sendiri dalam suasana yang sudah terkondisi, mencoba loyal kepada teman, staf ataupun pegawai-pegawai seminari. Seminaris, yang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda membawa pola dan gaya hidup mereka masing-masing, sehingga kadang-kadang muncul konflik antar anggota di dalamnya. Bukankah status seminaris kadang-kadang sering kita salahgunakan pula untuk tujuan-tujuan tertentu? Dengan posisi “status naik” mendapat penghargaan dari umat (minimal umat Garum dan sekitarnya?) Nostalgia atau, katakanlah, romantika itu sampai saat ini kadang masih selalu muncul dalam setiap guyonan-guyonan kami ketika kami hidup bersama sebagai sesama alumni[2]. Kesadaran kami pada waktu itu akan suatu tujuan, hidup serba teratur, makan, tidur, belajar, memberikan nuansa entah kebosanan, rasa kangen, pelanggaran-pelanggaran yang bila dikenang pada saat ini bukan sebagai sesuatu yang asing.

2 Januari 1995

Wah…kita ketemu lagi, oh my home, my dormitory, my seminary…aku merindukanmu, lho! Kata cacak sehabis turun dari angkutan umum….

“Pius!!” seru Romo Rektor ketika mendaftar anak- anak.

“Lho, anak ini mana?” tanya Romo..

Oh…ternyata lampu bagian belakang belum hidup, maklum aja sinyo satu itu enggak kelihatan….lha wong badannya aja item kok.

 11 & 21 januari 1995

“Nich, Peter, mampu untuk memfoto dengan hasil berwarna-warni,” kampanye sinyo kelas dua yang menambah serunya pemilihan umum….

 29 januari 1995

“Asyik ada tamu…!” Sorak sinyo-sinyo seminari..

”bisa ngeceng….”

  14 Februari 1995

“Aku sayang Romo Harjo dech…”

maklum valentine day dan satu lagi Romo Harjo lagi ultah…[3]

Penggalan-penggalan cerita di atas, mempunyai makna yang dalam, karena disitulah anak seminari mengaktualisasikan diri atau paling tidak menikmati masa mudanya dalam asrama. Peristiwa-peristiwa semacam itu berusaha dihadirkan dengan dikemas sedemikian rupa untuk menghidupkan dinamika komunitas yang acaranya telah tersusun.

Dalam tulisan ini, saya berusaha merekronstruksi pengalaman-pengalaman yang saya alami dalam suatu rangkaian cerita dengan gaya bahasa Suroboyoan[4].

“Garum…Garum…”

Sebuah Isuzu hijau metalik mendekatiku, langsung aku naik duduk di bangku paling depan dekat sopir.

”Turun mana, Mas?”

“Seminari!!!”  Jawabku mantap

Colt melaju dengan kencang…

“Garum…Garum…Seminari kiri..seminari kiri!!”

Mobil berhenti tepat di depan sebuah pintu gerbang yang kokoh.

”SEMINARI MENENGAH SANTO VINCENTIUS A PAULO KEUSKUPAN SURABAYA” Sebuah tulisan yang pertama kali kubaca ketika turun dari colt. Kulangkahkan kakiku dengan mantap dan penuh sejuta harapan karena di tempat itu aku akan bergulat mewujudkan cita-citaku. Dalam perjalanan waktu akhirnya saya merasakan suasana Garum yang saya idealkan sirna sudah. Garum tidak seperti yang saya bayangkan, referensi yang saya terima mengenai Garum yang sesungguhnya amat minim[5].

 “Hee,…dik, kon saka ngendi?”

“Saka Ngawi, Mas!!”

“ah..ndesa temen koen iku. Tapi lumayan lho, arek seminari saka Ngawi akeh temen ana kene. Tapi kon mesthi dadi adik kelas sing apik, ya. Aja tiru-tiru kakak kelasmu, rokokan, metu bengi, maling panganan. Wis tho pokoke kakak kelasmu cen wis rusak”…

Pembicaraan di atas sedikit menggambarkan suasana dan kondisi Garum yang nyata. Pemberitahuan yang sungguh tidak diharapkan oleh seorang seminaris yang baru hidup beberapa saat di dalamnya dan masih membawa idealisme yang tinggi. Nada dan gaya ngomongpun  akan berubah kalau suasana dan antar pribadi sudah akrab.

