Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

Surat kepada Kawan

Oleh: Fr. Ch. Tri Kuncoro Yekti, Pr.

Sabtu, 24 Januari 1998

23.10

Selamat malam, Kawan!

Benedicamus Domino, teman! DEO GRATIAAAS! Ha.. ha..ha.. masih ingat artinya? Mari kita santap makanan iniii! SERBUUU![1]

Tahun ini almamater kita berulang tahun. Konon akan diperingati secara besar-besaran sepanjang tahun ini. Meskipun sekarang  bangsa kita mengalami  krisis gawat, aku nggak mau maido peringatan seperti itu. Seminari Garum memang pantas memperingati perjalanannya yang sudah panjang ini. Namun semoga saja mereka yang jadi panitia itu sungguh ingat bahwa kata dasar memperingati itu “ingat”. Jadi kita berdoa semoga mereka berusaha menggali ingatan terhadap pengalaman Seminari Garum selama limapuluh(!) tahun dan memetik hikmah dari situ. Hikmah sejarah itu amat penting, apalagi di jaman yang semakin susah ini. “Jasmerah” kata guru sejarah kita. Jangan sekali-kali mengabaikan sejarah. Semoga hikmah belum jadi barang mewah.

Begini, Friend. Kamu masih ingat si Bajul, toh? Teman sesama underground, teman klandestin di seminari. Tadi pagi aku ditelepon teman seperjuangan kita dulu itu. Dia bilang mau memberi sesuatu sebagai kado bagi peringatan 50 tahun sejarah Seminari Garum. Jangan senyum dulu. Aku juga heran, lha wong dulu itu, dia paling mbajing, paling sarap, paling ndugal, paling pakar dalam menyebar antipati terhadap seminari, eh sekarang pingin memberi tanda cinta. Busyet dah! Tambah guendeng lagi, ketika kutanya adakah sesuatu yang berubah? Sambil ketawa dia menjawab, “Ini karya Roh Kudus!” Astafirullah Alazim! …………… Ide si Bajul itu aku ketawai sebentar, lantas aku lupain. Tetapi. Siang ini juga, saat aku mau pulang kantor, aku ditegur partner kerjaku. Katanya, “Hei, Dab (=Mas), sebentar lagi kamu ndak punya almamater! Seminari bakal bangkrut! Nih lihat artikel ini.” Terus aku lihat apa yang dia acungkan ke aku, satu artikel di majalah HIDUP. Judulnya Krisis Seminari Menengah. Lantas aku jawab temanku itu, “Jadi, benar, kan tindakanku klandestin di seminari dulu…? Seminari bangkrut? Biar aja, biar mampus sekalian!”

Sampai di rumah, teringat lagi teguran teman kerjaku. “Sebentar lagi kamu ndak punya almamater!” Tiba-tiba aku merasa eman kalau seminariku dulu itu benar-benar terancam ambruk dan bangkrut. Aku sempat terpekur lama merenungi pengalamanku dalam pelukan almamater itu. Bagaimanapun dia telah menjadi bunda pengasih yang mendidik aku hingga jadi seperti ini. Busyet, Friend! Aku jadi merasa berdosa karena selalu mengutuk bunda pengasihku itu. Aku jadi nggak rela kalau almamater kita itu sekarat. Tapi aku bisa apa untuk menolongnya? Kasih uang? Jangankan sodakoh, rumah ini aja masih ngontrak!

Sore ini aku telepon  Bajul. Katanya, yang mungkin kita bisa berikan adalah pengalaman dan refleksi kita untuk seminari. Katanya lagi, justru pemikiran-pemikiran segarlah yang sekarang dibutuhkan almamater. Baik yang berupa tawaran reaktualisasi wacana maupun tawaran wacana baru bagi seminari dalam jaman ini.

Ah, ide si Bajul itu terlalu jauh. Mungkin dia sedang terbakar oleh api Roh Kudus sehingga berani berpikir untuk menyumbang pemikiran segar. Apa ya diterima oleh mereka yang berwenang dalam penentuan kebijakan yang diambil seminari? Lagian kepada siapa sih, pemikiran segar itu akan diberikan? Dari dulu, sekarang dan sepanjang segala abad, orang “luaran” kayak kita begini kan nggak bakal tahu bagaimana sih persisnya pengolahan kebijakan dalam gereja dan seminari. Mungkin karena kita nggak bisa bahasa roh, ya?

Aku jadi sedih karena aku nggak tahu harus berbuat apa untuk mewujudkan perhatian dan balas jasaku kepada almamater.

Kamu sendiri gimana, Bang? Rasanya, kita-kita ini hanya bisa mengenang dan bernostalgia terhadap masa lalu kita, sambil berharap semoga Seminari Garum menjadi lebih baik, semakin baik dan menjadi terbaik.

Akhirnya. Ya sekarang ini, aku tahu. Realistis adalah sikap terbaik yang bisa kita pilih. Kita hanya bisa bernostalgia. Itulah bentuk partisipasi kita dalam peringatan setengah abad perjalanan almamater kita. Maka, ha..ha..ha.. mari kita buat ritual klandestin kita dulu. Masih suka simpan botol, kan? Mari kita ambil botol gepeng kita, angkat tinggi-tinggi dan teguk dengan rakus. Lantas kita mulai nostalgia kita.

