Kami ingin menafsir ulang pengalaman yang dulu dengan terang pandangan dari “kami-yang-sekarang”. Kita semua tahu bahwa kita toh selalu berkembang bersama dan di dalam sejarah. Perkembangan yang kita alami pasti mempengaruhi cara kita memandang dan menafsir suatu peristiwa. Satu babak hidup kami, terjalani di seminari. Pengalaman di seminari itu bagi kami menjadi sesuatu yang sungguh dahsyat, menyilaukan, sekaligus sulit terpahami dengan tuntas. Sekarang pengalaman itu rasa-rasanya kok terdengar seperti sedang merintih dan memohon kepada “kami-yang-sekarang” untuk dituntaskan kebermaknaannya. Maka bergemalah pertanyaan-pertanyaan ini: Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa keadaan itu demikian? Dan apa artinya itu semua dalam perjalanan ziarah hidupku?
Dengan begitu sebenarnya, pertama-tama, kami ingin mencoba mempertanggungjawabkan pengalaman itu kepada diri kami sendiri. Pertanggungjawaban itu menuntut kerja ekstra. Usaha ini menuntut tenaga lahir dan batin lebih banyak lagi, lebih-lebih supaya hidup dan tugas-kerja yang sekarang aktual kami lakoni tidak mengalami pelecehan makna. Ndilalah kersaning Allah, ada komunitas WAGU yang memberikan suasana “aman” dan menerima apa adanya. Atmosfir komunitas inilah yang mendorong dan kemudian menyokong usaha pertanggungjawaban sejarah ini. Dalam komunitas semacam ini kami boleh berbicara dan mengungkapkan segala pengalaman berikut tafsirnya dengan bebas. Kami boleh mengalami jatuh bangun dalam pilihan makna tanpa terlalu dirisaukan oleh ancaman penolakan eksistensi oleh lingkungan.
Arah selanjutnya yang kami tempuh adalah menawarkan pertanggungjawaban ini kepada orang lain terutama kepada mereka yang hidupnya pernah atau sedang atau akan bersinggungan dengan “peristiwa seminari Garum”. Pilihan arah ini memang mengandung resiko tertentu. Tetapi kami yakin bahwa mereka bisa belajar dari sejarah yang kami alami. Apakah “peristiwa seminari Garum” yang dulu berbeda dengan yang sekarang, juga dengan yang akan datang tidaklah terlalu perlu untuk dipersoalkan. Mereka tetap boleh dan bisa (kalau mau) belajar dari sejarah.
Sekarang kami ingin bicara sedikit tentang sifat tafsiran sejarah ini. Apakah tafsiran yang akan kami ungkap itu mampu menangkap dan menggambarkan makna dari seluruh segi “peristiwa Seminari Garum” (yang dulu itu)? Tentu saja tidak! Lantas? Kami sadar bahwa usaha ini hanya menyentuh beberapa bagian saja dari keseluruhan dan kompleksitas peristiwa. Yang kami usahakan adalah bahwa tafsiran itu nantinya sungguh tepat dan kena dengan sebagian dari kenyataan “peristiwa Seminari Garum”. Bagian lain biarlah diperkaya dengan
pertanggungjawaban sejarah oleh orang lain. Apa kriterianya supaya tafsiran itu tepat dan kena? Tafsiran semacam itu bisa semakin dipertajam supaya tepat dan kena pada kenyataan dengan jalan “dibenturkan” kepada tafsiran lain.
Tegasnya; sharing, dialog, diskusi, refleksi bersama adalah jalan untuk
mempertajam tafsiran supaya sungguh kena dan tepat dengan kenyataan. (Bukankah kenyataan selalu bersatu dengan tafsiran?)
Rangkaian tulisan ini adalah “bacaan untuk orang dewasa”. Rangkaian ini memuat tawaran-tawaran refleksi (dari sudut tertentu bisa jadi dianggap bersifat “tabu” dan “vulgar”) yang menuntut para pembaca untuk mengadakan refleksi pribadi untuk menuntaskan pemaknaan pribadinya terhadap peristiwa Seminari Garum. Dan memang inilah maksud kami, mengajak pembaca untuk berdialog tentang peristiwa Seminari Garum. Suatu peristiwa yang membawa kita, para alumni, ke dalam suatu “bahasa” yang sama.
SEPIRING GADO-GADO
Bagian berikut adalah “sepiring gado-gado”. Perkenalan singkat berikut semoga berguna untuk mengantar anda supaya bisa lebih menikmati rasa “gado-gado” ini.
“Mencari “Kelinci” di Seminari Garum” kami pilih untuk mengawali
perbincangan ini. Kali ini Albertus mencoba menampilkan pergulatan dan kemudian menemukan suatu motivasi yang sungguh “dimiliki” secara pribadi untuk menekuni panggilan untuk menjadi imam. Proses pemurnian motif yang sungguh pribadi ini dirasa tak terjadi dalam pengalamannya di seminari menengah.
Yekti menghadirkan sebuah surat berisi rangkaian kisah seorang eks-seminaris yang terlibat dalam sebagian kegiatan-kegiatan “bawah tanah” di seminari. Pada akhir surat itu, muncul satu tawaran pemaknaan terhadap peristiwa seminari Garum.
Sebagai orang yang sedikit banyak pernah tahu tentang gerakan “bawah
tanah” para seminaris, kiranya tepat apabila Josie mencoba men-share-kan refleksi terhadap kegiatan yang pernah dilakukan para seminaris. Salah satu pesan yang kiranya hendak disampaikan olehnya adalah bahwa perhatian pada dimensi struktural diperlukan oleh seseorang untuk membantu memperluas pemahamannya terhadap dinamika seorang seminaris. Dan sebaliknya, pemahaman terhadap dinamika seorang seminaris bisa membantu pemahaman terhadap dimensi struktural seminari.
Nah, ini salah seorang jago makan mau mengungkapkan nilai-nilai dan
pemaknaan yang bisa dirumuskannya. Nilai persaudaraan ternyata bisa muncul di dalam kegiatan yang nampaknya sepele: makan. Tommy mendeskripsikan beberapa acara makan yang biasa berlangsung di Seminari Garum. Dari peristiwa dia mencoba memetik makna.
Sunyoto menawarkan satu dimensi pengalaman lain dari peristiwa Garum. Secara terus-terang dia menyoroti peranan figur-figur dalam konteks pengalaman dan perasaan pribadinya selama menjadi seminaris Garum. Dia mengolah tinjauan pengalamannya secara tajam untuk menunjukkan betapa besar peranan figur romo bagi seorang remaja yang menjalani hidupnya sebagai seminaris. Dan dengan keberanian khas seorang jebolan Garum, dia memilih untuk menawarkan secara telanjang pengalaman hidupnya.
Sementara itu Wendyat ingin meneropong praktek pengorganisasian dalam seminari. Namun, posisi pengalamannya, yang selalu ‘awam’ terhadap pengorganisasian seminari, dia sudah mendapatkan tingkat kesulitan tersendiri untuk menembuskan pandangan kepada praktek organisasi seminari. Dengan menggali pengalamannya dulu sebagai seminaris, dia mencoba memperhatikan praktek organisasi apa yang terjadi di seminari. Sebagai seminaris, dia memang tak pernah berpikir secara khusus tentang organisasi, tetapi dia bisa merasakan sesuatu gelombang pengalaman yang berasal dari praktek pengorganisasian
seminari. Dalam tulisannya, dia menawarkan refleksi antara teori dari kampus dan pengalaman pernah hidup dalam sebuah organisasi seminari. Refleksi ini dia sampaikan dalam sebentuk cerita tentang mimpi (bunga tidur!) ketika seseorang menjadi rektor di sebuah seminari.
Widanto memulai tulisannya dengan menggali salah satu cuilan pengalaman panggilan hidupnya. Satu saat ia merasakan ketertarikan terhadap penampilan satu kelompok seminaris. Dia terpesona dan tergerak untuk masuk dalam pesona itu. Lalu dia melamar seminari. Sekarang dia sadar bahwa itu adalah keterpesonaan pada suasana komunitas. Lalu apakah yang dia alami selama di seminari Garum? Berjumpakah dia dengan sumber pesona awal itu? Dia mengolah pertanyaan itu dengan menganalisis pengalaman hidupnya di dalam
seminari.
Cahyono,berusaha melihat seminari sebagai sebuah lembaga dengan
sebuah tujuan-visi yang sudah jelas serta bagaimana pencapaiannya melalui strategi-strategi yang berlangsung atau dapat dijalankan di seminari. Semuanya didasarkan pada suatu pengalamannya serta tulisan-tulisan staf yang pernah membina di Seminari Garum. Tak lupa pula garis kebijaksanaan gereja – Dokumen Konsili Vatikan II – menjadi pijakan dalam tulisannya.
Satu tema menarik ditawarkan oleh Dian Sano, yaitu suatu “ekspresi semi-wajib” yang dijalani oleh seminaris. Dia merasa bahwa sebenarnya kondisi seminari mempunyai potensi yang amat besar untuk mengembangkan kemampuan intelektual para siswanya. Tetapi potensi itu belum sepenuhnya tergali. Yang kemudian dia rasakan adalah bahwa dia mengalami perkembangan pesat di bidang pengendalian diri. Pengolahan pengalaman pada bidang pengendalian diri itulah yang dia tawarkan dalam tulisannya. Sungguhkah perkembangan pengendalian diri itu sudah tuntas berakar dan menjadi bagian otentik dalam pribadi seorang seminaris? Dengan memanfaatkan data wawancara dan sharing teman seminaris, dia mencoba mengolah jawaban.
Dengan pendekatannya Alex mencoba berargumentasi bahwa bukan saatnya lagi seminaris diarahkan hanya untuk menjadi calon imam. Akan tetapi, satu alternatif diajukan, seminaris dididik menjadi kader-kader muda gereja, entah menjadi imam maupun tidak.
Didalam pergulatan hidupnya ditengah gemuruh kesibukan aktifitas kuliah dan bertahan hidup, Bayu merenungkan satu sikap realistis-pragmatis untuk mengubah suatu idealisme yang tak mampu lagi menjawab permasalahan konkretnya,suatu idealisme yang dulu diperolehnya di seminari. Itu yang ditawarkan Bayu dalam tulisannya.
Demikianlah,
Umpan telah dilempar ke air.
Adakah ikan akan terpancing,
atau hanya sekedar gelombang kecil yang menyebar dari jatuhnya umpan ke air?
Kami menanti.
Terima kasih.
Tim WAGU
