Oleh : Yustinus Sunyoto
Hampir empat tahun tinggal di Seminari Garum, rasanya sudah banyak hal yang sudah diperoleh, kematangan berpribadi dan gambaran yang cukup jelas mengenai masa depan yang seharusnya tidak menakutkan. Setelah sekian lama meninggalkan Seminari, seolah sia-sia, format masa depan tidak juga tampak. Apakah ini yang dimaksud kematangan pribadi ? Jelas tidak.
Memang bukan dosa, tetapi tidak layak untuk mantan seminaris, orang yang pernah berusaha menjawab panggilan Tuhan. Lalu mengapa format masa depan berlarut-larut hingga sekian lama. Pasti ada yang salah, ada yang hilang dari pengamatan, pasti ada yang terpenggal. Lalu apa?
Kami sepakat menyebutnya pendewasaan semu, karbitan, atau apapun namanya meskipun dipaksakan. Setelah sekian lama hilang, akhirnya tampak juga gambaran dewasa, meski harus melewati banyak perjuangan, terutama batin. Pertanyaannya: mengapa tidak kita peroleh saat kita di seminari, saat kita disadarkan pada apa arti panggilan, dan meyakinkan pada diri kita bahwa kita terpanggil, saat kita harus memilih.
Disadari atau tidak, dan diluar benar dan salah, kita diberi kaca mata kuda, melihat satu jalan panggilan “imamat”. Jika itu memang jalan kita, tidak jadi masalah; jika bukan, mau kemana, mana jalan kita. Kita hanya tahu hitam dan putih, tidak tahu bahwa antara hitam dan putih ada abu-abu.
Peran para imam (staff) baik rektor, disiplin maupun kepala sekolah sangat dibutuhkan, karena mereka ditengah kita mulai saat bangun pagi untuk memulai aktifitas sampai tidur mengakhiri aktifitas. Sebagai lambang disiplin, pribadi, maupun lambang panggilan Tuhan dengan contoh, teladan dan bimbingan mereka.
Benar-benar berperankah mereka ditengah-tengah kita? Atau hanya memberi perintah ini-itu, melarang atau mengawasi kita, atau mereka benar-benar membimbing kita dalam berpribadi, mendewasakan dan mengarahkan kita terutama pada panggilan dengan arahan, contoh dan teladan mereka?
Sebuah Pengalaman
Berbagai tipe staff sudah pernah kami alami, dari yang baik, tidak tegas, cuek, dan yang suka menghukum. Sadar atau tidak mereka sangat mempengaruhi kepribadian kita. Setiap pribadi mengesankan, bisa baik, bisa buruk. Yang buruk dilupakan dan yang baik terbawa kemana kita berjalan, menjadi imam atau awam.
Ketika saya masih kelas satu, ada seorang imam yang sungguh-sungguh kami cintai, kami idolakan. Mengkin itulah satu-satunya figur ideal yang pernah saya rasakan selama berada di Seminari Garum. Dia menjadi idola karena kami memang pada usia dimana sedang senang-senangnya melihat idola; tetapi hanya dia. Lalu yang lain? Ya…kurang menarik hati. Mengapa demikian menarik hati? Pertama, kedekatanya dengan kami, lalu perhatian yang tulus, tidak mudahnya memberi hukuman dan kesungguhan membimbing kami. Mungkin dialah satu-satunya yang kami tangisi kepergiannya (bukan meninggal), untuk studi dan meninggalkan kami. Saat itu kami seolah-olah kehilangan pegangan, perlindungan dan tempat aman. Mungkin dialah tokoh ideal yang seharusya dimiliki Seminari Garum.
Figur Ideal
Yang dimaksud figur disini adalah Imam (sebagai staff) yang bagaimana yang bisa diterima oleh para seminaris dan diharapkan mampu menumbuhkan serta menguatkan panggilan. Tidak hanya sebagai seorang imam yang merupakan tujuan utama tetapi juga mantan-mantannya sebagai pejuang awam gereja. Satu pabrik menghasilkan dua produksi.
Dari berbagai wawancara yang sudah kami (:Wagu) lakukan terhadap beberapa staff, baik pengajar (guru awam) maupun imam sebagai rektor, disiplin, kepala sekolah, dan guru, serta seminaris sendiri sebagai obyek pengajaran, dapatlah kita tarik beberapa pemahaman, tuntutan, dan harapan tentang figur seorang staff yang ideal bagi seminaris. Kami masih melihat beberapa kemungkinan yang akan timbul dari berbagai pendapat pihak lain yang terlepas dari pengamatan kami, sebagai alasan untuk tidak menyebutnya sebagai kesimpulan. Beberapa kritirea tersebut sebagai berikut:
1. Mudah mengerti dan tidak gampang menghukum,
Tidak dapat dipungkiri bahwa usia para seminaris merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, atau merupakan perpanjangan dari masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa. Secara fisik jelas (tidak perlu diulas), secara intelektual mereka mulai bersikap kritis dan tidak mau menerima begitu saja perintah-perintah atau aturan yang ada; mereka juga ingin mengetahui alasan dan sebab-sebabnya. Secara emosional belum stabil sehingga celaan atau kritikan dari lingkungannya sering ditanggapi secara sungguh-sungguh dan sering ditafsirkan sebagai ejekan atau meremehkannya. Akibatnya mereka sering bersikap antipati dan melawan.(*)
Dengan pertimbangan di atas maka seringkali seminaris melakukan pemberontakan terhadap kejenuhan[1] akan aturan-aturan yang bersifat imperatif seperti harus bangun pagi, jam tidur, lalu tidak boleh merokok dan lain sebagainya. Selain itu masalah yang harus mereka hadapi dalam komunitas, dengan orang tua seperti kangen dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini harus mereka pecahkan sendiri, jika tidak mampu harus dibimbing. Disinilah letak peranan yang besar dari pembimbing, kemudahannya mengerti. Bagi yang mampu tidak jadi masalah, tetapi bagi yang belum dan tidak menemukan pembimbing yang dianggapnya mampu membantu memecahkan masalah atau memang enggan dibimbing (perlu dipertanyakan lagi). Mau tidak mau harus memecahkan masalahnya sendiri dan akan menjadi masalah apabila kecenderungannya salah. Kemudian timbul pelanggaran.
Dalam hal melanggar perlu dipertanyakan pula sebabnya, apalagi jika pelanggaran itu fatal dan membuat pelakunya harus berpamitan dihadapan rekan-rekannya untuk keluar dari seminari (meskipun jarang terjadi). Dari pelanggaran-pelangaran yang muncul ini yang tentu saja masih segar khas anak-anak yang kadang menjengkelkan mumbutuhkan pengertian lebih dan kemudahan mengerti dari staff terutama roma disiplin. Hubungan yang personal perlu dikembangkan untuk kedekatan dan pengertian terhadap anak.
Tindakan menghukum tidak akan memecahkan masalah apalagi secara fisik dan didepan anak banyak. Hal ini tidak membuat anak jera, karena secara emotional hukuman bisa berarti ejekan atau meremehkan mereka. Tidak heran jika mereka lebih bersikap antipati dan melawan. Jadi tindakan menghukum perlu dikurangi dan seperlunya dan tidak secara fisik.
- Bisa hidup sederhana dan menjauhkan diri hal-hal yang berbau material,
Mengingat masa menuju dewasa, mereka kerap kali dan senang melihat idola, keteladanan dari figur-figur/ romo-romo tertentu. Dan kerap kali juga muncul panggilan dari sana, sekilas tidak begitu berarti karena untuk nanti. Staff terutama imam-imam dituntut memiliki kesederhanaan. Kesedehanaan yang bagaimana, dan untuk apa? Kesederhanaan bisa dilihat dari fasilitas-fasilitas yang diterima dimana staff harus minim. Untuk apa? Supaya para seminaris bisa melihat dan diajak untuk bersungguh-sungguh menjalani panggilan, karena kelak mereka akan menghadapi hal yang paling tidak sama untuk menjadi seorang pastor. Minim yang seperti apa? Ada dua minimisasi disini; yang pertama secara kolektif, fasilitas yang dipakai bersama harus seperlunya agar seminaris bisa melihat bahwa beginilah menjadi imam dan memberi kesan sungguh-sungguh. Tetapi untuk fasilitas pendidikan dan perkembangan intelektual ada pengecualian dan diharapkan maksimal. Minim yang kedua adalah secara pribadi, bahwa fasilitas imam secara pribadi diharapkan tidak berlebihan yang bisa menimbulkan kesan material. Hal ini sangat berbahaya karena seminaris akan melihat apa isi kamar romo ini, romo itu yang bisa memberi gambaran yang keliru bagi seminaris untuk masa yang akan datang. Staff harus melihat bahwa mereka mendidik seminaris dan harus berhati-hati memberi contoh karena seminaris melihat dan menilai. Contoh dan teladan yang baik sangat berkenan bagi para seminaris karena mereka sedang senang-senangnya melihat idola.
3.Tidak gampang benci dan mudah melupakan,
Hal sangat wajar apabila seminaris melakukan pelanggaran, namun sejauh mana batas pelanggaran itu wajar dan tidak fatal yang bisa membuat seminaris harus dipersilahkan meninggalkan seminari kami pikir sudah jelas dalam peraturan. Mau tidak mau staff harus menghadapi, karena memang sering terjadi dan berbeda dengan seminari tinggi yang secara emotional lebih establish.
Kalau dipikir-pikir saat ini pasti lucu karena sebenarnya masih khas anak-anak dan staff (romo-romo) harus siap menghadapi jika tidak bisa stress berat saking buanyaknya pelanggaran. Tetapi kembali lagi sebagai staff harus membimbing, jadi harus gampang melupakan dan meninggalkan benci secara pribadi. Dengan demikian diharapkan anak lebih mau terbuka dalam membicarakan masalahnya dan hubungan personal yang komunikatif bisa diwujudkan. Tinggal bagaimana mengarahkan kepribadian dan idealismenya yang mengarah ke panggilan imamat.
4.Terbuka dan Obyektif,
Menghadapi seminaris memang gampang-gampang susah, tetapi agaknya staff dituntut berada ditengahnya. Terbuka. Dalam artian ini staff diharapkan bisa menerima kritik dan dan memberi gambaran seobyektif mungkin, memberi gambaran yang sangat berperan dalam mendewasakan anak, dalam berpribadi, kritis, dan tentu saja kuat dan teguh dalam panggilan. Harap pula diingat bahwa mereka masih segar, masih relatif mudah dibentuk.
Sesuai dengan hakekatnya sebagai anak-anak yang menuju dewasa, maka secara intelektual mereka mulai kritis dan tidak mau begitu saja menerima perintah-perintah atau aturan-aturan yang ada, termasuk kebijakan staff. Mereka ingin mengetahui alasan dan sebab-sebabnya. Keterbukaan para staff menerima kritik ataupun saran dari mereka sangat membantu mereka mendewasakan diri. Tentu saja tidak harus semuanya dipenuhi, harus selektif mana yang benar-benar berguna. Karena kekritisannya itu mereka seringkali nakal, ekspresif dan konyol. Kerap kali merepotkan, bikin jengkel dan stresss. Dalam kasus ini staff ekstra sabar dan berhati-hati mengambil tindakan, fleksibel dan bisa melihat apa maunya. Dengan alasan ini untuk romo-romo yang seharusnya pensiun tidak ditempatkan di seminari. Kasihan, bisa stress; kecuali jika kepekaannya cukup tinggi, mampu menyangga kritik dan terbuka.
Lalu yang obyektif itu yang bagaimana? Dari berbagai wawancara yang kami (WAGU) lakukan terhadap beberapa rekan-rekan mantan seminaris di luar Yogya, kami mendapat gambaran tentang pendewasaan mereka yang tidak berbeda dengan kami yang berada di Yogya (WAGU). Justru setelah sekian lama meninggalkan seminari, dan pada awalnya mereka juga kebinggungan menemukan diri sendiri, bingung menentukan pilihan mau kemana, perguruan tinggi jurusan apa, bekerja dibidang apa, seolah tanpa keyakinan. Mereka merasa juga seperti kami, dewasa karbitan dan itu berarti mereka belum dewasa, rapuh, kasihan jika hal ini terus berkepanjangan.
Memang mengherankan dan sedih juga, mengapa sampai terjadi pada kami. Raport kepribadian kami selalu A dan B, jika C itu pasti ajaib, pengecualian, keterlaluan, dan jarang terjadi. Tetapi ternyata kami rapuh. Kami berharap tidak terjadi pada rekan-rekan yang meneruskan ke seminari tinggi. Dari kasus ini kami mencoba mengungkap kembali, mensharingkan, dan menjelaskan apa yang terjadi pada kami.
Ketika pertama kali masuk seminari kami mengingat hanya dihadapkan pada dua keputusan menjadi iman atau tidak. Dalam pendidikan kesehari-harianpun kami selalu dihadapkan pada itu. Wajar, karena memang tujuan masuk seminari memang menjadi imam, kecuali mungkin orang-orang titipan. Namanya anak-anak menuju dewasa, pasti mereka senang melihat hal-hal baru yang lebih menantang termasuk yang menyimpang dari tujuan menjadi imam. Nah, pada saat seperti ini staff harus mampu menjelaskan apa-apa yang perlu seobyektif mungkin, supaya jelas. Jika tidak jelas dan menimbulkan tanda tanya akan menimbulkan keraguan yang bisa jadi menyimpang dari tujuan. Kekritisan anak harus terjawab juga dengan jelas supaya tidak meragukan. Ibarat hitam dan putih, ditengahnya ada juga abu-abu atau warna-warna yang lain; tidak begitu saja hitam dan putih, imamat dan bukan imamat. Kebutuhan akan keterbukaan yang kritis membangun atas kebijakan staff, tindakan dan berbagai hal menyangkut visi kita tidak ditanggapi serius. Pemukulnya jelas imamat, imamat dan imamat. Beres, stabilitas terpenuhi, tetapi semu.
Dengan ini diharapkan staff lebih terbuka dan seobyektif menanggapi kekritisan anak.
- Tanggap dan Jeli,
Staff diharapkan jeli melihat masalah-masalah yang terjadi ditengah-tengah para seminaris dan mengetahui akar permasalahan dengan jelas pada perkara sebenarnya. Jika diperlukan, ikut membantu memecahkan masalah supaya tidak pernah lagi terjadi permusuhan antar seminaris yang melibatkan antar angkatan.
Ketangapan staff melihat gejala-gejala yang mungkin perlu dicermati dan mengambil alternatif terbaik. Selain itu kerjasama staff perlu ditingkatkan supaya tidak terjadi kesimpang siuran kebijakan dalam menangani seminaris.
Sebuah Hasil
Dengan terpenuhinya kriteria pembimbing diharapkan tidak perlu sampai anak yang keluar dari Seminari Garum merasa mengalami pendewasaan karbitan. Atau harus keluar-masuk seminari untuk menemukan dirinya, panggilannya yang seharusnya ia peroleh di tempat pembenihan.
Mungkin benar mahasiswa Seminari Tinggi tamatan SPG umumnya lebih matang dari pada seminari menengah. Tetapi harus diingat bahwa untuk membangun idealisme sebagai imam yang sungguh kristiani Garumlah tempatnya, karena memang sejak kecil sudah terlibat dalam panggilan. Pada umumnya tamatan SPG, emosi dan kepribadiannya sudah mapan/ establish, susah untuk dibentuk. Jadi Garum tetap tempat yang baik.
Selain itu dimasa mendatang partisipasi awam perlu ditingkatkan, karena imam membatasi diri dalam usaha mengantar umat kepada kedewasaannya. Dalam hal ini Garum adalah alternatif dalam pembentukan generasi muda yang sungguh kristiani dan militan kristiani. Apakah hal semacam ini lepas dari pemikiran gereja, berapa yang menjadi imam dan berapa yang menjadi awam? Sayang jika anak-anak mantan Garum ini harus kehilangan dirinya dan merasa dewasa karbitan, yang seharusnya mereka dapat di Seminari Garum.
[1] (*) Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya Oleh : Y. Bambang Mulyono
