sebuah catatan pelanggaran
Oleh: Fr. B. Josie Susilo Hardianto, SJ
Dalam dinamika perkembangan masyarakat tradisional berkembang ritus-ritus tertentu sebagai wadah untuk mengungkapkan ekspresi yang mereka alami entah saat bersinggungan dengan kekuatan alam atau berhadapan dengan realitas sakit dan penderitaan atau suatu harapan serta doa. Ekspresi itu kemudian berkembang menjadi simbol-simbol identitas kelompok, berdinamika dengan masyarakatnya dan kemudian bertumbuh lebih lanjut menjadi sarana perjuangan dan pernyataan diri bahkan menjadi simbol suatu mekanisme survive berhadapan dengan tekanan atau konflik dengan dunia luar. Dalam perkembangan masyarakat modern sistem simbol yang ditimba dari kekayaan simbolisme tradisional dari ritus-ritus ini diperkaya dengan refleksi sistematis dapat menjadi sebuah bentuk gerakan yang solid karena pada dasarnya hal itu telah menjadi akar yang mendarah daging dalam manusia-manusianya, hanya saja, kemudian perlu diperhatikan ke arah mana dan bagaimana kekayaan itu hendak digunakan. Tulisan ini pada prinsipnya mencoba menggunakan sistematisasi yang terdapat dalam perkembangan telaah tentang ritus tradisional dengan bertitik tolak dari pengalaman kejadian atau peristiwa (pelanggaran) yang dialami penulis sewaktu tinggal di Seminari Garum.