Kawan, masih ingatkah kau dengan pengalaman-pengalaman yang terjadi di kelas? Kisah ketika kita (terpaksa) menjalani aktivitas kurikulumiah? Gimana, sih sebenarnya, kisah seorang ibu guru kita yang menitikkan air matanya karena ada kawan kita yang menyembunyikan soal ulangan? Aku masih ingat pengalaman kita di kelas tiga. Kita semua bertingkah seperti lelaki birahi menyemprotkan minyak wangi ke sekujur badan yang berpakaian rapi dan segenap sudut kelas gara-gara jam pertama sekolah adalah jamnya biologi dengan ibu guru subur toh lumayan manis juga. Ho..ho..ho.. inilah aksi lelaki sejati. Lantas pada hari suntuk yang lain, kita ngonceki degan, tepat di belakang kelas dekat gudang kerja, pas ada tugas nggarap soal. He…he…he…,itulah sekolahan yang paling at home! Amboi sedap pengalaman saat SMA! Pasti kamu juga ingat hobi apa saja yang berkembang dalam sekolahan macam almamater kita. Ada kawan kita yang punya hobi eyel-eyelan melawan guru. Ngeyel pertanda jantan, katanya. Ada yang lesehan dilantai kalau diajar. Dan kamu sendiri, paling suka melarikan diri ke tempat tidur yang berada tepat di sebelah belakang kelas dan mendengarkan pelajaran dari situ. Nyaman-ongku!

Dan ……………… astaga, Jesus Christ! Betapa lebih dahsyat lagi kelakuan kita waktu sekolah kelas empat. What an experience! Pengalaman sekolah takkan terlupa. Ada yang makan supermi mentahan, dan kali lain rujakan pencit. Atau waktu praktek latihan ngajar sekolah minggu di kelas, ada yang memilih metode ngajar dengan mbagi roti dan memakannya bersama-sama. Dan kita yang lain, yang berperan sebagai anak Sekolah Minggu, aujubillah, jauh lebih infantil dari pada anak Sekolah Minggu yang asli. Terus kita juga sempat bikin giliran berjaga dan ndelosor tidur di meja sewaktu pelajaran di kelas. Terus lagi, kita dulu suka berteriak-teriak histeris asal ada sedikit saja kelakuan atau kata-kata guru yang memancing dan membuka peluang. Ah, gila betul kita dulu itu, kok bisa ya ? Padahal kalau di stasi, kita sungguh berlaku saleh …he..he..he.. pancen bocah sarap! Santo malem minggu!

Kelakuan kita selama empat tahun, di ruang kelas pada sore dan malam hari lebih bervariasi lagi. Kamu masih ingat siapa yang suka menjadi Robin Hood, nyolong camilan di ruang rekreasi dan rapat guru, lalu membagikannya kepada teman-teman di kelas? Oh, kamu dulu itu suka nggoreng laron, mbakar cecak dan tokek untuk dimakan? “Bergizi tinggi! Kadar proteinnya bagus untuk meningkatkan IQ”, katamu dulu. Ha..haa… kamu ternyata berbakat pula menjadi Yohanes Pembaptis, si nabi alami. Lantas , spirit kelas kita yang seolah menganggap bahwa sepi dalam jam studi selama lebih dari setengah jam adalah tabu, sampai sekarang belum kumengerti juga, kenapa bisa begitu. Padahal udah berapa kali Romo Rektor, Romo Disiplin, Romo Kepsek, juga Ketua Umum telah menegur dan memberikan peringat “terakhir” supaya kita tetap mentaati silentium. Tapi hasilnya? SSS. Sama-Sama Stress! Kok bisa ya? Memang di kelas kita dulu rasanya kok ada berbagai macam kesibukan. Sibuk untuk bertingkah dan bersuara seenaknya. Angop dan ngentut, main pesawat kertas, uber-uberan, corat-coret papan tulis. Dan dalam melakukan itu semua, kita punya dalih! ”Supaya kerasan dalam perjalanan menuju cita-cita.” Hah, betapa sudah rasionalnya dulu kita, yaa?!! Dan siapakah dulu yang menemukan metode mbeli pangsit di seberang lapangan dengan sandi morse dari jendela di ruang pojok itu? Wah teman kita satu itu bisa jadi satu deretan dengan Tomas Alfa Edison penemu bohlam. Dan jangan pula lupa bahwa kita dulu sering mengadakan latihan konsentrasi olah raga bela diri saat studi malam. Mengatupkan telapak tangan di depan dada, memejamkan mata, duduk  bersila,..oi..oi.. ini calon pastur atau calon pendekar. Apa lagi yaa? Ah dulu kita juga pernah bikin rundingan untuk proyek iseng nyurati satu orang mudiki secara berbarengan satu kelas. Lantas lomba akeh-akehan maca novel baik resmi-legal maupun yang alternatif, novel bahasa Indonesia di perpust udah habis aku baca dalam satu tahun, siang malam. Diskusi tukar info dari satu wilayah ke wilayah. Dan dalam keadaan itupun, masih ada juga usaha menyediakan waktu khusus selama 10-20 menit sebelum akhir studi , sebagai “persiapan mental” menjelang waktu rekreasi.

Ooi, betapa panjang kisah kita di seminari. Begitu panjang perjalanan kita untuk menggeluti nasib di seminari. Dan alangkah lebih panjang lagi kesabaran hati bunda pengasih yang telah mendampingi kita. Almamater yang sabar menunggu kelahiran sebuah kedewasaan dalam diri anak-anak bengalnya. Sekarang, bagaimana bisa kita akan tega mengabaikan dan membiarkan sendiri bunda kita dalam perjuangannya, dalam sakratulnya. Memang kita percaya bahwa almamater tak pernah, mengaharap kasihnya kembali. Bahkan dia berharap supaya kita realistis, dan memberikan kasih kepada lingkungan di mana kita sekarang berada, seperti dia dulu telah lakuakan kepada kita. Tetapi ….maafkan kami, bunda pengasih.

Sebentar kawan, kita angkat lagi gepengan kita, teguk sedikit, nhaah. Hmmm … … Sekarang, aku ajak kau untuk mengingat pengalaman di kapel. Tidak jarang di sini kita mengalami suatu pengalaman rohani yang mendalam pada kekhusukan ataupun kemegahan misa. Tetapi yang sering dilakukan oleh gerombolan kayak kita ini yaa belajar tidur sambil menyerasikan tingkahnya dengan tingkah teman sampingnya yang berdiri-berlutut untuk misa. Lucu juga ya, dan wagu, kalau kita pikir tindakan gerombolan itu. Ya tipe klandestin kita ini. Lha wong setiap hari sembahyang, kok nggak pernah sekalipun ikhlas. Sembahyang marang Gusti kok kelihatannya terpaksa banget. Apa kata Romo Rektor dulu? Gratias supponit naturam? Rahmat rohani berakar dalam tindakan manusiawi? Cinta pada misa karena biasa ikut misa? Lho, itukan tresna amarga saka kulina. Ah, pokoknya dulu, kita itu emang diplepeki segala sesuatu yang tak bisa kita bantah. Pokoknya kita harus manut. Berarti harus ikut misa. Lantas terkantuk-kantuk dan tertidur, atau melamun, atau sekedar “penonton” dalam misa menjadi pengalaman yang biasa terjadi bagi seminaris macam kita. Komentar teman kita yang sekarang jadi sosiolog, kelakuan semacam itu termasuk perlawanan tersembunyi, suatu sistem resistensi kelompok ketika tak berdaya, suatu penolakan pasif. Mungkin benar juga, ya? ……. Dalamnya laut bisa diduga, isi hati seminaris siapa yang tahu?

Instruksi untuk mencintai misa memang sering terdengar, tapi hati seminaris, siapa tahu? Aneh juga, sih, cinta kok diperintahkan. Tapi aku juga lebih merasa heran terhadap romo-romo. Kok bisa mereka tetap tekun mendampingi dan memberi teladan pada seminaris yang kelakuannya kayak gitu. Untung, sekarang aku nggak jadi romo, apalagi yang di seminari. Betapa membosankan melihat kelakuan doa yang wegah-wegah macam itu. Alangkah berat beban bagi romo yang bertugas di seminari. Belum lagi kalau dipisuhi dalam hati oleh bocah-bocah macam itu. Kamu dulu pernah cerita kan, waktu berlutut di kapel kamu berdoa,”Asu-i romo iki, suwi tenan kotbahe.” Ha..ha..ha.. kamu berdosa misuhi orang yang bersabar padamu. Dasar pendosa! Sebenarnya kamu itu pernah tertarik untuk datang ke kapel apa nggak sih? Kalau aku, aku paling ikhlas datang ke kapel waktu acara renungan tiap Jumat sore. Renungan-renungannya manis-romantis-mistis. Mendayu-dayu. Mungkin karena aku dulu lagi kasmaran monyet sama si mudiki  tetangga sendiri.

Tetapi jujur saja emang acara itu banyak mengajari aku untuk mencintai refleksi. Whaa syukur alhamdulillah, aku sekarang masih cinta refleksi. Konon, sekarang ini banyak lho romo yang ndak mau refleksi. Ah, mungkin mereka belum tahu nikmatnya acara renungan Jumat sore di Seminari engGarum. Suasana misteriusnya itu lho yang berkesan. Begitu hening, romantis, suci, mistis … ah aku rindu itu. Apalagi suara lonceng besar di depan kapel itu, ah serasa membawa aku ke dekat surga. Kamu ngerasa itu nggak? Ah, kamu itu emang kurang religius kok. Kapel tak pernah kau rasakan kesuciannya, malah kamu manfaatkan jendela dan pintunya untuk keluar malam. Klandestin ya klandestin, Bang, tapi mbok ya agak hormat pada kapel. Iya, dulu itu aku sempat mangkel pada semua teman underground yang memanfaatkan kapel sebagai sarana pergerakkannya tapi sudahlah, dasar anak-anak ingusan sok suci dan sok berani.

Apa komentarmu untuk Ruang Tidur?! Itulah tempat kita cangkrukan, jagongan, kumpul-kumpul, rembugan, mangan-mangan, rasan-rasan, latihan olah raga, macam skipping, push up, atau shadow boxing. Dan baru kalau kita capek dengan macem-macem itu, kita gunakan ‘ruang tidur’ sebagai ruangan untuk tidur. Singkatnya ruang tidur itu sebenarnya ruang serba guna. Bandingkan saja dengan apa yang dulu seringkali dikatakan bahwa di dalam ruang tidur berlaku silentium magnum, baik siang ataupun malam. Bagaikan bulan dan matahari, sama memberikan sinar, tetapi tak pernah muncul bersamaan. Ruang tidur dan ruang serba guna itu sama nyata, tentu tak pernah muncul bersama. Akibatnya kita sering berpura-pura tenang kalau ada romo lewat, dan hal itu biasa kita lakukan secara refleks dan alamiah. Seperti bulanpun menyingkir kalau matahari telah datang. Di ruang tidurku dulu, pernah kami hampir tertangkap basah saat berbagi tawa ngakak, tapi untung insting kami masih bagus. Untung sungguh untung, kalau tidak, saat itu juga pasti kami kena ‘gasak’. Untunglah, dalam sekejap ruang tidur jadi sepi, tinggallah suara dengakur halus dan tenang. Tetapi romo rupanya tahu dan menggelegarlah teriakan Romo Rektor,

“MUNAFIK!! Saya tahu kalian pura-pura tidur!!”

Kebacut tahu sama tahu, kami tetap saja kemulan dan mendengkur. Orang pura-pura tidur, bagaimana bisa dibangunkan?! Maafkan kami, Romo. Peristiwa itu akan menjadi pelajaran hidup bagi kami di jaman serba tidak peduli nurani seperti sekarang ini. Orang yang pura-pura tidur bagaimana mau ditegur?! Kami berjanji, tidak akan berpura tidur terhadap teguran nurani dalam hidup kami.

Ruang tidur juga menjadi tempat paling rawan bagi setiap orang yang ingin membangunkan kita, entah itu romo atau Ketua Umum. Mereka harus pasang mata baik-baik dalam kegelapan di ruang tidur kalau tidak ingin kesandung jebakan tali atau ketiban keranjang cucian. Ruang itulah pula yang menjadi ajang pertempuran mental. “Pertempuran” antara para pejabat fungsionaris dengan para buto cakil bedigasan, wayahe tangi ora gelem tangi, wayahe turu malah lomba ngguyu. Cilik-cilik wis belajar dekonstruksi pembagian waktu, gedene dadi oopo? Ya jadinya seperti kita sekarang ini, hua..ha..ha..he..hee.. ora nggenah kabeh! Hah..haha..

Sekarang kita pindah ke refter! Refter adalah sumber dan puncak hidup kita. Dasar seminaris subversif. Bukan lagi ekaristi yang menjadi suimber dan puncak hidup kita, tetapi refter! Dan ada kebijakan hidup kita dulu yang menybutkan “urip ki saderma ngenteni mangan’. Untuk apa misa? Persiapan sarapan! Untuk apa sekolah? Tinimbang nganggur ngenteni potus dan makan siang. Untuk apa kerja dan olahraga sore hari? Sirkulasi isi perut, persiapan makan malam. Dst. Itulah pikiran kawula teleh, kaum hamba perut! Kamu pernah mikir nggak bahwa apa yang sering terjadi di refter adalah ekspresi dari benturan antara harapan dan kenyataan. Kita berharap dapat lauk yang lumayan tapi dapatnya cuma “boto” goreng. Dan ekspresi yang muncul adalah omelan-omelan dari mulut bocah kurang mangan, yang sering kali lebih pedas daripada sambel yang disuguhkan. Bukan hanya ekspresi secara lisan tapi juga dengan aksi. Kamu masih ingat teman semeja kita “berharap” dapat membuat mukjijat menghidupkan ikan pindang dengan menceburkannya kembali ke dalam air minum di teko, atau waktu lain di dalam mangkuk sayuran. Dan betapa marahnya suster dan mbak dapur. Kemarahan yang meluap dari hati seorang ibu yang melihat anaknya melecehkan makanan dari kemurahan Tuhan. Ah, seminaris .. seminaris. Hidup ini harusnya kan menjadi tempat kita belajar bersyukur atas segala yang ada. Bukannya menghina apa yang ada. Kasihan .. kasihan .. masih muda terbiasa menghina. Tapi aku bisa buat apa sekarang?

Realistis! Mari kita teguk lagi gepengan kita, kita lanjutkan nostalgia kita. Refter juga bisa menjadi panggung pentas sejuta aksi (-teror). Pengumuman yang dikumandangkan amat sering mengambil nada tegas dan memerintah bahkan mengancam. Aku pernah dengar cerita, ada teman kita yang datang di refter tidak untuk makan namun sekedar menunggu kesempatan untuk menyampaikan pengumuman dan terornya kepada orang-orang yang dia curigai sebagai pencuri tapi tak pernah ketemu bukti. Selepas seminari, aku pikir-pikir, di refter itu kita sering mengalami rasa dan resiko hidup bersama. Tiap kali selalu ada harapan mendapat makanan enak, sering pula muncul kecewa melihat yang tersedia, di sana pun ada teror, namun toh banyak juga muncul kegembiraan bertemu dan bercerita. Aku yakin bahwa sebenarnya kita sedang dididik dalam solidaritas terhadap nasib teman lain.

Sekarang aku ingin mengeingat beberapa pengalaman kategorial. Rokokan. Biasa kita menyebutnya budhalan. Waktu kelas satu aku masih terkejut dan hampir tak percaya bahwa merokok sebagai pelanggaran berat di seminari toh dilanggar banyak anak, dan mereka yang beberapa kali ketangkep pun masih boleh terus berada di situ. Akan tetapi di kelas empat tumbuhlah keyakinan ini: Hal merokok atau tidak itu adalah urusan pribadi, seminari nggak bisa campur tangan. Bahwa tetap ada larangan merokok tidaklah menjadi masalah. Seminaris akan tetap memiliki wilayah privat yang ndak bisa dijarah-rayah begitu saja oleh peraturan yang ada. Hah! Siapa mendidik aku menjadi demikian sinis dan subversif seperti itu? Mana aku tahu! Bisa jadi insting-lah yang menuntun aku pada pilihan seperti itu. Ah, kalau engkau sih, sudah cacat paru-parumu sejak awal masuk seminari. Nggak bisa hidup kalau enggak kena nikotin sehari saja. Kok bisa sih, kamu ‘sembunyi’ selama empat tahun? Ah, ya. Kamu dulu pernah bilang, sudah dapet katebelece.

Mbeleh dara. Busyet, ini pengalaman berorganisasi yang konkret dan lengkap. Motif, analisa sosial, perencanaan, persiapan, koordinasi pelaksanaan, evaluasi, hasil konkret, ada semua di dalam pengalaman mbeleh dara. Kamu pasti ingat bahwa motifnya anak-anak bergabung dalam rentetan kejadian itu, bermacam-ragam. Ada nafsu balas dendam kepada keadaan, entah keadaan macam apa yang mau dia balas. Ada yang sekedar iseng berbuat syukur-syukur berhadiah, daripada dirasani teman, lebih baik ikut aja. Aku sih sederhana saja, aku mudah lapar, tetapi tak mudah membiarkan lauk berkeliaran! Sedang teman intelek kita punya alasan bagus. Dia bilang, kita harus memungut pajak sewa tempat karena kandang burung itu ada di wilayah hidup kita. Sekarang jadi apa ya, teman kita itu. Analisa sosial juga dijalankan supaya aksi berlangsung rapi, terarah, dan tetap tersembunyi dari sebanyak mungkin pihak terutama yang berseberangan interest. Perencanaan dijalankan untuk mbagi tugas kerja sedetil mungkin. Koordinasi tetap dilakukan saat pelaksanaan terutama untuk mengantisipasi keadaan yang tak terduga. Setelah satu aksi dijalankan, segera disusul evaluasi dengan tujuan semakin suksesnya aksi berikut. Memang terbukti makin hari aksi bakar-bakar itu makin rapi. Dan tak pernah sekalipun tertangkap basah, bahkan sekedar ‘hampir’ pun tak pernah. Padahal berapa kali kita buat itu dengan jumlah bakaran yang makin banyak.

Peristiwa Sayonara. Inilah peristiwa sosial paling spektakuler yang pernah aku alami di Seminari Garum. Ah, aku ingin menenggak dulu kopiku …………………………. Peristiwa ini terjadi waktu kita mengantar kepergian salah seorang romo staf dari Garum ke tempat tugasnya yang baru. Kita mengarak romo itu, yang berada dalam mobil, dari garasi sampai pintu gerbang depan. Arak-arakan berjalan sambil menyanyikan lagu perpisahan “Sayonara”. Semua ikut bernyanyi, keras sampai mirip-mirip berteriak-teriak. Di tengah perarakan mulailah ada gejala huru-hara. Satu kata dalam lagu diplesetkan oleh sebagian dari kita. Kurang ajar! Sembrono betul dia itu! Kamu tahu siapa dia? Itu masih ndak apa-apa karena plesetan kata itu tak dimengerti oleh massa. Kemudian ada teman yang tidak tahu arti plesetan itu dan bertanya. Pertanyaan dijawab dengan dibubuhi pesan jangan sampai itu diteriakkan kepada teman-teman yang lain. Entah bagaimana kejadiannya tiba-tiba plesetan pertama diganti dengan kata lain yang memang menjadi arah guyonan, yang sampai saat itu belum terungkap terang. Memang sebenarnya kita tak pernah menghendaki untuk mengungkapkannya secara telanjang, karena pasti akan kehilangan nilai kelucuannya. Cuman kita dulu itu agak keterlaluan dalam guyon. Lupa mana yang masalah serius, mana yang sepele. Lantas, ya sudah. Jadilah kata itu amat nyata, telanjang, dan menghunjam bagi yang berkepentingan. Ndilalah-nya kok semua ikut menyanyi-teriakkan kata plesetan itu. Jadilah huru-hara. Suasana tak terkendali lagi. Nyanyian terasa menjadi liar. Seperti terjadi gelombang lisan amukan massa. Semua terkejut. Semua heran. Semua takjub. Semua takut. Kok bisa begini? Ada apakah ini? . . . Romo Rektor seusai perarakan itu mendatangi kita yang sedang latihan koor di kapel. Romo Rektor, dalam kondisi yang sangat emosionil, mengeluarkan pernyataan pertama tentang peristiwa itu. Kadar emosi yang amat tinggi kiranya amat mengganggu beliau untuk melihat dengan jujur dan jernih apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Segera, saat itu juga ditudinglah beberapa teman yang pantas dijadikan kambing hitam. Kasihan sekali tudingan itu diarahkan kepada mereka yang mengiringi nyanyian dengan gitar. Beberapa hari setelah itu seminari dalam situasi tintrim, serba tiarap. Kita bertanya-tanya langkah apa yang akan diambil oleh para staf. Ternyata tidak ada apa-apa lagi. Rupanya pengadilan sudah dilaksanakan dan vonis sudah dijatuhkan. Dan kita juga tak banyak mendiskusikan peristiwa itu lagi, mungkin takut atau merasa bersalah atau trauma, terkejap, silau pada peristiwa yang rasanya tak mudah terpahami itu.

Seingatku, malam sebelum hari itu, seusai acara resmi pelepasan romo, ada beberapa teman yang berkumpul biasa dan mendapat inspirasi nakal untuk memanfaatkan momentum itu dengan mempelesetkan lagi “Sayonara”. Untuk apa? Menurutku sih ya hanya sekedar iseng, ingin menikmati kelucuan. Dan pada saat itu semua bentuk kelucuan sudah pernah dicoba. Sedangkan rasa ketagihan lucu menuntut “dosis” yang lebih tinggi. Dosis pada golongan “vivere pericoloso”. Jadilah seperti itu. Eh, kamu dulu memberikan analisamu terhadap peristiwa itu. Bagaimana analsamu itu? Bahwa sebenarnya dengan peristiwa itu proses pendidikan di seminari sudah dinyatakan rubuh dalam tataran praksisnya oleh para pelaku peristiwa? Atau engkau mengatakan lain? Bahwa saat itu sudah tak ada lagi kepercayaan yang jujur dari siswa kepada lembaga seminari? Coba saja analisamu itu kamu tawarkan ke pada si Bajul. Mungkin dia tahu kemana dia harus salurkan analisa itu. Kalau aku sih hanya melihat dalam peristiwa itu, suatu bentuk ketagihan guyon pada taraf yang sudah tinggi. Tak lebih.

Metu bengi. Kegiatan ini bagiku nampak sebagai petualangan yang heroik-romantis yang amat menantang pada pandangan pertama. Berikutnya segera nampak bahwa tidak banyak hal menarik yang bisa dijadikan motif untuk menekuni kegiatan ini. Kesulitan pertama yang praktis saja sulit kutemukan jawabnya, adalah arah kegiatan. Mau apa kalau sudah di luar seminari saat malam hari di lingkungan Garum yang ndesa? Kalau mau makan sega goreng, apa aku selalu punya uang saku lebih? Itulah hambatan kedua yang memutuskan minatku untuk terlibat lebih jauh dalam kegiatan ini. Kalau lapar kan bisa saja makan apa saja yang telah “disediakan” oleh lingkungan seminari. Aku ingat kamu dulu itu termasuk yang paling jarang keluar malam di antara sesama klandestin. Kenapa, Cak?

Tema-tema pembicaraan. Kita banyak sekali melakukan pembicaraan di seminari. Apa saja sih yang pernah menjadi tema bicara kita? Sejauh yang aku ingat inilah tema-tema yang mendominasi pembicaraan kita. Cewek, figur-figur, rasa kecewa terhadap keadaan, impian dan keinginan bertualang.

Membicarakan cewek selalu menjadi tema yang bisa diterima oleh hampir semua teman kita tak peduli waktu dan tempat. Dengan bumbu imajinasi yang liar dan segar tema ini selalu bikin suasana jadi penuh dengan cekikikan. Masalahnya adalah pembicaraan semacam itu kadang terlontar pertanyaan, “dosa po ora ya, ngomong kayak gini?” Wajar saja ada pertanyaan semacam itu muncul, lha wong kita sering kok, dengar kata selibat. Calon imam ya berarti calon selibater. Selibater itu artinya ya tidak nikah. Berarti kita akan menjadi lelaki yang ndak boleh singgungan dalam perkara apapun dengan wanita. Titik. Nah! Padahal saat itu kita sedang berada dalam gelombang hasrat-keinginan pubertas serba heterogen. Muncullah pertanyaan semacam itu, “Dosa opo ora, ya?” disertai dengan rasa malu-malu campur rasa berdosa. Kebimbangan lantas membayangi pembicaraan tentang sesama manusia, sesama penerima anugerah keindahan, namun yang berbeda bentuk kelaminnya. … Jangan-jangan kita dulu itu terlalu banyak dihadapkan pada berbagai masalah abstrak yang seharusnya menjadi urusan orang dewasa. Selibat kok hanya berarti tidak nikah. Titik. Apa artinya? Aku pikir, kadang seminari itu curang juga mainnya. Kita nggak ngerti apa maksudnya, udah disuruh menghayatinya, tanpa pendampingan lagi. Eh, berapa kali sih, engkau pernah datang ke romo untuk urusan bimbingan rohani? Tiga kali dalam empat tahun? Bedebah. “Niat” buanget hidupmu?!! Pantes saja kalau jadinya rusak kayak kamu itu. Ha..ha..ha.. guyon, Om. Jangan dianggap serius.

Ngrasani figur yang kita lihat juga sering menjadi acara bicara kita. Kebanyakan diantara itu adalah figur-figur pastor yang pernah atau sedang kita lihat. Ada rasa ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan mereka, namun ada juga semacam rasa bahwa kita sedang membicarakan sosok yang harus kita hormati. Apakah karena profil romo menjadi mitos bagi kita dulu? Mungkin kita perlu tanya teman sosiolog kita. Kadang ketika kita tahu beberapa segi buruk dalam kehidupan para pastor, kita lantas seperti mencari rasionalisasi, entah dengan menganggap lucu atau unik atau tak menganggapnya sebagai hal yang penting untuk dibicarakan lebih lanjut. Sengaja atau tidak, kita seperti menjaga citra bagus para imam. Yaah, bagaimanapun kita masih orang jawa. Mikul dhuwur, mendhem jero. Tapi bisa juga gejala seperti itu dilihat sebagai benih-benih hasrat akan kemapanan. Daripada masuk ke dalam suatu ketidakpastian arah, karena kehancuran idola, lebih mudah bikin rasionalisasi untuk mempertahankan idola kita. Hah, aku juga bisa membuat analisa! Bener kan? Kalau begitu, sudah sejak muda-pun kita sebenarnya punya kecenderungan untuk mencintai status quo. Wah hebat! Aku akan berikan analisaku ini kepada Bajul. He..he..he..

Berikutnya, aku ingat bahwa kita dulu itu sering juga bicara tentang keadaan seminari. Tema ini bisa muncul dari model pembicaraan apapun. Aku sekarang heran, kok banyak sekali rasa tidak puas yang aku alami dalam pembicaraan di seminari dulu. Mungkin secara rata-rata kita dulu menyetujui dengan malu-malu ungkapan teman, bahwa “Seminari ki bejat”. Bejat diukur dengan apa? Dengan “estimasi” yang ada dalam benak kita. “Estimasi” yang kita bawa ketika kita masuk seminari. Lantas salahkah kita yang terus memegang estimasi yang jelas tak sesuai dengan fakta? Ada latarnya juga sih. Dalam pembicaraan formal sering diperdengarkan kondisi seminari dalam tataran ideal. Seminaris itu harus begini, tidak boleh begitu. Calon imam itu calon pemimpin gereja, jadi harus berbuat demikian dan jangan yang itu. Seminari itu tempat pembinaan benih panggilan, maka harus ada kondisi begini dan jangan yang begitu. Dan seterusnya. Dan itu semua memang cocok dengan estimasi yang kita bawa. Begitulah, estimasi kita semakin diteguhkan. Namun pengalaman harian kita semakin kuat menyatakan bahwa tidaklah demikian seminari. Yang dikatakan itu bagus dan aku setuju. Tetapi seminari tidak sama dengan itu. Wah kita dulu selalu pusing, setiap kali bicara tentang seminari. Mungkin itu resikonya jadi orang muda belia, ya? Gampang bingungan! Ah, apa seminaris sekarang juga seperti itu, ya? Aku akan tanyakan pada romo seminari, kalau nanti ada reuni akbar.

Mimpi dan petualangan. Cangkeman kita dulu juga sering diwarnai mimpi-mimpi dan keinginan kita untuk bertualang. Misalnya, Si “Retjo” dulu itu sering ngomong bahwa dia ingin jadi romo yang modelnya begini dan begitu, pokoke aku kudu dadi romo! Lantas si “A Seng” malahan ingin menjadi seorang ahli tukang ingsinyur dan si pendiam dari tlatah Samin maunya menjadi sosok manusia yang paling top sak indonesia-sak-ndonya. Aku dulu pinginnya apa ya? Jadi presiden ketiga Indonesia, kali ya. Mirip dengan iklan susu; “Akuu ingin jadi presiden, hebat bisa terbang.” Dengan mimpi semacam itu kita bisa memacu kekuatan untuk menanggung beban studi. Beban yang saat itu benar-benar nggak jelas gamblang apa paedahnya bagi cara hidup dan permasalahan kita saat itu.

Kali lain hasrat bertualang dan mimpi kitapun muncul dalam bentuk diskusi tentang cara-cara memukul, menangkis, menghindar, dan bergerak yang benar menurut aliran beladiri yang sedang kita pelajari. Kita semua pingin jadi jagoan. Kita semua pingin berkelahi (dan menang). Entah berkelahi dengan para pencuri yang sering melintasi atap asbes WC seminari atau siapalah yang mengganggu harga diri pribadi dan kelompok kita. Pokoknya kita memang lagi heroik-heroiknya. Maka itu kompetisi olimpiade olahraga dulu itu menjadi amat ketat persaingannya. Kemenangan dalam pertandingan berarti kemenangan harga diri dan naiknya gengsi kelompok. Dahsyat, bung. Hiya, kakimu itu dulu sempat patah kan, demi membela gawang dari serbuan kakak kelas yang audubillah gede, kekar, dan hitam badannya. Dan semua lalu jadi merasa sedih, merasa sakit juga, seakan kaki sendiri yang patah. Berhari-hari jam studi terlewati dengan kegalauan hati. Mungkin pula dengan rasa iri. Karena tak bisa berdekatan lama-lama dengan si mbak perawat yang manis itu. He..he..he.. Ah nostalgiaaaaa …….

Panjang sekali nostalgia ini. Dan sekarang sudah pagi. Aku harus segera pergi tidur sebentar sebelum pergi misa di gereja paroki. Aku dapat tugas membaca Bacaan Pertama. Gepenganpun sudah kosong. Capek sekali rasanya menggali ingatan sekedar untuk bernostalgia. Apalagi, kalau panitia di Garum itu berusaha menggali ingatan untuk memetik hikmah, amboi keras usaha yang harus dibuat. Semoga Tuhan menyertai mereka, dan semua orang yang berwenang terhadap nasib almamater.

By the way, my best friend, dalam semua pengalaman yang aku alami semasa di Garum ada pertanyaan besar yang kerap muncul dan menantang aku. Ketika melihat ragam cara hidup dan penyikapan yang nampak amat berbeda satu sama lain, manakah yang paling benar? Manakah satu pola idola yang mau aku teladani? Kalau dalam pengalaman keseharian, aku tak menemukan satu ideal yang pantas diikuti, tak mengherankan aku mencarinya dalam mimpi dan idealitas yang menjauh dari kenyataan. Bahkan menolak kenyataan. Kamu juga lakukan hal demikian itu kan? Kamu dulu pernah mengidolakan seorang pastor gondrong, pinter, gagah jagoan olahraga, suci hidupnya sejauh kau lihat. Sekarang pastor itu sudah keluar dan kamu sendiri jadi kuli disket. Bagi kita dulu, kenyataan pengalaman di seminari itu begitu kompleks dan membingungkan! Dan kita merasa sendirian mengalaminya. Aku juga ingat bahwa aku dulu sangat terpikat dengan pelajaran teori relativitas dari Einstein. Semua hal itu relatif, tidak ada yang disebut kebenaran mutlak, kebenaran itu tergantung dari sudut mana orang memandang. Sampai sekarang aku masih terpesona dengan relativitas yang membebaskan itu. Relativitas yang mendapat pasangannya dengan satu cerita kecil tentang singa dalam batu. Pernah dengar cerita itu? Begini. Ada anak kecil melihat seorang pematung sedang memahat sebuah batu besar. Heran si anak kecil, ”Mencari apakah dia?” Seminggu kemudian batu itu sudah berubah bentuk menjadi seekor singa. Nah si anak kecil menjadi amat kagum, lantas memuji, “Pandai sekali engkau melihat seekor singa dalam sebuah batu besar kemarin itu!” Jawab pematung,”Aku tidak pernah melihat seekor singa dalam seonggok batu besar. Aku melihatnya dalam hatiku. Dan aku membebaskan singa itu pada batu ini.”

Hari telah sungguh pagi, kawanku. Omnia tempus habent. Terima kasih menemaniku bernostalgia. Satu ini kamu boleh yakini. Aku takkan pernah menyesali pengalamanku di Seminari. Aku telah mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Aku takkan pernah lagi sibuk mencari tahu ada apakah di dalam sebuah batu. Tetapi, aku bertanya bagaimana aku mulai membebaskan singa, atau kuda, atau duyung yang ada di dalam hatiku pada batu yang ada di hadapanku.

Selamat pagi, kawan!

Proficiat, almamaterku, almamater kita.

Seminari Garum, Jayalah!

Minggu, 25 Januari 1998

03.47 WIB

kamar kost, jokja.

Salam klandestin

“Sya pi’I”

 

[1] Benedicamus Domino, Deo Gratias! Arti sebenarnya adalah ‘marilah kita memuji Tuhan, Syukur kepada Allah’. Dalam tradisi seminari ajakan ini biasa diserukan oleh pemimpin doa sesaat sebelum menyantap makanan (siang dan malam).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *