Oleh: F. Asisi Sukoeksi Widanto
Masuknya tentara pendudukan Jepang membawa akibat semakin berkurangnya tenaga imam di Keuskupan Surabaya[1], padahal pelayanan pastoral harus tetap berjalan. Mengharapkan pelayanan pastoral dari imam yang sedang di penjara jelas tidak mungkin, sementara jumlah imam yang bebas sangat terbatas. Situasi ini memicu munculnya dua gagasan, yaitu pertama, mendatangkan tenaga imam dari tempat lain untuk mengatasi kebutuhan tenaga imam dalam jangka pendek; dan kedua memproduksi sendiri imam-imam lokal untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang[2].
