Oleh: Y. B. Mangunwijaya
PAX CHRISTI !
Permintaan untuk menulis suatu epilog bagi bunga rampai berkenaan dengan Yubileum 50 tahun Seminari Menengah di Garum kepada saya ini sebenarnya salah alamat. Saya sayang sekali dan merasa bersalah kok belum pernah melihat Seminari itu, apalagi mengalami kehidupannya. Sekarang tinggal menyesal karena usia lanjut sudah membuat saya malas bepergian, maklumlah sudah masuk dalam fase yang lazim bagi kaum lansia, “nyusuh” , bersarang. Apa lagi di Garum, kehidupan Seminari Menengah di Mertoyudan sekalipun tempat pendidikan calon-calon imam keuskupan agung saya, Semarang pun, hanya saya alami dua tahun sesudah saya bersekolah di luar sampai tamat di SMA, dengan pengalaman hidup zaman Jepang serta Revolusi yang jelas serba profan tidak “saleh dan suci”, penuh pergolakan dan pengalaman yang tidak ada sangkut paut formal dengan pendidikan imam, misalnya ikut-ikutan menjadi gerilyawan dsb, dsb.