 “He … Cuk[6] … kon aja nggatheli, tho!!! Kon ana kene iku dididik dadi romo.”

“Wahhh … diancuk temen arek iku. Filsafat tenan ngomonge… Kayak alim dhewe-ae ana kene.”

 “Itu dinamika kelompok…kelompok yang bingung. Meski belum pernah disimpulkan, akhirnya di Seminari Garum berlaku model pendidikan pembiasaan dan percontohan. Modelling and conditioning. Setahu saya, saya hampir yakin tidak ada…saya simpulkan pertama kali ketika kelompok kalian kacau. Karena tidak ada model, yang jadi panutan. Bukan contoh, tapi panutan. Ya itu kekhasan kelompok kalian. Ada untungnya, karena lalu kalian mencari-cari sendiri”[7]

Setu awan, mari ibadat siang. A,B,C ngobrol ana kamar tidur,

A:”ayo ning Blitar, Rek. Dolan-dolan apa jajan, nonton film terserah. Sing penting metu saka penjara!”

B:”Koen sing ijin yaa… Aku mesthi gak oleh, aku konangan metu bengi.”

C:”Terus ngepel tho…? Pancene kon iku arek ndablek!!! biasalah kon iku…..”

A:”Eee… kon-ae, C, sing ijin. Koen lak anake tho?! Mesthi oleh…”

C:”Memanfaatkan peluang yaa…? Tapi gak papa.., sing penting aku ditraktir.”

B:”Pancen…, kon iku!! Beres… sing penting ijine tho. Ambek kon iku akeh slamete. Nglanggar gak nglanggar mesthi-ae bener.”

Suasana seperti cerita di atas sangat terasa, meskipun nampak adem ayem namun ada semacam “grundelan”. Seminaris mengalami kebingungan untuk menemukan figur yang dapat menjadi panutan. Seminaris membutuhkan seseorang yang punya hati dan minat pada dirinya, seminaris saat itu memerlukan seorang pribadi yang benar-benar hidup bersama mereka. Tak bisa dihindari, gerak langkah seminaris berusaha mencari “slamete dhewe” yang penting “aku baik” dihadapan staf. Memanfaatkan situasi dan personal yang dekat dengan staf telah menjadikan iklim yang tidak sehat dalam lingkungan seminari.

Lek No: ”Romone ganti, romone ganti!! Wis pancen aneh, mosok meh saben tahun Romone ganti…. Waah bingung aku karepe apa?!!”

Bun-Bun:”Pancen, kon iku areke gak nrimanan…No…No”

Lek No:”Nrima piye…?! Mesthi engko rak aneh-aneh…. Wis tho deloken-ae!!”

Gentong:”Sing penting mutu mangane meningkat!!”

Lek No:”Nggatheli, kon iku, Thong-Thong…. Ngene terus-terusan… ya repot awake dhewe”

Jebek: ”Nek aku sing penting studi lancar, turu nikmat. Lek No repot merga apa? Dheke tukang nglanggar, bingung menyusun siasat.”

Bun-Bun: ”Bener-bener… setuju aku, Bek!!!!”

Obrolan itu mengandung suatu bentuk protes ketidakpuasan karena begitu seringnya staf romo diganti dan seminaris harus menerima kebijaksanaan yang telah digariskan. Saat itu seminaris bisanya hanya ngomong sama teman sendiri dan sering “rasan-rasan” sehingga kadang-kadang memunculkan nama-nama baru bagi staf romo yang datang. Situasi saat itupun sempat memunculkan slogan “Ganti romo (pemimpin) ganti kebijaksanaan”

 “……karena itu dalam studi di STFT saya usul: minimal dua semester belajar manajemen pendidikan, karena pada prakteknya romo-romo di paroki dipasrahi nyekel yayasan, penasihat sekolah……. Usulan saya: minimal, kalo tidak punya latar belakang ilmu pendidikan, ia peka terhadap dunia pendidikan, ia berminat. Itu syarat minimal. Artinya, kalo ada siswa kesulitan belajar harus cepat ditangani. Kalo studi rame, cepet ditangani. Itu akan menjadi pikirannya.”[8]

 Belajar dalam menghadapi model mengajar guru-guru di seminari merupakan seni tersendiri. Guru-guru mengajar dengan karisma mereka masing-masing. Kami berusaha memahami, mengerti dan belajar banyak dalam iklim belajar yang diciptakan. Guru-guru telah menawarkan alternatif kepada seminaris untuk mengaktualisasikan dirinya melalui gaya mengajar mereka.

 T:”Entah disadari atau tidak, Bapak kalau mengajar suka mencari perhatian.”

 

J:”Itu saya sengaja. Kadang-kadang saya jalan muter. Sebetulnya saya melihat keberhasilan studi itu banyak pengaruhnya, dan saya menyadari itu. Dan sampai sekarang saya tidak pernah duduk, kadang papan saya hapus sendiri, keluar kemudian ngintip, terus kembali lagi…. Itu mendidik bahwa perhatian seseorang bisa terpecah…. Anak kelas satu ada yang mengkritik, anak KPA juga bilang…, ada sharing dan saya ucapkan terima kasih. Saya catat itu semua[9].

 

 “Kring…kring!! Sinau…sinau…adus!! Adus!! Bubar!! Olah raga rampung, potuse jupukna ya…. Arek kelas telu ana 25 ya!!! Aja lali, ditunggu arek-arek ning wilayah loro.. Wah ngobrol dhisik…adus engko-ae.”

 “Ayo tuku mie, Rek!! Mie pangsit ning ngarep lapangan. Sapa titip, sapa titip?!! Sing mau gak mangan wis padha titip kabeh lho………. Pokoke murah!!!!!”

 

 “Eh…Cuk, Romone diawasi. Aja mlaku-mlaku-ae. Arek-arek sing ning mburi ben tenang, sing penting kon engko kebagian dara siji wis mateng! Tenan lho…sampek arek-arek konangan, kon tak ajar rame-rame”

 

 “Budhalan…budhalan… Wah rokokku entek, Cuk!! Mau pas olahraga lali gak tuku…. Eee iku rokoke sapa jaluk siji… yaa indhen-ae supaya enak….

 

Wis kecut tenan cangkemku.” Bul….Bul… parade rokokan ning seminari.

 “Ayo….metu bengi rek, tuku sega goreng… terus dolan nonton misbar. Wis tho, akeh ceweke ……Ayo metu kapel-ae aman … Wis, mesthi aman… tak jamin!!!!!!”

Kalimat (Pembicaraan) sepotong-sepotong diatas menyimpulkan satu kata ”pelanggaran”. Begitu kreatif anak seminari melakukan pelanggaran, selama peraturan dapat disiasati dan acara-acara komunitas tidak terganggu, pelanggaran bukan sesuatu yang tabu. Bukankah ada semacam gurauan ”Sepuluh perintah Allah telah berkembang menjadi sebelas perintah dengan tambahan: asal staf tidak tahu”. Disiplin seminaris dalam kualitas yang rendah karena kurangnya leader, sehingga setiap angkatan berusaha mengaktualisasikan kebersamaan mereka secara kelompok ataupun sendiri-sendiri. Di sisi lain saya melihat pelanggaran-pelanggaran dalam komunitas telah menciptakan suatu dinamika yang membuat suasana tidak monoton. Kreatifitas seminaris dalam melakukan pelanggaran, bukankah menjadi suatu media komunikasi yang membuat staf lebih memahami keinginan kami, meskipun berdampak negatif pula pada kehidupan komunitas?

Pembinaan seminaris dalam kehidupan rohani mendapat porsi yang besar. Komunikasi dengan Tuhan ini diberikan melalui misa, rekoleksi, retret, bimbingan rohani, dan acara-acara rohani yang lain.

17 September 1994

Seorang lelaki berperawakan tinggi dan warna kulit yang agak gelap yang belakangan diketahui sebagai seorang frater berjalan dengan cuek masuk ke kapel.

”Ups…”

semua mata tertuju kepadanya, dengan santai beliau memulai rekoleksi kali ini dengan nyanyian “Datanglah Roh Maha Kudus”….[10]

3-6 Januari 1995

“Saya jadi imam karena dijongkroke ayah saya” ujar romo yang punya nama keren Yustisianto….Dengan tema “Orientasi Panggilan” retret berlangsung selama tiga hari. Beliau mampu untuk menyuguhkan secara luas dan gamblang serta dapat membangkitkan semangat sinyo-sinyo, walaupun ada yang terkantuk-kantuk, selingan nih yaaa.[11]

TUJUAN DAN STRETEGI:SEBUAH PANDANGAN

Seminari itu ibarat sebuah kapal yang dipimpin oleh seorang nakhoda, yang harus mempunyai gambaran laut yang diarungi (kehidupan), gambaran kapalnya sendiri (dunia), gambaran isi kapal (manusia), dan tujuan kapal (Allah)[12]

Seminari garum,sebagai lembaga, membutuhkan tujuan dalam bentuk pernyataan atau rumusan yang menunjukan kegunaan atau alasan keberadaannya. Pernyataan-pernyataan tersebut mempunyai fungsi untuk mengkoordinasi, menuntun dan memberikan arah bagi para anggota yang terlibat di dalamnya. Tanpa tujuan yang luas dan langgeng tidak akan ada kepastian dan tidak tahu apa yang harus dilakukan atau bahkan tidak tahu mengapa mereka perlu melakukan sesuatu[13].

“Di seminari menengah, yang didirikan untuk memupuk tunas-tunas panggilan, para seminaris hendaknya melalui pembinaan hidup rohani yang khas, terutama dengan bimbingan rohani yang cocok, disiapkan untuk mengikuti Kristus Penebus dengan semangat rela berkorban dan hati yang jernih….”[14]

 “Tujuan seminari menengah seperti seminari menengah St. Vincentius de paul Garum adalah mempersiapkan para calon imam di tingkat sekolah menengah agar mereka mampu dan siap memasuki dan meneruskan pendidikan lebih lanjut dan khusus di seminari tinggi”[15]

 “Seminari menengah tempat untuk mempersiapkan supaya panggilan bertumbuh dan masalah-masalah emosional supaya mulai diolah”[16]

 “Seminari pada dasarnya merupakan tempat pembinaan kedua bagi para seminaris setelah keluarga masing-masing. Bolehlah dikatakan bahwa seminari meneruskan/mengolah lebih lanjut pembinaan yang telah dilakukan dalam keluarga.”[17]

Berbagai rumusan tujuan seminari yang terangkum di atas mempunyai satu muara pembicaraan ”tempat memupuk tunas-tunas panggilan”. Kejelasan tujuan akan membantu untuk merumuskan strategi sehingga seminari benar-benar sebagai kapal yang dipimpin oleh seorang nakhoda yang tahu seluk beluk kapal secara keseluruhan.

Koordinasi kegiatan-kegiatan dalam seminari dapat dicapai dengan menerapkan suatu strategi yang tersusun dengan baik guna menunjukan jalan dalam mencapai tujuan. Strategi ini mencakup pedoman-pedoman tindakan umum yang dapat dilakukan oleh anggota komunitas seminari secara meyeluruh. Rumusan strategi harus meliputi pembentukan strategi-pemilihan metode jangka panjang untuk bertindak dan implementasi strategi-mengacu pada tindakan yang akan diambil dalam menerapkan strategi yang dipilih. Rumusan strategi tersebut dinyatakan dalam kebijakan-kebijakan seminari dan program-program seminari.

“Di seminari menengah hendaknya mereka di bawah bimbingan para pembina yang penuh kebapaan, dengan kerjasama dengan orangtua yang sangat membantu,…Studi yang harus ditempuh oleh para seminaris harus diatur sedemikian rupa sehingga mereka tanpa dirugikan dapat melanjutkan di lain tempat, sekiranya kemudian memilih status hidup yang lain….”[18]

 “Tekanan pembinaan dewasa ini semakin melihat pentingnya pendampingan pribadi secara intensif sebagai sarana untuk menyiapkan disposisi kedewasaan untuk pertumbuhan panggilan. Membekali para seminaris dengan seperangkat tata nilai, agar mereka mampu berdiri tegak dan tak lapuk menghadapi taufan kehidupan. Hal kedua yang dapat kita sumbangkan kepada seminaris adalah menumbuhkan kemerdekaan. kemerdekaan adalah suatu pergulatan di dalam diri kita manusia untuk mengadakan pilihan-pilihan secara bertanggung jawab dan setia kepada nilai-nilai tersebut.”[19]

“Pembina utama memang Roh Kudus. Namun pembina yang penting dan tak tergantikan adalah para seminaris sendiri, bukan para romo sebagai pembina. Maka perlulah disadari bahwa seminaris sekarang ini, yang sedang dibina, harus sekaligus juga membina dirinya.” “penghayatan kebebasan di seminari….Pertama, mampu menguasai diri. Kedua, bertekad bulat memerangi dan mengatasi berbagai bentuk cinta diri dan individualisme. Ketiga, bersedia terbuka terhadap orang lain. Keempat, bermurah hati dalam dedikasi dan pengabdian pada sesama.”[20]

 Kutipan-kutipan diatas hanyalah sebagian contoh penerapan strategi di seminari Garum dalam pencapaian tujuan yang telah terumuskan dengan jelas. Keberanian untuk tetap konsisten dalam pencapaian tujuan dengan strategi yang telah ditetapkan sangat diperlukan sehingga ada kebersamaan langkah dan arah membawa kapal “SEMINARI”.

PENUTUP

Kalau seminari telah mencanangkan suatu tujuan–artinya mempunyai visi–harus tetap dipertahankan dan tetap memegangnya sebagai “direction setting”. Tetapi, dalam perjalanan menggapainya diperlukan suatu perubahan dan penyesuaian terhadap strategi pencapaian sementara visi itu harus tetap, tak perlu dirubah.

Perjalanan limapuluh tahun, telah mematangkan seminari dalam menyikapi perubahan jaman, namun visi yang digantungkan di langit tetap tidak terlupakan, karena bagaimanapun sebuah langkah untuk merefleksikan suatu romantisme pengalaman hidup yang ada di dalamnya akan membangkitkan kembali semangat untuk mengejar cita-cita yang telah dicanangkan. Sebuah lagu yang mengawali tulisan ini, kembali saya lantunkan dengan tegas dan penuh semangat:

SEMINARI GARUM JAYALAH

TUMBUH MEKARKAN BENIH-BENIHMU

IBU SEJATI, ALMAMATERKU

MAJULAH ‘TUK SEBARKAN SABDA ALLAH

“Cinta dan sluruhku untukmu… 

kuserahkan demi jayamu…”

TEGAK DIRIKU MENJAGAMU

RAHMAT TUHAN ‘KAN SELALU BERSAMAMU

 

[1] Lagu Hymne Seminari Garum Jayalah

[2] khususnya alumni di Yogya “WAGU”

[3] VV/69/95 Depot Cerita Cak Kronik

[4] Bukankah gaya ngomong suroboyoan yang, entah disadari atau tidak, telah mewarnai setiap obrolan di seminari Garum?

[5] Suatu pertanyaan pula bagi para calon seminaris,”Seperti apakah situasi dan kondisi Seminari Garum yang sesungguhnya?”

[6] merubah sesuatu yang sopan…Dik…menjadi…Cuk namun cara ini terasa lebih mengakrabkan.

[7] wawancara dengan salah satu staf seminari.

[8] wawancara dengan salah satu staf seminari

[9] wawancara dengan salah satu staf seminari

[10] VV/68/94 Depot cerita kronik

[11] VV/69/95 Depot cerita kronik.

[12] VV/68/94 Upaya mencari Visi seminari menengah Garum,Rm.Agustinus Ryadi Pr.

[13] Tujuan harus dibedakan dengan sasaran, tujuan untuk menyatakan rumusan yang luas dan tidak terbatas waktu tentang apa yang ingin dicapai oleh seminari sedangkan sasaran digunakan untuk menyatakan rumusan hasil akhir yang harus terwujud dalam batas waktu tertentu.

[14] Dokumen konsili Vatikan II dekrit tentang pembinaan calon imam.

[15] Buku kenangan 5 windu seminari menengah keuskupan Surabaya.

[16] VV/68/94 Upaya mencari visi seminari menengah garum, Agustinus Ryadi Pr.

[17] VV/69/95 Peranan seminaris dalam pembinaan hidup panggilan,Fr. Alex Dwi Widiatmana

[18] dokumen konsili Vatikan II dekrit tentang pembinaan imam

[19] VV/68/94 Upaya mencari visi seminari menengah garum,Rm Agustinus Ryadi Pr

[20] VV/69/95 Peranan seminaris dalam pembinaan hidup panggilan,Fr Alex Dwi Widiatna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *