Oleh: Y. B. Mangunwijaya
PAX CHRISTI !
Permintaan untuk menulis suatu epilog bagi bunga rampai berkenaan dengan Yubileum 50 tahun Seminari Menengah di Garum kepada saya ini sebenarnya salah alamat. Saya sayang sekali dan merasa bersalah kok belum pernah melihat Seminari itu, apalagi mengalami kehidupannya. Sekarang tinggal menyesal karena usia lanjut sudah membuat saya malas bepergian, maklumlah sudah masuk dalam fase yang lazim bagi kaum lansia, “nyusuh” , bersarang. Apa lagi di Garum, kehidupan Seminari Menengah di Mertoyudan sekalipun tempat pendidikan calon-calon imam keuskupan agung saya, Semarang pun, hanya saya alami dua tahun sesudah saya bersekolah di luar sampai tamat di SMA, dengan pengalaman hidup zaman Jepang serta Revolusi yang jelas serba profan tidak “saleh dan suci”, penuh pergolakan dan pengalaman yang tidak ada sangkut paut formal dengan pendidikan imam, misalnya ikut-ikutan menjadi gerilyawan dsb, dsb.
Selain itu saya kelahiran 1929, dan jadi tergolong generasi yang sudah lengser maupun longsor, paling banter lungsur ge-langsar-an. Ini saya tulis tanpa dilebih-lebihkan, karena terus terang saja saya sudah terasing dari generasi imam sesudah 1959 yang di didik lain sama sekali dari generasi saya dan sebelumnya; dengan rasa yang sudah amat lama sumarah pasrah karena tidak paham tetapi sadar bahwa Roh Kuduslah yang akhirnya menuntun segala yang tidak kita sukai, sedangkan diputar di balik, saya toh cuma kelasi kerocuk kecil dalam Armada Gereja Indonesia. Sungguh bukan laksamana atau kapten yang bertanggung-jawab atas garis arah dan praksis kehidupan Gereja di Indonesia sesudah, taruhlah, tahun 1963, tahun wafatnya Mgr. A. Soegijapranata alm. yang telah berkenan mengambil risiko besar mentahbiskan saya.
Namun karena saya tidak pernah tega menolak permintaan generasi muda, apalagi para penyusun bunga-rampai kenangan Seminari Garum yang muda idealis dan pecinta Gereja dan yang merasa berhutang budi kepada jasa seminari mereka dulu, maka sulitlah bagi saya untuk menolak; walaupun saya sadar mestinya orang sudah tua itu sebaiknya diam saja. Tetapi ihtiar ini pantas membuat kita gembira dan berbesar hati, sebab usaha seperti ini belum pernah saya dengar dari para alumni Alma Mater saya di Mertoyudan, entah mengapa. Yang jelas ialah bahwa terbukti Seminari Garum mampu membuahkan murid-murid, entah jadi atau tidak jadi imam atau biarawan, yang cerdas, pemikir dan perenung yang serius lagi terang-terangan ataupun diam-diam mencintai bahkan sering rindu kepada Alma Mater mereka di Garum. Dengan kata lain, ternyata Seminari Garum lembaga pendidikan yang berkualitas sebab jika para alumninya rindu kepadanya, itu berarti sistem pendidikannya, entah apapun nama metodologinya, “modeling atau conditioning atau improvisizing atau liar, terserah, ternyata, Benedicamus Domino, Deo gratias, berhasil juga”.
Sumbangan isi kebanyakan ditulis oleh mereka yang justru tidak menjadi imam kecuali satu orang saja; tiga masih frater dan lainnya alumni yang merasa lebih tepat berjuang demi Kerajaan Tuhan sebagai awam. Mereka bercerita tentang peristiwa-peristiwa pengalaman nun dari tempo dulu yang menarik, yang selalu terkenang, yang aneh, yang buruk, yang nakal, yang tidak pantas, yang indah, yang memuakkan, pendek kata yang membuat mereka merenung dan merefleksi tentang tahun-tahun penuh idealisme di Garum namun juga penuh kekecewaan. Ada yang tidak berniat menggali terlalu dalam, tetapi ada yang mengajak berteologi pastoral secara kritis dan serius, untuk apa dan fungsi apa yang diemban oleh seminari mereka demi kehidupan mereka pribadi maupun demi Gereja. Belum lengkap representatiplah lukisan peristiwa-peristiwa tipikal asrama sakral yang bermakna eksistensial, akan tetapi selaku usaha “swasta” yang lebih berdasarkan persahabatan antara kawan lama, sungguh pantas dihargai. Motornya ialah sekelompok 17, kelak 21 alumni (rupa-rupanya kebanyakan justru yang tidak menjadi imam), yang menyebut diri Kelompok WAGU (Wadah Arek Garum U…= usil, umyek, usrek, urakan). Terutama terhidangkan detil-detil anekdot dan “pangudho-roso” bernada dasar agak melankolis, dan yang berkembang menjadi gerundelan namun kritis; yang mungkin timbul dari celah hitam antara harapan dan kenyataan, namun juga selaku campuran antara bahagia penuh syukur dengan penyesalan kritis.
Maksud awal bunga rampai kenangan ini memang tidak ingin masuk ke dalam wilayah historis ilmiah dsb. Juga tidak ke dalam alam “nostalgia romantisme masa lalu”, tetapi hanya “kembali untuk menyatukan rasa kepedulian akan hal yang sama, rasa keprihatinan yang sama”. Kata dan nama wagu pun sudah membawa tafsiran dan makna; menurut kelompok WAGU sendiri berkonotasi “janggal, tidak pas, aneh, tidak biasa…” dengan petis “sensasi tersendiri bagi rasa Jawa Timur” tentang bobot kata wagu itu. Dan yang agaknya mencerminkan juga ramuan rasa khas namun aneh karena pernah mengalami “nasib” menjadi murid lembaga sakral amat khas di Garum itu, menurut salah seorang penyumbang esei, “…tidak kebetulan saja (mereka masuk Seminari, tetapi) di rekayasa oleh sebuah “hunting” … sebuah rekruitment” yang disengaja, sehingga mereka terpaksa menghayati umur “masih muda tapi sudah harus berlagak tua”. Belum jadi imam, tapi dikondisikan sudah jadi imam… “masih muda dan hijau, tetapi…” dituntut untuk dewasa sebelum waktunya, instant,,, dikarbit, gitu. …Akibatnya kadang-kadang naif juga…kadang-kadang mengomongnya lebih banyak dari perbuatannya”; sampai seorang Romo Rektor diingat pernah mengkualifikasi seminari yang beliau pimpin sendiri sebagai “gerombolan liar.”
Tentulah predikat itu superlatip, jadi jangan dinilai harfiah. Namun bagaimana pun memang seminari-seminari di seluruh dunia dapat diduga, semua “gerombolan liar”; dalam arti bahwa para siswanya, yang justru masih dalam umur-umuran puber lebih sedikit, jelas belum dan tak mungkin dewasa pada usia itu. Pada hakekatnya para seminaris adalah penghuni asrama yang normal-normal saja; artinya: nakal, main tipu, suka mencuri, diam-diam sering melompat pagar “penjara”, melawan aturan jajan nasi goreng di luar dst.dsb. Apa boleh buat, sebab asrama remaja adalah asrama remaja, mau apa. Sudah “mendingan” mereka mau dan pintar main munafik dengan berpura-pura alim dan saleh, mirip imam betul (artinya imam dulu…..apa masih ada imam saleh alim zaman sekarang ?). Dan betul, di mana pun rata-rata sudah hebat bila hanya 20-25 % alumni seminari akhirnya menjadi imam atau biarawan. Masih (zaman sekarang) tidak boleh diabaikan, berapa prosen lagi nanti yang kelak akan “sumuk” lalu “copot jubah”.
Prosentase output yang begitu kecil bagi norma lembaga pendidikan atau “perusahaan” di mana pun seharusnya membuat kita bertanya prihatin, Lembaga macam apa itu dengan kegagalan begitu besar? Maka sampailah kita pada persoalan fundamental, apa sebetulnya yang disebut “gagal” itu? Dalam Bahasa awam dikenal istilah-istilah mengenaskan: “tidak kuat, jebol, njebling, exsem (ex seminaris = gudigen), jatuh tergoda” dan predikat-predikat negatip peleceh lain yang datang dari suatu pandangan salah-kaprah tentang realitas yang disebut seminari.
Namun sebelumnya saya ingin menyentuh sesuatu yang pasti sudah diketahui para pembaca budiwati budiwan, namun tidak ada salahnya dikemukakan lagi. CATATAN PERJALANAN di Seminari GARUM (1087-1995) ini, dengan segala kekurangannya namun juga kelebihannya, patut menjadi alasan kita merenung lebih lanjut, Prinsipial, masalah dan citra tentang imam dan calon imam adalah bagian dari masalah dan citra tentang Gereja (ecclesiologi). Dan masalah Gereja adalah masalah citra dan harapan kita tentang Kristus (Christologi). Dan akhirnya, konsep Kristus tidak bisa tepas dari konsep atau citra kita tentang Tuhan Yang Mahaesa. Jadi memang sesuatu kompleks refleksi serta terjemahan dalam praksisnya yang tidak ringan. Eksplisit tentu saja kita tidak dapat meminta dari para tamatan Seminari Menengah karya-karya teologis dengan tema-tema dasar seberat itu, akan tetapi masalah Gereja adalah masalah kita umat semua, sehingga sepantasnya kita-semua_ ikut memikirkannya, biar sesederhana seperti apa pun.
Pertama, kita dapat berwacana, apakah sistem asrama dengan siswa-siswa yang (seperti yang dikeluhkan oleh seorang penyumbang esei) “…masih muda tapi sudah harus berlagak tua…dewasa sebelum waktunya, instant….”, masih relevan untuk sekarang maupun hari depan Gereja. Namun yang sangat memrihatinkan ialah antara lain keluhan: “…kompleksitas sistem di seminari itu menciptakan suatu pengkondisian tertentu yang mengarahkan hidup seorang anak muda ke arah tertentu sekaligus menyumbat pilihan-pilihan lain yang seharusnya dia miliki untuk mengembankan potensinya, tetapi karena dia harus mempertahankan hidupnya dengan ekspresi tertentu, maka dia terpaksa mematikan potensi (-potensi lain) yang ada dalam dirinya.”
Bila kita menyinggung sistem asrama yang sudah bertradisi ratusan tahun, maka jelaslah kita dapat berwacana dan berdiskusi tanpa ujung tanpa akhir, karena semua pihak mudah sekali mengajukan argumen sama-sama serius lagi rasional tentang pro dan kontra metode asrama.
Di sini penyelesaian soal hanyalah praksis nyatanya; dicoba saja, mana yang lebih berhasil. Akan tetapi pasti orang akan mundur bila disodori gagasan risiko pendidikan imam tanpa asrama, walaupun sebetulnya model asrama pun sama-sama besar risikonya; hanya karena memang belum pernah dicoba, kecuali dalam beberapa kasus individual yang langka, masuk novisiat atau seminari tinggi sesudah terdidik “profan” di luar, bahkan sudah pernah menjadi pegawai dsb. dsb. Selain itu ternyata, ada satu dua yang boleh dan berhasil menjadi biarawan (Trapis gaya dulu) sesudah menjadi duda tua. Tetapi teranglah itu tidak dapat dijadikan pegangan umum. Dan seandainya pun ada beberapa tarekat yang menerima calon warga-non-seminaris, tetapi itu pun masih harus melalui jalan asrama novisiat, yuniorat dsb. Rupa-rupanya profesi rohaniwan di agama mana pun dan zaman apa pun selalu terkait dengan ide dan sistem asrama.
Tetapi siapa tahu, mungkin kelak ada seorang uskup yang amat kreatip dan yang memiliki seorang bawahan yang pandai sekaligus kreatip inovatip serta (ini pasti masih syarat mutlak) saleh dan tidak berjiwa duniawi, yang suatu saat nanti mencoba suatu sistem pendidikan calon imam dengan cara non-asrama secara serius dan sistematis bertanggungjawab. Dapat diramal Roma masih akan amat berkeberatan, akan tetapi jika Uskup Lokal dengan segala penghargaan kepada pendapat Vatikan tetapi toh memberanikan diri, saya kira eksperimen jadilah. Istitah eksperimen agak bernada negatip, seolah-olah ada “proyek” dengan kelinci-kelinci percobaan. Mungkin biasa saja: ihtiar serius dan bertanggung-jawab. Seperti para Rasul pun dulu dan sekian ratus ribu imam sebelum Konsili Trente (1545-1563) tidak pernah menjalani asrama seminari, tetapi jadilah mereka imam-imam yang kita andaikan seumumnya tidak buruk sekali. Tidak ada sistem yang sempurna dan menjamin penuh. Yang penting ialah dinamika kreatip yang saleh dan bertanggungjawab. Tetapi apakah inovasi kreatip dan kesalehan itu dapat dikombinasi? Mestinya bisa. Bahkan dari koderatnya harus.
Masalah asrama yang praktis mengambil 90 % tempat perhatian dalam kumpulan esei para Garumis di sini ternyata, sesuai harapan lumrah, banyak menyentuh (tepatnya: mencari) makna terselubung yang pantas kita gali. Pada hakekatnya bukan pada asrama as such yang dipersoalkan, akan tetapi kadar dan suasana kemanusiawiannya. Asrama sungguh dapat manusiawi indah, namun dapat pula membusukkan penghuni. A priori tidak dapat dikatakan per se bagus atau in se ipso buruk. Hanya setiap zaman dan iklim sosial mempunyai penilaian sendiri-sendiri tentang kepositipan dan kenegatipannya.
Prinsipnya tidaklah sulit walaupun prakteknya tidak mudah: selama pendidikan asrama (baca: semninari) tidak menumbuhkan siswi yang manusiawi dan semakin manusiawi, maka mustahil akan dibuahkan rohaniwan-rohaniwati (istilah yang salah-kaprah kurang tepat juga) yang baik. Dengan kata lain, calon imam harus pertama dahulu menjadi manusia yang wajar, utuh, baik, seperti diharapkan dari manusia-manusia lan juga, jadi tidak eksklusip atau monopoli para imam, misalnya petani, pegawai, tukang, polisi, pedagang dst. Barulah kita berpikir tentang segi (yang disebut) rohaniahnya, atau pamornya. Sudilah jangan dibalik: menumbuhkan seminaris yang saleh atau lebih hebat lagi, suci sesuci mungkin, dengan harapan nanti otomatis dia manusia yang baik. Maaf, memang tesis inilah yang seumumnya tersebar, dan mungkin teoretik teologis betul, mengingat tingkat rohani selalu dinilai lebih tinggi dan menentukan daripada segi-segi badani, lahiriah, duniawi dsb. Namun saya kira umat dan masyarakat seumumnya jauh lebih bahagia dengan seorang pastor dan biarawan biarawati yang manusiawi simpatik, sopan, tahu diri, rendah hati, suka menolong, sosial, jujur dst. jadi betul-betul human, walaupun mungkin tidak begitu menonjol kesalehan atau kesuciannya, daripada sebaliknya. Apalagi bila kita sudah sampai pada tugas menyebarkan Kabar Gembira dan penanaman Kerajaan Tuhan serta kesaksian tentang Yesus Kristus.
Masyarakat seumumnya memerlukan sahabat, pegangan bahkan panutan yang baik, bukan malaekat, santo atau pahlawan. Bahkan dalam kehidupan dan penderitaan sehari-hari umat seorang santo atau santa hanya membingungkan dan membuat mereka malu dan minder bahkan jengkel, dan karena membuat malu dan jengkel, logis disingkiri. Kesaksian tentang Sabda Allah dan pendekatan kepadaNya terhambat, padahal justru inilah fungsi imam. Hanya beberapa santo dan santa yang diperlukan umat dan masyarakat, tetapi susahnya kebanyakan santo dan santa adalah biarawan-biarawati, jadi terlalu jauh jaraknya, terlalu resi di atas angin, sulit diajak berkelakar, padahal khususnya di negara berkembang yang penuh penderitaan dan frustrasi amat sangat diperlukan humor. Lebih baik Semar atau terpaksanya Gareng Petruk dan Bagonglah yang real konkret daripada seseorang yang abstrak, admirandus admiranda sed non imitandus imitanda (pantas dikagumi tetapi Iidak enak ditiru), dan yang ideal tentu saja yang dicintai karena mencintai. Catatan pinggir: saya kira Yesus tidak, seperti yang diinginkan beberapa orang seminaris yang suka cari dalih, ndhugal, tetapi lumrah. Dan seandainya pun nakal, itu karena sugih akal lan mapan akale di tengah dunia yang kacau tidak masuk akal ini.
Demikianlah humanisme dan humaniora memegang peran yang nomor satu, spiritualitas baru nomor berikut; lebih mudah bila dasar humanior sudah kokoh. Dengan kata lain: spiritualitas yang benar ialah kemanusiaan dan pemanusiaan yang semakin meningkat. Spiritualitas pasnya di dalam pagar dan dinding-dinding biara tempatnya. Tetapi pastoran, paroki, Gereja di tengah dunia, umat lumrah dsb. harus digenangi kemanusaan dan humaniora, artinya pemanusiaan yang semakin meningkat. Demikian juga dalam seminari.
Sudah saatnya, terlebih menjelang abad ke-21 ini, dalam pendidikan calon imam kita ekstra khusus berpaling dari spiritualitas (yang tradisional diajarkan abstrak dan seumumnya sedikti banyak asing dari realitas hidup) dan menuju ke humaniora yang semakin meningkat. Tidak ada ruginya bila istilah spiritualitas kita simpan saja sementara dalam kamus di almari antik, karena itu amat mengganggu dalam pembentukan secara betul imam-imam dan rohaniwan-rohaniwati yang baik, yang betul-betul hidup dari Kabar Gembira Yesus Kristus, seperti yang kita jumpai dalam keempat Injil itu. Sebab kita terlalu sering melihat spiritualitas praktis mendorong orang untuk jauh lebih menghormati dan dekat dengan seorang santo atau santa idola komunitas daripada Yesus Kristus. Dan malapelaka memang apabila ternyata Gereja Katolik di Indonesia jauh lebih taat kepada konstitusi seorang santo atau santa dari abad-abad kolonial imperial anti-reformasi daripada keempal Injil Yesus Kristus dan semangat aggiornamento Konsili Vatikan II.
Maka jika metode asrama, dengan segala kelebihannya dan kekurangannya ternyata, jadi empiris faktual, mampu membina calon imam lebih manusiawi daripada seandainya dibiarkan di luar asrama, maka seminari model asrama itu pantas diteruskan, Jikalau tidak, sebaiknya ditutup saja.
Ketika Mgr. Y. Darmaatmagja SY baru beberapa bulan menjabat uskup agung di Semarang, beliau pernah mengundang suatu dialog antara para teolog yang mengelola pendidikan teologi di Kenthungan, para pengasuh Seminari Tinggi, pater mantan provinsial, mantan rektor-rektor dan beberapa orang wakil dari UNIO Semarang, dengan pertanyaan tentatip: Bagaimana, apakah system seminar seperti yang faktual dijalankan di Kenthungan itu diteruskan atau perlu ada perubahan ? Ternyata hanya pengelola asrama Seminari Tinggi saja (semua romo projo) yang menghendaki conservare traditionem. Para teolog, Pater Tom Jacobs SY, Pater Groenen OFM dan beberapa lain yang mengajar teologi untuk para calon imam di Yogyakarta ternyata berkeberatan dilestarikan. Atas dasar prinsipial dan historis. Bahkan jatuh kalimat maut: sistem sekarang ini sebenarnya penyelewengan dari yang dimaksud Gereja semula. Saya pun menyarankan Seminari dalam bentuk sekarang ditutup saja, tetapi tidak mati demi kematian; harus mencuat “kebangkitan dari mati sesudah 3 hari ke suatu kehidupan yang baru”, lidak cukup hanya “dibunuh” saja. Bahkan seorang mantan provinsial Yesuit dan seorang pemimpin spiritual Yesuit lain yang terkenal amat saleh dan amat konservatip justru memperkuat gagasan transformasi, karena menurut beliau yang akhir ini: “…ada sesuatu yang kurang beres” dalam suasana seminari yang kita punyai sekarang ini.
Pihak pengelola Seminari tidak mempunyai argumen lain kecuali: “Kami hanya pembantu Uskup. Terserah beliau. Kami akan taat”. Tentu saja itu bukan argumen dalam suatu brain-storming, sebab kita selalu dapat “aman” (artinya cuci-tangan) dengan berkata: Terserah kepada Roh Kudus”. Hanya satu kali dialog terbuka semacam itu diadakan Uskup-agung kami, dan nyatanya yang terakhir. Mungkin beliau terkejut juga. Saya sendiri kemudian juga lebih suka diam, karena sadar, bahwa seandainya saya ditantang (jelas tidak pernah mungkin terjadi) apa berani menjadi rektor seminari tinggi dengan kebebasan penuh untuk melaksanaan ide-ide saya, pastilah dengan amat malu dan gemetar saya akan mengakui: tidak berani. Antara lain alasannya jelaslah: terlalu tua, tetapi terutama, terlalu liar.
Namun prinsip asrama masih akan berjalan lama. Maka sebelum ada percobaan dialog tentang Kenthungan itu, sekitar 20 tahun yang lalu saya sudah mencoba menyalakan suatu wacana tentang ide seminari yang relevan dan praktis: bukan tempat pendidikan calon imam melulu, melainkan calon pejuang Gereja, entah imam entah awam, yang setangguh mungkin. Lebih tepat: pejuang iman, harapan dan cintakasih Kristiani, di mana Kerajaan Tuhan berkedudukan sentral dan Gereja sebagai abdi Punakawan, Pada waktu itu tentu saja ide semacam itu aneh dan “pantas dilawan”, akan tetapi sesudah sekitar 10 tahun ide itu de facfo dilakukan, hanya formal masih tabu (karena antara lain dana-dana dari Roma dan sumber lain hanya mempunyai intentio dantis tunggal: untuk calon imam). Memang saya sendiri juga tidak menghendaki perubahan yang drastis serta- merta. Persiapan, dan terutama pematangan waktu amat penting juga.
Tetapi toh saya yakin. bahwa prinsip seminari berasrama sebagai tempat pendidikan tidak hanya imam saja tetapi juga berbagai bentuk pejuang Gereja: dengan output imam dan biarawan tetap rata-rata sekitar 20-25 % (tetapi yang 75-80 % bukan lagi jeblingan, jebolan yang tidak kuat tergoda atau exsem gagal dsb) , adalah jalan satu-satunya yang berhasil, apabila sislem asrama masih dipakai. Demikianlah output yang berguna bagi Kerajaan Tuhan pasti minimal 95-98 %, dan tidak cuma 20 -25% . Dengan pejuang tangguh yang lahiriah tergolong cemerlang pasti sekitar 70-75 % (dihitung dari segi iman, harapan dan cintakasih Kristiani, tidak dari segi agama saja). Sebenarnya ide dasar ini tidak sulit dirinci cukup mendetil pelaksanaan metodologinya, akan tetapi sementara sekian saja dulu.
Sehubungan dengan hal-hal di atas sepantasnya kita meninggalkan tesis yang selalu dengan gigih dipertahankan dan dipropagandakan di mana-mana dalam sekian bahasa, bahwa kita memerlukan imam-imam sebanyak-banyaknya. Dan bahwa jumlah imam yang sedikit berarti ambruknya Gereja. Saya kira tidak demikian, itu perhitungan manajeman perusahaan atau partai. Tuhan dapat berkarya dengan hasil bagus dengan imam banyak maupun dengan imam sedikit. Zaman Jepang misalnya bukti, bagaimana dengan hanya dua uskup yang aktipuntuk seluruh Indonesia dan rata-rata satu sampai tiga imam setiap propinsi Gereja kita justru memekar dewasa dalam hal iman dan semangat kerasulan serta kemartiran. Itu bila kita melihat Gereja tidak dari pentasan lahiriah dan kelembagaan yang gegap-gempita, hebat dalam ukuran duniawi, Ratu Nusantara dan Dunia, tetapi dari prestasi iman, harapan dan cinta-kasih Kristiani sebagai abdi dan pelayan.
Tentu saja setiap Gereja lokal harus punya nalar sehat dan mengkader sejumlah calon-calon imam seoptimal mungkin, tetapi itu jangan diukur dengan statistik tentara, semakin banyak tentara semakin jaya. Kuantitas perlu telapi kualitas jauh lebih menentukan, Khususnya bila kita berkecimpung dalam masalah religiositas, iman, harapan, cintakasih, Kerajaan Tuhan; bukan sebagai agama dengan kelembagaannya dan kejayaan ekspansinya. Apalagi sesudah Konsili Vatikan II yang memulai suatu era historis baru, di mana Gereja adalah seluruh Umat kita dalam perjalanan, sebagai kafilah, selaku diaspora di negeri asing. Sehingga pemahaman tentang apa yang disebut gembala dan pemuka iman (bukan hanya agama) semakin tidak tajam, tidak mutlak terjamin otomatis lagi oleh fungsi-fungsi organisatoris resmi dan imamat jabatan.
Maka teranglah sekali lagi bahwa persoalan imam dan pendidikan calon imam amat tergantung dari apa yang kita pahami tentang yang kita sebut Gereja dan Kerajaan Tuhan. Gereja tradisional abad pertengahan memerlukan imam-imam abad pertengahan. Gereja dar Kerajaan Tuhan abad ke-21 memerlukan imam-imam abad ke-21. Ini masih memerlukan wacana dan diskusi amat Panjang amat intensip dan terutama jujur, dengan berpandangan ke masa depan, bukan hanya conservare fraditionem.
Demikianlah ternyata terbitan buku Catatan Perjalanan di Semimari Garum 1987 – 1995 ini mengingatkan kita sekali lagi bahwa wacana dan dialog tentang pendidikan calon imam belum selesai dan perlu dipikirkan bersinambung dengan relevansi zarnan dan situasinya, khususnya oleh Gereja kita generasi muda. Jika para muda serius dalam merenungkan soal bersama kita ini, maka saya yakin, para uskup nanti, selaku bapa-bapa dan gembala-gembala yang baik, pasti akan mendengarkannya. Semoga.
Proficiat kepada Seminari Garum dan teristimewa para motor penerbitan bunga rampai yang berguna ini. Akhirulkalam saya mohon, tolonglah doakanlah penulis epilog ini yang sebagai manusia maupun mantan seminaris banyak berdosa juga.

