Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

MIMPI JADI REKTOR

oleh:S. Wendyat

Tiba-tiba Uskup ada didepanku,

“Kamu mau jadi rektor di Garum nggak?”

Lho-lho, ini ditawari makan atau ditawari jadi rektor.  Enak sekali dia ngomong. Sepertinya jadi rektor cuma duduk dan didandani jabatan rektor dan disenjatai hak veto. Kalau begitu memang enak. Asal ngomong, jadilah beres. Mataku cuma terbelalak.

“Mau nggak?”

Waduh, gimana ya, aku ini nggak pernah mimpi jadi rektor, tapi kalau ditawari begini maunya ya diterima saja. Gimana nggak diterima. Bergengsi ya bergengsi. Wah, ini pikiran duniawi.  Sebentar, aku masih belum masuk jadi benar-benar imami dan rektori, jadi ya pikirannya masih awami.  Tapi rasanya aku akan cepat dapat berubah, secepat aku jadi rektor. Tinggal bilang okey, jadilah aku seorang Rektor.

“Selamat datang Romo,…  Selamat datang,…  Selamat Bertugas.”

Nah,.. Sekarang aku jadi rektor Seminari Garum. Sekarang aku yang me-manage Garum. Baik buruknya banyak tergantung perfomance rektor. Kata beberapa sumber, sebelum aku jadi rektor, pendidikan di Garum menganut azas modelling dan conditioning. Nah, yang modelling inilah yang meletakkan aku jadi figur yang seharusnya dapat digugu, ditiru, diteladani, dicontoh,… pokoknya pusat Garum. Nampaknya input penting yang aku dengar dari beberapa rekan tersebut sangat penting bagi diriku sebagai rektor. Walaupun jadi rektor ‘dadakan’, bukannya aku tidak akan buat apa-apa. Tradisinya memang dadakan begini. Entah apa alasannya, mungkin yang dadakan begini hasil ilham dari yang diatas sana dan bersuara tiba-tiba…

“Uskup, jadikan si Bejo sebagai Rektor Garum.”

Belum ada satu tahun ……

“Sorry, ternyata yang cocok si Gambleh”.

Atau sebenarnya memang tidak ada planning dari sang Keuskupan tentang siapa yang jadi rektor maupun romo. Menjadi Rektor saja seperti ditawari makan siang, apalagi nawari jadi romo di seminari. Atau jangan-jangan nggak ditawari, langsung ditempatkan saja. Yang tidak taat dituduh subversif, mbalelo. Lho apa maneh iki?

Ok, aku lagi duduk di ruang rekreasi romo-romo. Tempat ini yang dulunya dari buffer stock makanan lezat. Dulu waktu aku masih seminaris, apalagi dekat dengan romo-romo, nggak jarang aku menyelinap ambil satu atau dua. Atau kalau lagi baik hati ngambilkan temanku yang lain segala macam makanan yang enak.  Hitung-hitung aku turut mensukseskan program nasional, memberantas kesenjangan sosial. Antara kehidupan borjuis dan proletar.

Aku lagi beristirahat menikmati siaran dari manca negara dari mercusuar parabola, yang dulu kalau lagi berputar-putar di udara kedengaran suaranya berderit merdu seolah-olah mengatakan, “Romo lagi menikmati parabola, jangan diganggu”.

Tiba-tiba aku ingat lagi, aku bukan romo-romo waktu itu, aku nggak suka dengan polah tingkah mereka. Sekarang saatnya berbuat sesuatu. Pertama, Siapa Aku? Aku adalah rektor Seminari Garum.  Kedua, Apa tugasku? Aku diberi tugas sang Uskup untuk bertanggung jawab atas Seminari Garum. Ketiga, Bagaimana aku lakukan?  Aku mulai bingung. Aku sekarang rektor, bagaimana akan kujalankan semua. Kucari arsip-arsip di ruang rektor atau dokumen yang lain, lah. Pokoknya yang bisa memberi masukan tentang apapun yang berkenaan dengan rektor (kalau ada).  Nah, ternyata memang nggak ada.

“Sialan,… organisasi segini besar dan pentingnya kog nggak punya arsip yang bagus”. Padahal aku dulu pernah berbangga (waktu belum tahu apa-apa). Aku duduk lagi lalu tergeletak di tempat tidur. Okaylah, aku ingat-ingat dulu. Apa ya tugasnya rektor?

Nah, kalau nggak salah dulu rektor pekerjaannya memelihara burung terutama merpati (dara). Lalu tiap pagi, siang, dan sore memberi makan burung. Kalau nggak begitu ya jalan-jalan atau ke Blitar atau ke stasi. Ah, betapa mujur diriku… ternyata tidak salah keputusanku untuk jadi rektor. Bersepeda sore dan kunjungan umat, dulu rasanya juga tugas Rektor.  Nah, ini baru.  Kalau begitu aku mulai susun rencana.  Pagi,…

“Romo Rektor yang terhormat,…”

“Siapa kamu ?”

“Tidak perlu bertanya Romo, asal Romo mendengarkan.  Romo memang punya data historis yang lengkap tentang rektor dan tugasnya yang tersusun rapi dan disimpan di storage handal (otak).  Tapi sayang, seharusnya bukan begitu”

“Lho,…”

“Sebagai sekedar input yang akan dipertimbangkan mungkin baik, tapi kalau mau ditiru rasanya tidak pada tempatnya Romo.  Sampai bertemu di lain kesempatan”.

Segera aku bangun dan duduk di meja. Aku harus mulai mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab ke para romo yang lain. Kalau selama ini sudah baik ya sudah. Tapi,… nah ini lagi-lagi kebetulan, kata sebuah sumber, pembagian wewenang dan tugas ini dari dulu nggak jelas. Kalau boleh dibilang, memang nggak ada job descriptions yang jelas. Jadi ya tergantung kreativitas.

Ok, romo yang diperlukan adalah romo ekonom, romo kepala sekolah, romo disiplin, dan romo pendamping. Wah, kurang satu. Romo pendamping belum ada. Sebenarnya kalau dirangkap yang lain agak susah, kurang baik. Tapi mau gimana, romo-romo saja kalau ditempatkan di seminari merasa jadi orang buangan. Tapi kalau  mau diingat banyak juga romo yang di seminari, pas aku masih seminaris. Paling tidak ada delapan sampai sepuluh romo, hanya waktunya nggak bersamaan. Yang satu setahun, yang satu tiga tahun, yang satu dua tahun,… pokoknya ganti-gantilah. Jadi ya memang banyak, hanya saja nggak bersamaan. Maklum, ideal juga kalau Garum akhirnya jadi tempat studi bagi romo-romo. Mungkin mereka pikir di Garum tidak banyak kerjaan atau kalau mau parah lagi, urusan Garum itu cuma sekunder, primernya ya studi.

Masih keren lagi, jabatan mereka nggak cuma satu atau dua. Romo ekonom misalnya, ekonom itukan jabatan yang seharusnya pokok, tapi nyatanya ada jabatan lain seperti romo terra sancta, viva vox, romo fungsionaris, guru, romo stasi, romo mudika, dan lain-lain. Nah, …  ketiga yang disebut terakhir itu tadilah yang  justru merupakan kegiatan pokok. Bukan berarti ekonomnya nggak jalan. Ekonom-nya tetap jalan.

Eehmm….aku masih memikirkan wewenang yang akan aku delegasikan ke romo disiplin. Maaf, maaf sekali kalau datanya lagi-lagi dari data historis, yang nota bene aku sendiri tidak bermaksud menilainya, baik, buruk, jelek, bagus itu urusan nanti. Tapi mau bagaimana, daripada aku buat keputusan tidak ada dasarnya, lebih baik punya dasar. Paling tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebenarnya aku juga sempat calling sana-sini, biasa… semakin banyak input semakin qualified, kan.  Sebenarnya aku bermaksud mengubah penilaianku akan praktik-praktik saat-saat itu, tapi bukannya penilaianku berbalik dari semula, malah semakin menguatkan. Kalau pertama aku menilai jelek, sekarang juuellek banget, tapi kalo baik, ya baaaiik banget.  Aku menilai yang mana, paling orang juga sudah tahu.  Bukan karena aku bilang, tapi biasa.  Ini budaya.  Ngono ya ngono tapi ya aja ngono.

Salah satu wewenang yang aku delegasikan: “Romo disiplin berhak dan wajib  (ha, ha … ingat pasal 30 UUD’45) menggantikan romo rektor bila rektor tidak ada di tempat.” Referensinya begini,

“Romo, saya mau pulang”

“Wah, saya nggak bisa mengizinkan,…”

“Kemarin saya sudah bilang ke Romo Rektor kalo hari ini mau pulang dan saya tinggal memberi tahu romo yang ada di tempat,…”

“Coba ke romo ekonom”

“Ya romo…”

Akhirnya kutinggalkan romo kepsek, ke romo ekonom, lalu ke romo disiplin, dan akhirnya aku berhasil dikerjain romo-romo yang tidak punya keberanian mengambil keputusan.  Mungkin bukan mereka, tapi tidak ada pembagian wewenang yang jelas.

Selesai sudah aku membagi tugas. Ada perasaan lega melihat romo-romo yang sekarang. Paling tidak mereka bukan tipe romo kutu loncat, atau romo yang gila jabatan, dan tidak menomorduakan urusan seminari.

Bell makan siang berbunyi, lalu aku melangkah ke ruang makan. Baru mau melangkah masuk ke ruang makan seminaris, gemuruh tepuk tangan disertai suit-suit begitu meriah, seolah-olah ada sesuatu keajaiban. Padahal sekarang romo-romo sudah makan bersama dengan seminaris. Ada dua hal yang tiba-tiba mencuat di permukaan ingatanku.

Pertama, gemuruh tepuk tangan dan suit-suit tadi mengingatkan aku betapa gemuruhnya dulu saat-saat makan siang dan malam sewaktu aku seminaris dulu. Banyak sekali keajaiban!  Kalau tiba-tiba piring menjadi piring terbang itu bukan hal aneh. Lain lagi, kereta makan tiba-tiba berjalan dan menabrak meja. Debat untuk program Sidang Akademik nampaknya pada saat itu lebih baik dihapus.  Ya, karena tiap makan sudah diasah.

Kedua, pernah ada tuntutan agar romo-romo makan bersama dengan seminaris. Lucunya begini: Mejanya pindah ke ruang makan, badannya ikut di ruang makan, tapi hidangannya tetap hidangan yang jauh berbeda dengan seminaris. Nah,… setelah makan, ketika romo sudah meninggalkan ruang makan, seminaris makan lagi. Yang jelas bukan makan hidangannya seminaris, tapi hidangannya romo.

“Siikaat, rek!!!” Pekik kemerdekaan meledak.

Masih ada satu lagi yang masih mengganjal di pikiranku hari ini. Soal para Pahlawan yang tidak diberi tanda jasa.  Entah karena dilakukan dengan landasan kerelaan atau memang kalau harus diberi tanda jasa akan memakan biaya yang banyak.  Jadi kalau gejala itu sampai di seminari juga nggak aneh. Demikian kata seorang rekan yang ada di Yogyakarta, yang sempat membaca pengumuman bahwa Seminari Garum mencari guru untuk menggantikan guru yang hendak meninggalkan Garum, karena sudah memasuki usia pensiun.  Dari seorang sumber pula, yang mau jadi guru seminari itu kalo bukan seorang malaikat ya orang buangan.  Apa yang mau jadi jaminan hidup? Maaf, sebenarnya aku sendiri nggak mau menyinggung masalah gaji ini. Jadi bagaimana?  Usulan pertama ke keuskupan gaji mereka dinaikkan paling tidak hampir dua kali lipat dari guru biasa. Pekerjaan mereka tidak sekedar guru yang bisa meninggalkan tugas lalu cari obyekan sana-sini, tapi mereka juga harus mengamati kepribadian, dan memberi penilaian. Mereka bukan guru biasa, maka harus mendapat perlakuan yang tidak biasa pula. Wajar kalau mereka harus diperlakukan lebih.

Nah, sekarang tentang seminaris… Apa yang hendak aku pikirkan tentang seminaris? Lalu aku jalan-jalan ke wilayah I. Moga-moga terbangun sebuah ingatan yang akan menjadi input bagiku. Memang sudah banyak input dari beberapa staf romo dan guru. Hanya pengalaman real, yang dialami seminaris kadang tidak terjangkau mereka. Begitu sampai di mulut wilayah I aku melihat bekas gedung perpustakaan yang rata dengan tanah. Sebenarnya aku sudah melihatnya berkali-kali. Hanya sepertinya yang sekarang ini menyentuh.

“Wah, ini baru ilham!!

Kalau sekarang tradisi itu diteruskan, pengalaman seminaris pertama kelas satu adalah jadi anggota perpustakaan.  Pertama kali sempat juga terkagum-kagum (pada ceritanya) kalau dulu perpustakaan ini juara 2 se-Jatim.  Itu dulu!!  Kalau tahu yang sekarang, sah-sah saja kalo harus mengelus dada, mungkin nggak cukup, memukul dada, biar terasa prihatinnya. Entahlah, … kalau aku mau mengatakan dengan jujur, organisasi yang paling kokoh pendiriannya di dunia ini, ya seminari. Betapa tidak, dari dulu hingga sekarang tetap begitu, tidak berubah, tidak mudah terpengaruh. Dulu, ketika perpustakaan ini dinilai bagus lalu timbul kebanggaan. Bagusnya lagi, nampaknya hal yang bagus itu dijaga betul-betul. Sampai-sampai perpustakaan yang lain sudah melengkapi fasilitasnya dengan buku-buku terbaru, buku sekolah kurikulum terbaru, Garum masih mempertahankan  yang lama. Nggak salah,… wong yang dipertahankan itu kan kebaikan (mosok ya ngono, rek…).

Ah, jadi ingat ruang komputer di sebelahku ini juga.  Boleh dibilang seminari itu generasi pertama sekolah SMA yang mendapat pendidikan komputer.  Saking bangganya, ya kebaikan itu dipertahankan.  Sampai namanya nge-print-pun  masih menggunakan yang suaranya ‘nget-ngeet, nget-ngeet,…’ yang dari jarak dua kelas kedengaran suaranya. Memang kokoh pendirian seminari ini.  Sekarang perpustakaan sudah rata dengan tanah. Pendirian yang kokoh sudah diruntuhkan. Dan semoga nanti pas acara ‘gedhen-gedhenan’ orang melihat kalo seminaris perlu buku yang bisa membuka mata, telinga, pikiran, hati, dan melihat keajaiban dunia. Bukan hanya Borobudur dan sejenisnya, tapi bagaimana eksistensi imam di tahun mendatang, bagaimana teknologi komputer berkembang begitu sangaaaat cepat, bagaimana hati ini diasah biar semakin peka terhadap situasi politik dan ekonomi. Jangan dibilang politik dan ekonomi bukan urusannya sang pastor.

Pernah dalam suatu pertemuan dengan seorang dosen, dia memceritakan kalo para pastor tidak peka terhadap situasi sosial, ekonomi, politik. Yaa, ada satu-dua. Belum lagi kalo dia tanya soal teknologi komputer.

“Ah kalo soal internet aku tahu. Itu lho yang melintang antara dua sisi lapangan yang berbentuk seperti jaring”

“Lho kalau itu kan net !”

“Lalu internet yang mana ?”

Kegiatan jalan-jalan ini membuat pikiranku melantur sana-sini. Tapi nggak apa-apa, aku dalam rangka mengumpulkan segala informasi. Dua poin terkumpul. Satu, memperbarui perpustakaan dan dua, memperbarui dan menambah komputer.

Kembali ke Seminaris tadi. Aku lama tugas di perpustakaan.  Paling tidak dari menjadi anggota sampai jadi ketua. Itu berarti satu setengah tahun hidupku di perpustakaan. Dulu sewaktu anggota, aku tidak tahu kalau di belakang, di ruang kerja itu berderet ‘botol-botol’. Ada yang gepeng, ada yang bergambar burung kuntul, pokoknya yang sejenis itulah, yang sudah cukup banyaknya. Kapan minumnya dan siapa yang minum, aku pun tidak tahu. Yang jelas itu bukan botol bekas yang dibawa masuk. Tapi botol sekalian isinya dan diminum bersama-sama. Itu pun aku baru tahu dari pengakuan sejumlah teman. Hanya satu dibenakku waktu itu, anak seminari kog seperti itu. Semakin aku di perpustakaan semakin aku tahu banyak. Bukan karena bukunya, tapi tahu apa yang terjadi sebenarnya di seminari.

Aturan dibuat memang untuk dilanggar atau dipatuhi.  Semakin gencar larangan merokok, semakin gencar anak merokok.   Nampaknya hubungan larangan dengan pelanggaran, kalau mau dirumuskan, bisa dikatakan larangan berbanding lurus dengan pelanggaran. Semakin dilarang, semakin dilanggar. Kelas satu memang saatnya untuk mengenal. Rekaman di otakku  masih bisa  dipanggil. Ada yang merokok sambil jalan-jalan dari ruang tidur ke kelas, ada yang dengan santai di dekat kolam. Pokoknya seolah-olah nggak ada larangan. Siapa bilang yang mau berhenti merokok bisa dilatih disini (rektor dong…). Kenyataan? Ya, wajar kalau teori berbeda dengan kenyataan. Tentu aku sendiri tidak terlibat, kalau terlibat mana bisa jadi rektor, ha..ha..ha..

Tapi merasa ‘nggak terlibat’ itu penyakit, borok, rek.  Kalau mau lihat praktiknya, begini: Seminaris yang keluar malam nggak pernah diajak ngomong dari hati ke hati. Apalagi kalo keluar cari makan. Katanya seperti di seminari kurang makan saja, padahal kan kita tahu…. Dari banyak sumber, tentu bukan dari romo atau guru, aku tahu bahwa mereka keluar bukan karena mau melanggar. Ada yang mau cari perhatian (positif) biar mereka yang duduk di kursi sana tahu bahwa disini ada ketidakberesan.  Sialnya, betul-betul sial … mereka berhadapan dengan aturan mati. Aturan yang tidak punya hati.

Dadi yo urusanmu, kamu melanggar itu urusanmu, saya tidak terlibat”.

Kalau sudah begitu, kegagalan, ketidaktahuan, ketidakdewasaan, ketidakmampuan itu urusannya seminaris.

“Kalau kalian ramai di kelas lalu nggak bisa belajar, itu salah kalian. Kalau kalian keluar malam, lalu dihukum, dan orang tua dipanggil, itu salah kalian”

Padahal,…padahal…mereka ramai karena tidak puas dengan cara sang pemimpin, mereka keluar karena kecewa dengan kesenjangan yang ada, mereka melanggar karena mereka tidak diperhatikan. Apatis?  Yaah, mau dibilang apa lagi.

Aku  memuji kreativitas seminaris menyikapi segala aturan.  Atau kata lainnya mensiasati. Aturannya begini: tidak boleh makan diluar tanpa seizin Romo Rektor dan tidak boleh keluar seminari diluar jam bebas kecuali ada izin dari rektor.  Kalau orang pingin makan makanan dari luar dan tidak berani keluar, maka dia bisa menikmati makanan dari luar tanpa harus pergi keluar. Caranya? Asal punya uang dan punya lampu senter, sudah cukup. Langkah pertama, buka jendela ruang pojok (dulu Ruang DKSV), keluarkan lampu senter, nyalakan dan buat seperti sinyal-sinyal.  Tidak lama kemudian ada seseorang datang dan bertanya,

”Pesan berapa mas ?”

“Sepuluh bungkus, Mas. Sing papat rodo pedhes.  Nanti kesininya lagi nunggu aku nyenter-nyenter”

“Ya..”

Dan transaksi gelap (dalam kegelapan malam) terjadi.  Dan perut rasanya kenyang, nikmat, puas, pokoknya….

Aku berjalan lagi ke wilayah tiga. Disini banyak sekali yang bisa aku ingat. Paling tidak lima puluh persen hidupku di seminari habis di sini. Wilayah sang senior-senior. Dambaan setiap hati, tinggal di wilayah tiga. Status yunior hilang jadi senior. Keluguan diganti dengan kecerdikan. Nah, ini perasaan senior dan yunior.

Bagaimana kalo kita belajar munafik? Ketika aku mulai kelas tiga, ya.. kelas dua juga pernah mengalami, begitupun kelas empat, ada rapat yang diprakarsai kelas IV.  Intinya “Mari kita melanggar asal tidak ketahuan adik kelas yang baru”. Jadi siapa yang boleh melanggar? Mereka yang sudah melewati kelas satu. Itu rapatnya, Bung! Tapi yang penting para senior ini sudah berniat munafik demi kebaikan seminari, demi menjaga pondasi panggilan, yang diatasnya segera akan dibangun tembok yang suatu saat akan jadi sebuah bangunan imamat.

“Maling, maliiiiing, maluuiiing!!!”

Teriakan itu pernah memecah malam di wilayah tiga ini.  Katanya ada yang lari di atap. Lalu ada program jaga. Seminaris kelas IV diutus berdua-dua menelusuri sudut-sudut seminari ketika makan malam. Program ini ternyata baik adanya. Selain menjaga hal-hal yang tidak diharapkan, terjadi juga menambah waktu sharing, bicara dari hati ke hati antar penjaga keamanan.

Maling dari luar belum pernah tertangkap, tapi yang dari dalam justru sudah. Nah, ketika diadakan operasi di lemari-lemari, ternyata tidak ada yang mencurigakan. Tapi ya itu, sepandai-pandainya tupai melompat, kepleset juga. Hasil usaha yang hendak dibawa pulang itu ditaruh di meja. Siapa orangnya yang menjadi tersangka sudah jelas, tinggal mencari barang bukti. Lalu mulailah dicari di mejanya. Alhamduullilah, akhirnya ketemu. Akhirnya sang pengambil tertangkap dan pulang dengan tangan kosong.

Tapi begini teman, kejadian yang lebih menggemparkan pernah terjadi, ya sekitar itu juga.  Tapi persisnya gimana mungkin sumber lain bisa mengungkap dengan jelas.  Pertanyaanku:

“Bagaimana mungkin orang-orang itu bisa masuk ke sini?”

Ternyata apa pun bisa terjadi di seminari, sampai yang tak pernah dibayangkan. Misalnya? Soal seleksi seminaris. Pernah ada yang bilang begini,

“Ya, sebenarnya pernah terjadi, mungkin beberapa kali, rektor tanpa persetujuan tim seleksi akhirnya memutuskan seseorang, atau dua, atau tiga, diterima di seminari”

Apa Kolusi? Ah dulu belum ada kok istilah kolusi. Mungkin juga sudah tapi belum membudaya. Hanya disini praktiknya pernah terjadi.

Okay, aku sudah capek jalan-jalan ke wilayah tiga ini.  Balik dulu, ah, ke kamar! Belum jauh dari kapel aku melihat papan struktur organisasi fungsionaris. Paling atas ditulis namaku, Romo Rektor … Heeem. Agak ke bawahnya ada wakil ketua umum.  Waaah, ini jabatan yang sempat kunikmati juga. Tapi perlu tahu, sebenarnya, walaupun ada acara pemilihan umum, para seminaris nggak pernah memilih ketua umum, wakil ketua umum, ketua liturgi, ketua koster, ketua P3k, ketua tamu, ketua perpustakaan,…. Jadi apa yang kemudian dipilih? Ya, fungsionaris yang lain dong!!!  Sekali pernah aku diajak ngomong oleh seorang staf romo tentang fungsionaris ini. Kalau aku baca segala ungkapan dan mimik wajahnya, dan segala ekspresinya, nampaknya ada kekuatiran, sehingga jabatan yang menyangkut langsung hajat hidup orang banyak dan menyangkut kelancaran seluruh aktivitas seminari, orangnya dipilih oleh staf.  Tipe orang yang dipilih begini kira-kira: bukan pemberontak, bisa dijadikan perpanjangan segala kepentingan staf, dan sebagainya.

“Lho, ada apa ini ?”

Suatu malam aku terjaga. Cahaya lampu dari lorong kamar mandi mengejutkan aku dan dua bayangan yang tidak asing melangkah dan membuka pintu depan RT 5 yang tepat di samping tempat tidurku. Ketika aku menoleh ke kanan ternyata sudah tidak ada lagi tubuh yang terbaring di tempat tidur.

“Haeh, ada apa ini?!”

Tapi aku masih bertahan di tempat tidur. Pasang telinga, pasang mata, dan pasang posisi tidur. Lama-kelamaan aku mulai tahu, kalau lagi ada gerakan. Gerakan sekelompok orang yang akan menangkap beberapa nyawa dan dibawa ke tempat yang ‘tersembunyi’ di belakang. Belum berhasil aksi dimulai, tiba-tiba satu orang lari ke belakang,

“mBahe, mBahe …”  Dan dari luar aku melihat cahaya terang menerjang jendela di sebelahku. Oh, ini pasti … Sebagai WaKU  aku mulai memikirkan sesuatu yang harus aku perbuat. Paling tidak aku tahu apa yang terjadi. Ini kira-kira yang membuat aku jadi mengenal dan betul-betul perhatian dengan seminari. Dari bangun pagi sampai tidur malam, tidak ada satu kegiatan pun yang lewat begitu saja. Dari sudut selatan sampai utara atau timur sampai barat, semua aku tahu.

Kembali ke gerakan malam tadi. Akhirnya mereka berhasil. Keberhasilan ini bukannya tanpa strategi yang matang. Walaupun aku tak melibatkan diri, tapi nampaknya pembagian tugas di organisasi ini sungguh hebbbat. Pokoknya segala kemungkinan sudah terantisipasi.  Ini kekejaman?  Jangan bilang begitu, dong Mas, atau Oom, atau Pak, atau Romo (kalau tahu). Lalu aku mulai mikir. Sebenarnya aku ini wakil ketua umum, apakah aku harus menjaga supaya hal itu tidak terjadi? Oh,.. kalau mau sekedar menuruti ‘job description’-nya WaKU, aku nggak perlu repot-repot sampai hal-hal yang seperti itu. Tapi begini teman,..aku mulai berandai-andai.  Pengandaiannya begini:

“Romo, anak-anak yang namanya A,B,C,D,….terlibat gerakan massa pada pk.23.00 wib” Lalu mulai pembicaraan yang agak panjang. Beberapa waktu kemudian semua yang aku laporkan tadi dipanggil.

“Kalian ini gimana? Apa alasan gerakan ini? Sekali lagi kalian melakukan, kalian akan saya keluarkan dari seminari ini !!!”

Kalau seperti itu kejadiannya sama saja aku bunuh teman-temanku. Maksudku, apa nggak sebaiknya sang empunya burung dara itu tahu kalau sebenarnya bukan dara-dara yang menjadi sasaran.  Si Dara itu hanya sekedar pelampiasan, kalau mau, ya, cobalah bicara dari hati ke hati, cobalah melihat bahwa pasti ada api dari semua asap ini. Lalu apa tindakanku? Mereka-reka dan bermimpi jadi rektor atau romo-romo seminari, moga-moga…moga-moga…

“Selamat siang Romo,”

“Oh, selamat siang Suster”

“Saya cari romo ke kamar tidak ada, ternyata di sini”

“Ya, lagi jalan-jalan. Membiasakan diri. Ada perlu apa Suster?”

“Begini Romo, soal Karantina ”

“Ada apa ?”

“Karantina sudah tidak cukup. Seminaris yang sakit sudah ada sepuluh. Kalau Romo mengizinkan, ruang yang didekat RT 7 akan dipakai Karantina”

“Oh,.. silakan Suster. Saya nanti akan beritahu Sie P3K supaya membantu menyiapkan”.

Ah, suara sopran begini memang jarang terdengar di Seminari. Ha..ha..ha. Jadi ingat kisah cinta asmara si P3K itu.  Kog ya ada?! Dekat dengan suara sopran yang berbaju putih tiap hari (perawat poliklinik) membuatnya..dag-dig-dug-der!!!

Every thing I do,

I do it for you, my love

Saat-saat yang berlalu,

Kutatap bening bola matamu,

Lembut tutur kata,

Oh, my love…

Kisah cinta antara poliklinik dan karantina

tak mungkin kulupa,

Cinta ada untuk mengatasi perbedaan

Usia dan cita-cita bukan yang utama

ku harap kita kan bersama…

 

Aduh duh…. Si P3K mulai berlagu dan berpuisi. Cinta Lokasi. Itu kalau yang bilang orang sinetron, orang film, aktor, atau aktris. Ya kalau seminaris mau dibilang apa? Tapi yang jelas setelah nggak di seminari, ya nggak ada cinta lagi. Mungkin di lokasi seminari yang lain.

***

Masih banyak yang harus aku kumpulkan lagi. Tapi aku harus segera melaksanakan tugas sebagai rektor……………………………………

Tiba-tiba aku terbangun!. Belum sempat aku jadi rektor betulan, padahal input data sebagian sudah masuk. Lebih hebatnya lagi ketika aku bermimpi menjadi rektor itu, aku mendapat banyak informasi yang selama ini tidak pernah terjangkau oleh rektor sungguhan manapun. Tetapi kalaupun para rektor sungguhan tahu, apakah mereka mau mengakui adanya hal itu. Ah, …………… Bergunakah mimpiku? Mungkin. Bergunakah cerita ini? Bisa saja. Paling tidak aku sudah menceritakan mimpiku sesungguhnya.

Sebenarnya aku ingin membuat semacam rekomendasi informasi dari mimpi kepada rektor dan stafnya, tapi mungkin tidak hanya bagi mereka. “Rekomendasi” ini bisa berguna bagi orang lain, yaitu mereka yang tidak terlibat langsung dalam penyelenggaraan seminari. Mereka pun bisa me-melek-kan mata, melihat, membuka hati, turut merasa, peduli, tidak apatis, dan sebagainya, terhadap kejadian sehari-hari di seminari. Aku tidak mau menilai hal demikian sebagai baik atau buruk. Kalau aku menilai buruk, jangan-jangan baik untuk sebagian pihak, tapi kalau baik, jangan-jangan buruk untuk yang lain.

Seumpama ada persidangan, aku mau menjadi saksi yang jujur saja, membuka hati, melihat fakta, dan mengatakan apa adanya tanpa interpretasi. Dan aku mau mengatakan seminari yang ada dalam pengalamanku adalah seperti itu. Selanjutnya? Terserah Anda…

Satu tanggapan untuk “MIMPI JADI REKTOR”

Awal membaca, saya dibawa ke alam “mimpi dan nyata” kurang lebih 30 tahun yll. Sebuah satire, epilog atau sebuah refleksi yang sangat apik.. mungkin akan lebih kaya lagi jika tercantum “mimpi²” yang lain yang saya yakin masih banyak yang belum tersaji.
Apapun itu, harapannya akan memunculkan aksi reaksi dan refleksi .. Viva Seminari👍🏻👍🏻✝️✝️

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *