Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

BAHASA PERSAUDARAAN DALAM DIPLOMASI PERUT

(Sebuah refleksi pengalaman makan selama di Seminari Garum)

Oleh: A.S. Tommy Hendrawan, ST

Non vivimus ut edamus, sed edimus ut vivimus. Sepenggal kata bijak berbahasa Latin ini sengaja mengajak kita untuk berolah laku agar dalam menjalani hidup tidak hanya dipenuhi dengan persoalan makanan, apa yang dimakan dan seberapa banyak makanannya; akan tetapi lebih berorientasi kepada pikiran bahwa makanan digunakan atau difungsikan sebagai alat untuk hidup. Jadi bukan sebaliknya, hidup untuk makan. Dan kalau kita masih berkutat soal hidup hanya untuk makan, maka kita tidak akan pernah usai untuk beranjak ke fase kehidupan yang lebih tinggi lagi seperti apa yang pernah diteorikan oleh Maslow.

Urusan Makan

 Urusan makan bukan urusan yang sederhana, misalnya ada makanan, menunya tepat dengan selera, kemudian dimakan dan selesailah sudah. Bukan itu. Seorang ibu membeli bahan makanan kemudian mengolahnya serta menyajikannya untuk keluarganya tentunya dengan maksud-maksud tertentu. Ibu ini ingin agar seluruh anggota keluarga merasakan makanan yang dimasaknya dengan penuh cinta. Secara eksplisit ibu ini juga menganjurkan kebersamaan dalam keluarga yaitu makan dengan menu yang sama, walaupun kebersamaan itu dulu idealnya diartikan harus makan semeja dan bersama, lengkap dengan kehadiran seluruh anggota keluarga. Urusan yang lain tentang makanan adalah kasus jamuan makan. Di dalam jamuan makan, baik yang tingkat tinggi maupun sederhana semisal prasmanan, kerapkali alasan orang untuk datang bukan mencicipi makanan saja, namun di saat jamuan berlangsung sering terjadi selingan obrolan antara dua orang atau bahkan bisa lebih, tergantung bagaimana waktu itu mereka ingin membentuk kelompok/komunitas percakapan. Untuk level yang lebih tinggi, jamuan ini hanya difungsikan sebatas artifisial saja. Yang utama adalah lobi-lobi, kerjasama, tukar informasi dan lain sebagainya. Bahkan, urusan makan (baca:pangan) bisa jadi alat kampanye untuk menjatuhkan lawan politik. Bisa saja terjadi, urusan paling gawat tentang makanan justru berpangkal bahwa perang saudara/suku/negara ditengarai lebih disebabkan karena memperebutkan daerah surplus yang kaya bahan makanan. Jadi urusan makanan bisa saja sederhana bisa juga membuat ruwet. Tergantung bagaimana makanan difungsikan oleh manusia.

Makanan untuk seminaris

Seminari sebagai komunitas seminaris, yang notabene calon imam, untuk menggodok diri mereka, mempersiapkan diri dan berserah kepada Tuhan seakan menjadi gambaran yang menarik untuk dilihat oleh orang awam. Bagaimana menu dan cara makan romo/imam sewaktu menjadi seminaris kerap menjadi pertanyaan orang awam, ketika mereka dihadapkan pada suatu kasus di mana imam yang makanannya (caosan dahar-nya) disuplai oleh awam menjadi rewel. Makanan ini gak suka, makan itu juga gak suka; sehingga kadang menjengkelkan bagi yang menyiapkannya. Tetapi kasus yang begini jarang terjadi, karena kebanyakan imam tidak biasa rewel dengan menu makanan. Ada makanan ya dimakan, tidak ada yo wis, ra popo. Tapi yang terakhir ini jarang sekali terjadi, karena biasanya para romo mesti kelebihan makanan atau kalau tidak ada makanan mesti membeli dalam jumlah cukup banyak untuk persediaan (baca : menimbun).

Dalam kehidupan seminaris sehari-hari di Seminari Garum yang serba rutin dan berulang setiap minggunya (siklus hidup mingguan) makanan bisa jadi merupakan alat untuk mengurangi kebosanan akibat hidup rutin. Bisa dikatakan alat variatif untuk mengurangi kebosanan, dikarenakan makanan difungsikan untuk menunjukkan ke-aku-an (jati diri), misalnya waktu makan jor-joran (banyak-banyakan) sambil bercanda. Sehingga kenyataannya pengantar berbahasa Latin di atas tidak berlaku bagi kebanyakan seminaris. Karena bagi kami urusan perut adalah urusan esensial yang urgent. Makanan sudah identik dengan gaya hidup. Dalam falsafah Jawa dikenal gaya hidup mangan ora mangan anggere kumpul. Justru yang ngetrend bagi seminaris itu sebaliknya, yaitu kumpul ora kumpul anggere mangan.

Dan sejauh pengalaman hidup di seminari, arti makan bisa dipisahkan dalam 2 sudut pandang. Pertama, makan besar, yaitu makan pada jam-jam tertentu yang telah ditetapkan oleh seminari (makan resmi), yaitu makan pagi, makan siang, dan makan malam. Kedua, makan kecil. Makan kecil ini (makan tak resmi) terjadi baik secara rutin yaitu potus dan cibus pada jam istirahat siang dan sore, maupun secara insidental. Misalnya ada pembagian hasil panen buah per wilayah, pembagian oleh-oleh orang tua, kue dari yang ulang tahun dan sebaliknya.

Kalau untuk makan besar, semua seminaris harus makan di ruang makan (refektorium/refter). Semua harus duduk mengelilingi meja yang jumlahnya 24. Satu meja dikelilingi 6 seminaris. Pembagian tempat duduk diatur oleh KU/WKU[1] secara adil. Setiap meja dikelilingi oleh seminaris kelas 1-3, sedang kelas 4 terpisah. Dalam sebuah meja ada nasi dan lauk serta sayuran. Untuk lauknya jumlahnya juga tertentu. Jadi misalnya ada 6 seminaris, lauknya bisa 6 bisa juga 12, kelipatan jumlah lauk tergantung besar-kecilnya lauk. Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap kali memulai dan mengakhiri makan selalu dengan doa, kadang diucapkan kadang dinyanyikan. Yang jadi pemimpin doa KU/WKU atau kadang bergantian.

Makanan langsung tandas … itu ciri khas seminaris bila lauknya sesuai selera. Dan jika ada kekurangan, maka KU/WKU mengambil nasi ke dapur dan menyediakannya di meja depan. Meja yang masih membutuhkan nasi akan mengirim wakilnya maju ke depan dan mengambil nasi. Kejadian dalam ruang makan seperti ini akan menimbulkan saling mengenal kebiasaan makan antar seminaris. Satu orang porsinya beda dengan lainnya. Kadang saking rakusnya, seorang seminaris bisa minta jatah lauk kepada rekan lain sekadar memenuhi tuntutan perut. Bisa jadi rekan yang dimintai jatahnya tidak terima, dan bisa juga dia mengalah. Untuk giliran mengambil nasi dan sayuran pun rekan yang rakus ini sering minta duluan dan langsung ngambil banyak. Dan yang lebih unik mereka cuek saja dengan keadaan ini dan malah bangga jika diingatkan.

Suatu ketika ada kunjungan ibu-ibu WKRI dari Paroki Hati Kudus Yesus Surabaya, selain membawa bingkisan untuk seminari mereka juga membawa makanan dalam jumlah banyak untuk dimakan bersama dengan seminaris. Rekan-rekan seminaris yang pasti seleranya bangkit melihat makanan bergengsi, serba daging melimpah ruah dan wah. Tanpa basa-basi, setelah berdoa, makanan tersebut langsung dibabat amblas. Ee, ya kok ndilalah … rasanya agak kecut, tapi ya tetep santap terus. Nah, malamnya ada kejadian unik. Seminaris yang terlalu banyak makan tadi mulai keluar-masuk kamar mandi. Satu kali belum terasa, tapi lama-kelamaan sampai pagi dan bahkan sampai siang sudah belasan kali mereka keluar-masuk KM. Sampai lemes rasanya. Kejadian semacam inilah yang membuat heboh, karena korbannya bukan cuma satu atau dua orang saja namun banyak sekali. Bagian poliklinik yang kewalahan menangani pasien semacam ini. Beruntung buat mereka yang gak makan banyak. Walau juga harus keluar-masuk Kamar Mandi (KM), namun tidak sampai hitungan belasan kali.

Lain lagi jika seminaris menyantap makanan kecil. Lebih unik dan jauh lebih mengesankan. Makanan kecil saat resminya adalah waktu istirahat sekolah dan juga usai berolahraga. Pengalaman waktu pertama masuk seminari adalah tentang dua bulan pertama. Saat itu kami semua diberikan potus[2] berupa makanan kecil dan minumannya yang bisa bikin teringat iklan susu coklat. Entah dulu romo-romo dapat suplai dari mana, beli sendiri, atau kemungkin besar sumbangan. Tapi setelah dua bulan, jaman kemakmuran tersebut sirna berganti teh biasa. Polah-tingkah waktu mereka makan dan minum juga unik. Ada yang ngambil melebihi jatahnya (yang lain gak kebagian) … misalnya kolak, sehingga KU/WKU harus masuk ke dapur minta tambahan. Dan ini yang sering bikin suster-suster marah-marah. Ada juga yang gak ngambil alias males berjalan dan pilih diam di kelas atau nonton TV pagi … Dan yang ini jatahnya juga sudah diberikan temannya sehingga teman yang kebagian tadi ngomong ke KU/WKU langsung ngambil dua atau bisa lebih, tergantung banyaknya teman yang memberi mandat agar ia ngambil jatah temannya. Kadang juga saat-saat begini juga dimanfaatkan oleh yang gak dapat mandat untuk jagong/menanti kalau-kalau saja jumlah cibus-nya kelebihan dan mereka akan royokan ngambil. Untuk sore hari jatah pengambilannya cuma satu snack dan segelas teh. Ada seminaris yang ngambil tapi diberikan temannya, ada yang ngambil langsung dua, ada lagi yang ngambil terus diremas-remas sampai hancur lalu ditabur di kolam ikan (mentang-mentang anggota “green peace” penyayang binatang, sudah diberi makan malah diberikan ikan), yang begini ini bisa bikin jengkel KU/WKU-nya.

Selain snack (potus et cibus), seminaris kadang juga memperoleh suplai makanan kecil dari buah yang ditanam antar wilayah. Buah-buahan yang ada misalnya jambu kluthuk, manggis, sirsak, pisang, rambutan. Yang bisa bikin rebutan adalah buah manggis. Biasanya karena buah ini gak dibagikan, maka seminaris yang ingin makan harus ngluruk bangun pagi-pagi sekedar untuk melihat apa ada manggis yang jatuh dan bisa disimpan untuk dimakan siangnya. Siangan dikit … sudah pasti amblas diambil seminaris yang lainnya. Untuk sirsak .. karena peminatnya terbatas .. maka yang suka saja yang ngambil walaupun itu bukan di wilayahnya. Tapi untuk urusan ini pakai ijin dulu ke Ketua Wilayah[3], minimal memberitahu anggota wilayah tersebut.

Seperti yang telah disebutkan tadi, selain waktu makan resmi ada juga waktu makan tak resmi. Dan jika ada makanan untuk diganyang beramai-ramai pastilah terjadi royokan. Nah, makanan ini didapat dari pembagian-pembagian atau urunan-urunan makanan yang meliputi:

  • pembagian panen buah/ikan per wilayah
  • pembagian kue/snack dari teman yang dapat kunjungan
  • acara informal RT (Ruang Tidur/slapen zaal/slapsal) dan wilayah
  • acara keakraban kelas (ulang tahun)
  • acara organisasi (VV, TS, atau sub-sub organisasi)

Pembagian panen buah dan ikan / ikan per wilayah

Misalkan ada pohon yang berbuahnya temporer dan sekali berbuah pasti banyak, maka banyak seminaris sudah ngedhipi (menjaga) buah-buahan tersebut, kapan masaknya, dan kapan saatnya untuk dipetik. Biasanya yang terjadi mereka bergantian memegang-megang buah itu tiap hari, dan bahkan sudah ada yang memperkirakan kapan saatnya dipetik (bakat paranormal). Ada lagi buah yang berbuahnya dalam kuantitas yang bisa bikin heboh, misalnya rambutan. Dalam hal ini pembagaian jumlah buah kepada seminaris lainnya tergantung kesepakatan anggota wilayah yang ditumbuhi  rambutan tersebut. Buah ini setelah dipetik secara massal, dikumpulkan lalu mulai dibagikan dan ditaruh di atas setiap tempat tidur yang ada di RT semua wilayah. Jumlahnya tergantung kebijaksanaan si pemberi buah, yang dalam hal ini ada yang membagi. Bisa saja setiap seminaris diberi jatah lima sampai sepuluh biji. Dan yang dapat jatah banyak tentunya yang punya wilayah. Setelah semuanya selesai dan masih ada sisa, maka buah-buahan tersebut disuplai ke dapur untuk dibagikan lagi. Hal yang sama terjadi juga pada panen ikan. Jadi ikan tersebut setelah dipanen akan langsung dibawa ke dapur agar dimasak oleh mbak-mbak dapur dan selanjutnya malam harinya seminaris akan makan dengan lauk ikan.

Pembagian kue/snack dari teman yang dapat kunjungan

Kue atau snack selain didapat dari jatah potus seminari juga didapat dari dua jalur. Pertama jalur orang tua atau saudara dan kedua dari jalur beli sendiri. Dari Jalur pertama ini, snack didapat dari oleh-oleh yang diberikan orang tua/saudara saat kunjungan hari minggu/raya atau hari-hari biasa dan spesial. Dikatakan biasa dan spesial karena aturan seminari hanya memperbolehkan orang tua/saudara berkunjung cuma pada hari-hari libur dan jamnya tertentu pula. Terkadang bukan cuma snack saja yang didapat namun lauk-pauk juga kerap terlihat pada oleh-oleh yang dibawa orangtua/saudara. Untuk pembagian oleh-oleh ini, seorang seminaris bebas menentukan pilihan pembagian … mau dibagi ke rekan-rekan terdekatnya, ke anggota kelas, ke teman se-RT atau ke anggota sub-organisasi yang diikutinya…, terserah dia. Tetapi yang sering terjadi seminaris tersebut membaginya ke anggota slapsal-nya maupun ke kelasnya. Kuantitas pembagian juga terserah ke seminaris itu. Tetapi kadang juga ada seminaris yang pelit alias menyimpan sendiri oleh-oleh tersebut. Yang jenis begini ini yang akhirnya sering dapat kecaman, olok-olok, dan buntutnya terus dijauhi teman-temannya atau kadang malah dibalas. Artinya jika ada temannya yang dapat oleh-oleh, maka ia gak akan diberi jatah. Tetapi kasus yang begini ini jarang terjadi, yang biasanya terjadi adalah keinginan untuk saling berbagi dan saling memberi sehingga teman yang pelit tadi tetep saja diberi, tapi kadang ada yang gak tulus memberinya, lalu pake disindir.

Waktu untuk membagi oleh-oleh itu biasanya terjadi saat sore hari kalau di slapsal, dan saat studi malam di kelas. Jadi dengan dimotori oleh motivasi yang berbeda seorang seminaris akan membagi oleh-oleh tersebut. Tetapi yang pasti oleh-oleh sudah terbagi merata, semua dapat dan yang paling penting hal itu menimbulkan kesan bagi penerimanya untuk minimal berbuat hal yang sama.

Lain lagi jika ceritanya berkisar pada oleh-oleh yang berupa lauk. Untuk yang begini ini, teknisnya seminaris yang membawa oleh-oleh memberitahu teman-temannya entah itu di kelas atau slapsal (sejauh pengalaman saya lebih sering teman sekelas) tentang jenis oleh-oleh itu. Lalu teman-temannya mengusahakan saat makan malam tidak makan banyak-banyak. Usai makan malam teman-temannya membawa cething/bakul nasi yang penuh berisi nasi berikut sendok, piring ke kelas atau disembunyikan dulu di ruang tidur salah seorang seminaris yang terdekat jaraknya dari kelas (biar gak ketahuan). Bila waktunya tiba, yaitu saat bubaran studi malam, maka mereka bergegas untuk mengambil nasi berikut perangkat kerasnya serta lauknya lalu dibawa ke kelas. Setelah semuanya siap dan diawali doa makan, maka santapan tersebut benar-benar menjadi santapan bagi mereka yang merasa makanan yang didapat dari ruang makan tadi masih kurang. Alias benar-benar (ke)lapar(an).

Acara informal RT (Ruang Tidur/slapen zaal/slapsal) dan wilayah

Snack dari ketua/anggota yang waktu itu dikunjungi dan dioleh-olehi. Untuk acara tertentu, seperti ulang tahun, ada makan besar, biasanya urunan. Yang dibeli biasanya daging anjing/RW atau nasi goreng. Keakraban yang sering terjadi adalah keakraban anggota slapsal. Karena mereka tidur, bangun, mandi, berpakaian masih bersama dalam satu ruangan yang besar. Satu RT ada enam tempat tidur susun, duabelas anak, sering juga terjadi dalam acara ini adalah bersifat keakraban (yang menghuni bukan hanya satu angkatan ada kelas 2 s/d 4) juga membicarakan program bersama.

Acara keakraban kelas (ulang tahun)

Acara ini adalah acara yang sangat istimewa bagi seorang seminaris yang berulang tahun. Menurut tradisi yang berlaku, bila ada seminaris kedapatan berulang tahun maka ia akan mendapat perlakuan istimewa. Diceburkan ke kolam ikan, diumumkan di ruang makan dengan gaya pengumuman yang unik, diberi waktu memimpin doa malam dan yang terakhir harus memberi snack atau makanan kepada rekan-rekannya. Dan ia harus rela menjalani proses ini. Untuk urusan snack, ia bisa kirim surat untuk minta makanan atau beli sendiri dengan cara sendirian atau mengajak satu teman kemudian menyelinap keluar waktu tidur siang atau titip pada orang dalam (karyawan). Snack ini lalu langsung dibagikan kepada yang berhak memperolehnya (persis zakat). Untuk urusan yang lebih besar lagi yaitu makanan pengenyang. Menurut kebiasaan terjadi, seminaris tersebut minta urunan ke rekan-rekannya. Dengan catatan seminaris tersebut akan membayar minimal separo dari jumlah makanan yang dibeli. Jadi misalnya harga lauk-pauk berikut minumannya Rp 10.000,00, maka ia akan nomboki/nalangi minimal separuhnya. Atau yang separuh bisa diambil dari uang kas kelas ataupun bila gak ada kas, anggota kelas tersebut bisa urunan. Kalau toh teman-temannya menyanggupi, maka bisa saja hari itu juga acara tersebut terlaksana. Tapi kalau tidak ya harus nunggu ada acara spesial kelas (pertemuan rutin) atau bergabung dengan ulang tahun temannya yang hari ulang tahunnya dekat. Makanan yang paling sering dikonsumsi adalah daging anjing (baca: RW) dan minumannya adalah legen kelapa. Untuk RW ini, karena tempatnya jauh dari seminari maka jalan satu-satunya adalah titip ke karyawan yang kami kenal dengan baik. Dan untuk minumannya gampang diperoleh karena lokasi pembelian legen cuma di belakang seminari jadi tinggal menyelinap keluar saja. Dalam acara makan-makan ini peralatan makan maupun nasi tetap dari meja makan dan diambil usai saat makan malam. Nasi dikumpulkan dari sisa nasi yang gak habis dimakan malam itu.

Acara ini meliputi doa, sharing antar teman, gitaran dan makan-makan. Gojlokan lebih sering terjadi di sini. Yang banyak makannya mendapat ejekan … tapi karena orangnya cuek ya tetap bablas-ae… terus makan. Kadang sambil makan ada seminaris yang menyuarakan suara anjing menggonggong (dilatar belakangi kesadaran bahwa mereka saat itu makan daging anjing sehingga serasa sudah menjadi satu spesies. Dengan kata lain Perilakunya sama). Setelah acara selesai ditutup dengan permohonan dan doa penutup. Beberapa teman mencuci piring, gelas dan bakul kotor serta sendok. Yang lain menaruh perangkat itu di meja dekat ruang makan agar keesokan harinya dapat diambil oleh mbak dapur dan dipakai lagi. Dari sini timbul pembagian tugas bersama. Acara ini sampai sekarang bagi penulis merupakan acara yang sangat berkesan, karena ulang tahun adalah saat yang istimewa dan itu dirayakan bareng temen yang punya tujuan hidup secara bersama-sama, walau harus ngrogoh dari kocek sendiri.

Acara organisasi (VV, TS, atau sub-sub organisasi)

Tidak jarang organisasi-organisasi ekstra kurikuler mengadakan makan besar, semacam slametan. Misalnya, Terra Sancta baru saja panen, mampu menjual sekian banyak produk dan menghasilkan sekian ratusribu rupiah. Untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerahnya, maka Terra Sancta menyelenggarakan program peningkatan gizi bagi anggota-anggotanya. Atau saat ulang tahun Terra Sancta, membuat rujakan untuk anggota dan mengundang seminaris lain yang bersedia ikut. Akan tetapi kalau pertemuan biasa belum tentu ada makan-makannya, kadang ada snack/kadang tidak.

Urunan bisa saja terjadi, bisa juga tidak. Untuk Viva Vox maupun Terra Sancta, dua organisasi ekstra kurikuler yang secara finansial paling kaya, gak usah urunan karena bisa diambilkan dari kas. Makan besar yang biasa dikonsumsi adalah nasi goreng Mbok Iro (Ma Tante[4]), minumannya bisa dimintakan ke dapur (teh).

Diplomasi perut

Yang terjadi dalam diplomasi ini adalah bagaimana caranya mengkomunikasikan pembagian makanan, seberapa besar urunan yang ditetapkan dan kapan harus terkumpul, dan bagaimana bersikap ke teman yang rakus, serta bagaimana caranya untuk mengisi perut kita dengan kebersamaan. Dari sini bisa menumbuhkan  persahabatan antar seminaris karena motivasi yang sama (pingin makan).

Bisa juga terjadi diplomasi ini berawal dari keinginan mengisi perut secara bersama tetapi dengan cara ilegal, misalnya melanggar bersama. Pelanggaran bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, misalnya keluar seminari pada jam-jam yang tidak pada saatnya, memakan korban bakaran (burung dara milik romo, ular, katak, dll) dan berbagai bentuk pelanggaran lainnya yang pada hakekatnya adalah upaya bersama untuk mengisi perut yang cepat kosong.

Bahasa persaudaraan

Jelas bahwa di dalam seminari pun kemampuan untuk memahami relasi (hubungan antar seminaris) terkondisi pada kenyataan bahwa mereka adalah satu saudara yang tengah menjalani kehidupan bersama, dan salah satu bentuk kehidupan itu adalah makan bersama.

Disadari atau tidak peristiwa makan bersama ini akan menimbulkan interaksi antar seminaris. Interaksi ini bisa positif dalam arti menimbulkan kesan baik dan mendalam, bisa juga negatif dalam arti bahwa interaksi ini akan membawa perpecahan. Dan hal ini sangat dahsyat, karena pengaruhnya pada kehidupan mereka selanjutnya. Tetapi walau pun akibat negatif (yang selalu dihindari ini) terjadi juga, diplomasi perut antar seminaris jelas akan menimbulkan kesan-kesan tersendiri yang akan terbawa dalam ingatan mereka. Baik ketika mereka masih berada dalam seminari atau ketika seminaris meninggalkan seminari sebagai tempat berproses bersama. Pada saat mereka satu persatu mulai terpisah satu sama lainnya entah keluar dari jalur yang tidak diyakininya lagi atau menjalani kehidupan spriritualitas yang berbeda, ingatan tentang teman-teman seperjuangan dan kenangan saat mereka terproses dalam siklus hidup seminari akan menimbulkan perasaan untuk ingin bersama lagi. Untuk menjalani proses sebagai saudara lagi. Perasaan ini bisa diwujudkan dengan berbagai macam cara dan perwujudan inilah yang disebut sebagai bahasa persaudaraan.

Jadi jelaslah kini, bahwa bagi seminaris diplomasi perut ini akan berguna :

  1. Di dalam seminari
  • mempererat persahabatan
  • saling mengetahui dan memahami pribadi satu sama lain
  • mencairkan suasana kaku antar teman yang sebelumnya berseteru
  • meredam ketegangan / konflik
  • menimbulkan kesan yang mendalam
  1. Diluar seminari
  • menimbulkan memori / kenangan
  • membangkitkan keinginan untuk bertemu lagi atau sekedar berkirim kabar (surat/fax/telpon, dll)

             Sebenarnya sangat naif jika mengatakan bahwa urusan perut saja mampu membawa persaudaraan keluar dari kompleks seminaris. Urusan persaudaraan lebih sering ditemukan pada dua atau lebih seminaris yang bersahabat karib semenjak berada di seminari. Namun bisa saja terjadi kesan mendalam tentang kehidupan seminari yang berbaur mengikuti ritme hidup seirama, menjadi teman dalam satu tujuan, menjadi satu perasaan emosi bersama saat melanggar, menjadi rekan yang bersahabat saat berbagi rasa akan mampu menumbuhkan bahasa-bahasa persaudaraan yang kita kenal. Setelah lepas dari pendidikan seminari dan terpisah antara teman yang satu dengan yang lainnya, keinginan untuk terus berkomunikasi lewat surat/ telpon, bertukar kabar dan pengalaman saat ketemu, mengadakan reuni adalah bahasa-bahasa persudaraan yang sampai saat ini masih terjadi. Mengapa bisa terjadi semacam ini? banyak jawaban akan timbul dari pertanyaan semacam ini tetapi satu jawaban barangkali bisa mewakili banyak jawaban. Jawaban tersebut adalah karena kita semua berproses bersama di seminari dan itu yang tidak akan terhapus dari memori maupun kehidupan kita. Dan itu nyata.

Jayalah, Seminariku !

Madiun, 10 November 1997

[1] Ketua Umum/Wakil Ketua Umum.

[2] Potus (Latin), arti sebenarnya minum. Digunakan untuk sebutan acara istirahat pagi dan sore. Lama-kelamaan diartikan sebagai makanan kecil, snack, yang dalam bahasa Latin adalah cibus.

[3] Dalam tradisi, untuk urusan kerja dibagi menjadi 3 wilayah. Wilayah I ada di ujung selatan, wilayah II di tengah, dan wilayah III ujung utara. Fungsionaris yang mengatur urusan kerja adalah masing-masing Ketua Kerja Wilayah.

[4] Ma Tante, dari bahasa Perancis. Artinya ‘tante saya’. Digunakan untuk mengganti istilah/kata “Mbok Iro” yang dinilai terlalu transparan. Mbok Iro adalah nama penjual nasi goreng yang cukup punya nama di kalangan seminaris.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *