Oleh: Fr. Albertus Doni Kusuma SY
Sangat wajar bila para eksaminator alias para staf penguji seminari bertanya kepada setiap calon seminaris dengan pertanyaan inti dan mendasar, “Apa yang kalian cari di seminari?” Lalu entah karena kaget atau memang belum bisa menjawab secara spontan meluncur dari mulut saya jawaban yang sangat rohani, spiritual dan seringkali sangat muluk (yang tentu saja tidak menyentakkan telinga dan hati para eksaminator karena jawabannya terkesan klasik). Dan ketika saya renungkan kembali jawaban itu saya menggumam dalam hati, “Kowe ki ngomong apa?” (kamu ini sedang berbicara apa?). Sekarang, kalau saya ditanyai lagi dengan pertanyaan serupa saya akan menjawab secara singkat namun padat (dan tentu kali ini menyentakkan telinga) “mencari kelinci!” Lho kok?
Perumusan saya akan pencarian “kelinci” baru menemukan definisinya yang cocok dan mudah ditangkap maknanya ketika saya mempelajari filsafat di Jakarta. Sebenarnya makna pencarian “kelinci” ini sudah sejak awal ditekankan oleh para staf seminari, khususnya almarhum Romo Rektor saya, Romo Louis Pandu CM. Namun entah bagaimana situasinya saat itu, tiap kali Romo Pandu memberikan instruksi[1], selalu saja tidak pernah dapat saya tangkap maknanya. Seolah-olah semua itu masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Asas dan Dasar
Ada dua perkataan Romo Pandu dalam salah satu instruksinya yang sangat berkesan dan selalu akan saya ingat sepanjang hidup saya. Pertama, beliau berkata, “Seminaris bukanlah tempat rehabilitasi anak nakal. Seminari bukan tempat untuk mendidik anak nakal agar menjadi baik, melainkan untuk mendidik calon imam.” Kedua, “In Silentio et quiete proficit anima devota“ (di dalam keheningan dan ketenangan bertumbuhlah jiwa untuk mengabdi Tuhan).
Dua perkataan itu baru dapat saya tangkap maknanya ketika saya menziarahi hidup rohani selama dua tahun di novisiat Girisonta, Semarang. Ternyata apa yang diucapkan oleh Romo Pandu merupakan sikap dasar seorang beriman (apalagi bagi seorang seminaris). Dalam bahasa Ignasius, Romo Pandu sebenarnya saat itu sedang berbicara mengenai Asas dan Dasar (Latihan Rohani No. 23). Romo Pandu sedang berbicara mengenai tujuan masuk seminari dan sarana-sarana yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut.
Seminari adalah tempat untuk mendidik calon imam. Mengapa beliau mengkaitkannya dengan anak nakal, tentu membaca kalimat tersebut mesti ditengok konteks dan situasi saat itu. Rupanya menurut pengamatan Romo Pandu para seminaris zaman angkatan saya itu nakal-nakal. Mungkin dianggap sebagai biang kerok yang sering melanggar peraturan dan tidak disiplin, sering keluar malam (termasuk saya juga. Bahkan saya lebih apes lagi, keluar malam baru sekali sudah ketangkep duluan. Kalo nggak salah waktu malem-malem mau lihat layar tancep … eh ketemu Pak Saroniha. Sebulan setelah peristiwa itu baru saya dipanggil rektor atas tuduhan keluar malam. Aneh, ya? Kok baru sebulan setelah itu baru dipanggil. Padahal saya sendiri sudah lupa peristiwanya. Nggak bakat nglanggar kali ya. Tapi setelah itu sudah pinter lho … nggak sering ketahuan he..he..he..), suka rame-rame saat silentium, merokok, dan sederet pelanggaran lain (yang bisa ditambahkan sendiri di sini). Tidak mengherankan dalam situasi tersebut Romo Pandu kembali menekankan tujuan dasar seminari. Sedangkan sarana yang dipakai agar semakin terbangun cita-cita para seminaris untuk menjadi imam itu diperlukan sarana keheningan. Sebab memang saat itu seringkali para seminaris itu maunya omong terus, rame-rame, gitaran sampai malam-malam, ngerumpi pada waktunya untuk tidur dan sebagainya. Baru di novisiatlah saya dhong (Jawa, paham) akan apa yang dimaksud Romo Pandu tentang silentium, sedangkan apa itu tujuan seminari rupanya sejak saya masuk seminari memang sudah saya pahami seperti itu, bahkan terasa semakin lama semakin diperjelas. Tujuan seminari—tempat pendidikan calon imam—inilah yang mesti dipupuk sampai ke dalam dasar hati sehingga menjadi orientasi dasar yang mengarahkan cara bertindak kita. Itulah yang sekarang saya sebut sebagai mencari “kelinci”.
Kisah dari Padang Gurun
Mengapa saya menyebutnya mencari kelinci punya kisah tersendiri. Cerita ini berasal dari zaman para Bapa padang gurun. Dalam sejarah Gereja dikisahkan bahwa spiritualitas kristiani seringkali memperoleh bentuknya sesuai dengan perkembangan zaman. Ketika orang-orang Kristen sudah mulai hidup enak dengan kemapanan entah dalam hidup beragama maupun dalam hidup bermasyarakat mereka mulai kehilangan spirit atau roh untuk menghidupi nilai-nilai kristiani. Mereka mulai sambalewa, seenaknya sendiri. Maka beberapa orang yang merasa mendapat panggilan Tuhan ingin hidup menyendiri di padang gurun untuk sungguh-sungguh mau mengenal dan bergaul dengan Allah dengan menghayati sabda Yesus secara radikal ”Pergilah, juallah segala milikmu dan ikutilah Aku.” Mereka meninggalkan segala yang telah mereka miliki, lalu pergi ke padang gurun untuk bertapa, atau menjadi bapa pembimbing rohani. Dengan jiwa besar dan hati rela berkorban mereka meninggalkan hiruk-pikuknya kota lalu menyendiri di padang gurun.
Namun untuk pergi ke padang gurun dan menjadi pertapa tidaklah mudah. Suasananya sepi, dingin, makanan seadanya, tanpa lampu penerangan, setiap tatapan mata hanyalah padang gurun dan bukit batu. Dalam keadaan seperti ini, mereka bisa mengalami kejenuhan rohani. Kejenuhan ini bukan karena kesalahan mereka, melainkan karena situasi yang membuat mereka itu tiba-tiba kehilangan semangat yang berkobar-kobar sebagaimana ketika mereka pertamakali memutuskan untuk pergi ke padang gurun. Bayangkan saja, pemandangan juga tidak ada yang indah. Ke mana-mana mata menuju di sana hanya batu. Selain itu hanyalah fatamorgana. Dalam situasi ini mereka yang tidak kuat bertahan lalu kembali lagi ke kota hidup normal seperti biasa. Dalam konteks itulah, entah darimana, lalu beredar cerita-cerita tentang seekor anjing yang sedang mencari kelinci di kalangan para pertapa.
Para pertapa di padang gurun seringkali menyaksikan ada seekor anjing sedang mengejar seekor kelinci. Biasanya ada satu ekor anjing yang melihat kelinci itu pertama kali. Lalu ia yang melihat kelinci itu segera mengejar. Sementara itu sang kelinci berlari lebih cepat sambil masuk ke kampung lain. Begitu anjing di kampung lain mendengar ada anjing menggonggong sambil mengejar kelinci, si anjing kampung itu ikut juga berlari di belakang anjing pertama dan mengejar kelinci tersebut. Anjing kedua juga masih melihat kelincinya, namun dari jarak pandang yang lebih jauh. Hal yang sama juga terjadi pada anjing di kampung berikutnya anjing di kampung yang ketiga, keempat dan seterusnya sampai anjing yang terakhir tidak melihat kelinci sama sekali, namun ikut serta dengan penuh semangat ‘45 berlari kencang sambil menggonggong. Pokoknya begitu lewat kampung para pengejar itu semakin bertambah banyak dan gonggongan mereka semakin kencang. Prinsipnya lari cepat dan menggonggong. Lama-lama toh si anjing yang mengejar itu capek juga. Anjing kedelapan atau kesembilan yang sudah tidak melihat kelinci itu tiba-tiba ada yang sadar lalu segera berhenti. Mereka bertanya dalam hati, “Kita ini ngapain, sih? Lari cepat-cepat sampai ngos-ngosan namun nggak melihat apa yang sebenarnya kita kejar.” Dalam keadaan seperti ini, Bapa padang gurun bertanya, “Siapa diantara mereka yang paling lama dapat bertahan?” Tentu, anjing yang masih dapat melihat kelinci tersebut.
Jadi yang saya maksudkan sebagai “kelinci” di atas adalah semacam orientasi dasar dan tujuan yang akan mengarahkan segala cara kita bertindak dan cara kita mengambil keputusan serta pilihan-pilihan dalam hidup, sesuatu yang memberi kita kekuatan dan semangat dalam menjalani hidup. Sebagaimana anjing yang dapat melihat sang kelinci itu yang akan tetap dapat bertahan dalam pengejarannya dan Bapa Padang Gurun yang dapat kembali melihat orientasi dasar mereka mengapa mereka mau menyepi ke padang gurun sehingga tetap dapat bertahan, demikian juga masa-masa pendidikan di seminari merupakan masa pencarian “kelinci” bagi seminaris.
Lho, kok malah mencari “merpati”?
Sayang, waktu di seminari jarang terlintas dalam benak saya tentang pencarian kelinci. Mungkin karena di seminari tidak ada kelinci yang dipelihara, sedangkan yang dipelihara justru merpati. Merpati ini dipelihara oleh Romo Rektor. Saat itu mungkin yang muncul dalam hati sebagai pemeo adalah seminari merupakan saat untuk mencari merpati. Tetapi ternyata yang dicari tak hanya merpati dalam artian harafiah, maksudnya malam-malam seminaris menangkap merpati lalu dengan sembunyi-sembunyi di halaman WC belakang mereka membakar merpati tersebut dan jadilah malam itu malam pesta, tanpa peduli kalau keesokan harinya Pak Tukang yang di belakang kebingungan karena kayu untuk kursinya tiba-tiba telah menjadi arang; namun juga merpati dalam artian simbolis, seminaris lebih banyak mencari kenalan-kenalan mudiki yang lebih bisa memberikan kehangatan afeksi, mulai dari yang dekat-dekat seperti Sinta dan Yuli adiknya, Yeni, lalu dengan yang berbeda agama seperti Sinthia yang kakaknya mirip Ita Purnamasari yang rumahnya dipakai untuk jualan di ujung jalan samping Mbok Iro, penjual nasi goreng yang kondang di kalangan seminaris itu[2]. Bahkan kalau perlu membentuk semacam pen friend fans club dengan julukan kondang Yogi Fans Klub yang alamatnya nebeng seminari, yang ternyata kemudian katanya meluas sampai surat-suratan dengan para artis dan remaja di luar jawa. Kalau saat itu yang terjadi justru seminaris mencari burung merpati entah itu dalam artian harafiah ataupun simbolik, tentu merupakan suatu penyelewengan dari fungsi dan tujuan seminari. Tapi itulah yang terjadi.
Dalam proses pencarian kelinci tersebut seminari banyak memberikan sarana sehingga seminaris dapat mulai sedikit demi sedikit menemukan dan melihat “kelinci” yang mau dikejarnya. Entah itu lewat acara hariannya, misalnya, acara rohani (lewat hening/silentium dan acara-acara devotif), juga melalui sarana manusiawi, seperti olah raga dan dies vilae (jalan-jalan ke kampung). Namun rupanya pemahaman akan sarana ini kurang ditempatkan pada tujuan yang ingin dicapai. Sarana-sarana itu hanya berhenti sekedar pada perkembangan kepribadian, kemampuan intelektual dan bakat-bakat, misal, Mini Teater, gitar klasik, ketoprak dll; namun kurang mengintegrasikannya dengan hidup panggilan. Kalau saja seorang seminaris dapat melihat “kelinci” yang mau dikejarnya, maka ia akan dapat memahami nilai formasi intelektualnya di seminari. Ia akan berpikiran bahwa pendidikan yang dialaminya bukannya justru melemahkan panggilannya, melainkan justru memperkuatnya. Kalau ia memang benar-benar setia dalam panggilannya, maka ia juga akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik dalam studinya untuk Tuhan.
Seringkali terlintas juga dalam benak saya untuk mempertanyakan adanya kenyataan bahwa orang-orang yang hidup rohaninya kuat justru lebih cepat mengucapkan say good bye terhadap seminari. Tentunya bagi seminaris yang logikanya masih bau kencur langsung saja ditarik kesimpulan gegabah: “Betul, kan, apa kataku. Lebih baik belajar dululah daripada banyak berdoa tapi nilainya ambrol semua, lalu terpaksa keluar dengan tidak hormat.” Tentu pandangan dualistis seperti ini kekeliruan besar, seolah antara hidup rohani dan hidup studi terpisah sama sekali. Memang kalau kita hanya mengandalkan hidup studi, kita akan merasa kekeringan karena kita tidak tahu untuk apa kita belajar. Sama seperti anjing kedelapan atau kesembilan yang hanya ikut lari dan menggonggong tanpa mengerti apa yang sebenarnya ia lakukan. Demikian juga hanya berdoa membuat seminaris tidak realistis, karena ia seolah hidup dalam dunia firdausi yang tentu saja tidak ada tuntutan kurikulum dan tugas-tugas harian serta problema berbagai macam ujian. Maka pemahaman yang memisahkan antara formasio rohani dan intelektual di seminari merupakan kekeliruan besar. Kemajuan intelektual bukanlah ancaman untuk hidup panggilan dan sebaliknya. Maka sangatlah mengherankan bagi saya ketika baru-baru ini dalam pertemuan saya dengan beberapa seminaris Garum ada salah seorang seminaris yang mengatakan bahwa ada romo yang takut kalau kemampuan intelektualnya di bidang fisika justru akan menghancurkan panggilannya.
Yang lebih mengherankan lagi bagi saya, ternyata saat ini pun masih ada seminaris yang sama sekali secara sadar dan bebas tidak tahu sebenarnya apa yang akan ia cari di seminari. “Saya daftar begitu saja di seminari dan kebetulan diterima. Kalau ada tuntutan studi saya berusaha memenuhi dengan baik. Tapi untuk menjadi imam kok rasanya tidak pernah terlintas. Bahkan saya mau mencita-citakan apa saya belum tahu” ujarnya polos. Lho, kok bisa demikian? Mau apa to, kamu ini masuk seminari? Kalau hanya mau belajar kan nggak perlu masuk seminari? Apa yang demikian ini layak disebut seminaris, meski secara formal ia seminaris? Saya setuju dengan pendapat Romo Parmono (pernah TOP di Garum) dalam tulisannya di VIVA VOX yang mengatakan, seminaris bukanlah calon imam kalau ia tidak memiliki keinginan dan cita-cita untuk menjadi imam. Meski perlu kita ingat juga, sebenarnya menjadi imam itu sendiri pun juga sarana agar kita lebih efektif mengabdi Tuhan dan menyelamatkan jiwa-jiwa, melalui pelayanan sakramental.
Saat formatio di seminari menengah merupakan saat berrahmat di mana kita mestinya setapak demi setapak membangun orientasi hidup pada Allah. Orientasi atau “kelinci” inilah yang mesti kita cari. Apakah kita nanti menjadi imam diosis atau masuk dalam ordo religius entah itu jadi bruder atau imam urusan belakang. Janganlah kita tergesa-gesa mengatakan “Ini bukan panggilan hidup saya.” Seolah-olah ketika kita menjadi seminaris kita sudah secara definitif menentukan panggilan hidup kita. Bagi saya disposisi di seminari adalah justru untuk membangun dan menumbuhkan orientasi dasar yang baru saja tumbuh ketika kita memiliki niat untuk masuk seminari. Benih inilah yang mesti diperkuat. Jangan langsung mengatakan ini bukan benih panggilan saya, lalu karena kita malas memelihara dibuang begitu saja hingga mati, dan kita lalu mengklaim bahwa saya tidak punya benih panggilan.
Yang penting perlu ditanamkan kuat-kuat ialah bahwa seminari merupakan tempat pembinaan calon imam. Proyeksi diri atau gambaran diri sebagai calon imam ini mesti dipegang kuat-kuat. Kalau sampai gambaran imamat ini tidak terbentuk selama di seminari, dapat dikatakan bahwa ia telah gagal membangun orientasi hidup imamat. Namun bukan berarti ia gagal dalam menjalani hidup panggilannya. Mungkin ia justru memiliki orientasi panggilan lain yang lebih kuat dibandingkan dengan orientasi menjadi seorang imam. Kalau seminaris sudah memiliki orientasi kuat, ia tak akan khawatir terhadap perjalanan panggilannya di masa depan. Perjalanan panggilan itu tidak merupakan paket jadi yang tiba-tiba kita terima begitu saja. Ia adalah proyek antara Allah dan manusia yang saling bekerja sama melalui rahmat dan tanggapan bebas manusia. Dan tuntasnya panggilan ini mungkin baru bisa didefinisikan ketika kita menghadap Bapa dengan tetap mengenakan jubah kita.
Proyek Allah-Manusia
Kalau panggilan merupakan proyek agung antara Allah dan manusia, maka mau tidak mau mesti ada tiga pihak yang bertanggungjawab dalam proses perjalanan panggilan seseorang. Pertama, Allah sendiri yang memberikan rahmat panggilan itu. Ia yang memulai Ia pula yang akan menyelesaikannya. Kedua, seminaris yang terpanggil. Ia mesti bertanggungjawab agar benih panggilannya tetap hidup. Paling tidak ia dengan sekuat tenaga akan berusaha keras menumbuhkan dalam dirinya orientasi dasar yang kuat pada hidup imamat. Dan yang terakhir staf seminari sebagai mediator yang memberikan sarana-sarana agar panggilan Allah itu semakin berkembang, entah itu lewat sarana-sarana manusiawi maupun sarana rohani seperti bimbingan rohani.
Bagi saya, bila ada seorang yang memiliki keinginan untuk masuk seminari, bisa dijadikan tanda bahwa Allah memang sedang berkarya dalam diri mereka. Sebab tidak selalu setiap orang memiliki keinginan yang demikian, meski motivasinya pada mulanya sangat kurang dapat dipertanggungjawabkan sebagai seorang seminaris, misalnya, hanya mau belajar, atau memperoleh kedisiplinan yang baik. Adanya keinginan itu sudah merupakan awal yang baik. Apalagi kalau sedang mendaftar ia lalu diterima menjadi seminaris secara formal.
Namun perlu diingat juga, seminari bukanlah pelajar biasa, ia bukanlah asal anak SMA. Ia membutuhkan pendidikan khusus yang semakin mampu memupuk orientasi kuat akan hidup imamat. Di sinilah peranan formator seminari menjadi vital. Untuk menjaga benih panggilan yang memang berasal dari Allah sendiri staf seminari tidak bisa hanya merupakan orang-orang “buangan” yang daripada tidak ada karya yang bisa dipegang lebih baik “diseminarikan”. Kata di “seminarikan” merupakan kata yang sangat tidak tepat, dan lebih baik sejak sekarang tidak perlu kita gunakan lagi karena konotasinya negatif. Padahal dibalik kata tersebut tersembul tugas yang tidak ringan, menjadi partner Allah dalam membantu seminaris memupuk orientasi hidup imamat. Karena itu, staf formator sebenarnya justru orang-orang khusus yang memang dipersiapkan untuk pendidikan para seminaris. Ia mesti merupakan orang rohani, yang berarti memiliki komitmen yang kuat akan hidup panggilannya, dan hal ini ditunjukkannya dalam keteladanan terhadap para seminaris. Demikian juga ia meski kuat dalam hidup intelektualnya sehingga bisa memberikan pemecahan dalam persoalan yang sederhana sampai persoalan yang kompleks.
Tentu merupakan kekonyolan bagi saya, bagaimana mungkin ada seorang guru di seminari kemampuannya hanya lebih pintar semalam dari para seminarisnya? Yang terjadi pasti sudah bisa diduga. Bukan adu otak tapi adu otot. Misalnya saja guru Bahasa Latin. Saya pernah mengalami pelajaran Bahasa Latin diajar oleh seorang Romo. Padahal saya tahu persis, dia nggak begitu bisa Bahasa Latin. Kalau memberi tugas dan memberi pertanyaan hanya mengurutkan nomor soal dari buku, sehingga mudah diterka oleh seminaris. Kalau seminaris salah menjawab atau salah terka karena urutannya dibalik, ia disuruh push up. Nah, terbukti kan, bukan adu otak tapi adu otot?
Dari beberapa perbincangan saya dengan beberapa guru seminari baru-baru ini, masalah tenaga pendidik yang memang perlu dipersiapkan sejak dini ini memang sampai saat ini semakin kurang. Rupanya gereja dalam hal ini staf seminari kurang memperhatikan aspek penting ini. Padahal, tentu saja, tenaga pengajar di seminari makin lama makin tua dan perlu regenerasi. Siapa sekarang yang bisa menggantikan Pak Sarwata almarhum dengan ilmu sejarahnya yang sangat kuat itu? Siapa kelak yang menggantikan Bapak Saroniha dengan kepiawaian fisikanya? Siapa yang menggantikan Pak Pur?
Memang, menjadi staf pengajar di seminari bukanlah tugas yang ringan juga enak. Masih mending tugas di paroki yang banyak menawarkan kehangatan afeksi, dikelilingi banyak mudika/I, orang tua, ibu-ibu dan anak-anak dll. Sedangkan di seminari selain ketemunya cowok melulu juga seringkali makan hati. Namun keadaan yang demikian tak perlu membuat kita lena, sebab ini adalah tugas panggilan kita semua sebagai orang-orang yang mesti bertanggungjawab pada orang-orang yang telah dipanggil oleh Allah menjadi pegawai di kebun anggurnya. Karena itu, pada usia emasnya ini lebih baik bagi kita kembali mempersiapkan daya-daya kekuatan kita menghadapi tantangan di masa depan.
Sebagai partner Allah staf seminari memang bertugas mendampingi seminaris sebagai gembala dalam mencari “kelinci” (ingat, bukan mencari merpati, lho). Sebagai gembala yang saya maksud adalah memberikan pengharapan kuat agar seminarisnya mampu menangkap kelinci itu, kalau kekuatan mereka semakin lama semakin habis dalam proses pengejaran kelinci itu. Bayangkan saja, meski anjing pertama tetap dapat melihat kelinci, tapi kalau kelincinya lari lebih cepat dan lebih gesit si anjing kan akan frustasi juga? Nah, bila ini terjadi lalu tugas staf seminari sebagai gembala-lah yang memberikan pengharapan, dan tentunya jaminan ini berasal dari Allah sendiri, bahwa Sang Gembala itu akan memanah si kelinci kalau si anjing sudah kelelahan. AMDG.
[1] Salah satu acara rohani, sore hari. Biasanya diberikan oleh rektor. Dalam acara ini rektor biasanya memberikan wejangan-wejangan mengenai tata-cara hidup dan hidup di seminari (ed.).
[2] nama-nama diatas bukan nama sebenarnya
