Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

BAGAIMANA MENJADI AWAM YANG BAIK

F.X. Andhika Bayu

Selama hidup di seminari, banyak suka-duka yang telah kita alami. Kita banyak belajar sesuatu dan menemukan konsep-konsep baru selama hidup di seminari. Namun sejauh manakah konsep-konsep tersebut dapat dipakai/diterapkan setelah keluar dari seminari, terutama bagi kita yang memutuskan untuk tidak melanjutkan studi di seminari tinggi.

Dengan tidak bermaksud beropini yang bertentangan dengan opini mayoritas ex-seminaris lainnya, berikut ini kami ingin menyampaikan apa yang kami ketahui dan rasakan setelah keluar dari seminari.

I. Setelah keluar dari Seminari, bukan berarti mati raga juga selesai.

Selama kita di seminari, kita selalu bermati raga dan hidup terjadwal, mulai dari bangun pagi, makan, belajar, hingga tidur malam. Dan banyak seminaris yang sudah menjadi champion dalam hal ini. Namun banyak pula mantan seminaris, yang setelah keluar dari seminari, berasumsi bahwa mati raga sudah selesai. Atau mungkin karena sudah merasa jenuh, sehingga ketika keluar dari seminari mereka ingin menikmati kebebasannya. Padahal bila kita sudah berada di dunia luar, kita wajib bermati raga bila ingin sukses. Kita harus terus menanamkan kedisiplinan, rajin belajar, rajin bekerja, ulet dan tidak bersantai-santai. Karena bila kita bersantai-santai, maka akan membahayakan karier kita.

Kita memang menyadari betapa perlunya bermati-raga di seminari. Tetapi pelanggaran terhadap hal tersebut berakibat tidak terlalu fatal. Kalau di dunia luar sebaliknya, akan berakibat fatal dan berakibat sangat kongkret yang dapat kita rasakan langsung, bahkan kita tidak bisa makan (mencari nafkah), padahal makan adalah kebutuhan pokok manusia yang pertama.

Semoga hal ini tidak menjadi kekecewaan, dalam hati seminaris yang memutuskan untuk keluar, yang terlanjur menjanjikan pada dirinya bahwa bila dia sudah berada di luar, maka ia akan berhenti bermati raga.

II. Konsep-konsep yang ada di Seminari pada umumnya kurang bisa diterapkan di dunia luar, karena sudah tidak relevan lagi.

Sehubungan dengan orientasi tugasnya untuk melayani sesama dan berkarya dalam cinta kasih bersama Kristus, maka dalam kesehariannya, para seminaris dididik untuk lebih mengutamakan hal-hal rohani daripada hal-hal duniawi. Misalnya untuk membatasi keinginan, mengesampingkan ego, belajar untuk lebih memahami daripada dipahami.

Pada dasarnya sistem pendidikan yang ada di Seminari sudah cukup baik bila dikaitkan dengan tujuan/misinya. Tapi konsep-konsep yang ada di Seminari tidak bisa diterapkan di dunia luar/masyarakat luas karena sudah tidak relevan lagi.

Bila kita ingin menjadi imam, jadilah imam yang baik. Dan jadilah awam yang baik, jika kita ingin menjadi awam. Kita harus bisa menetapkan suatu pilihan dan melakukannya sepenuh hati dengan segala konsekuensinya. Namun ternyata banyak mantan seminaris yang masih memegang konsep-konsep itu dan sulit untuk melepaskannya, walaupun mereka sudah berada di lingkungan masyarakat luas yang cenderung dinamis. Sebagai contoh, misalnya: Banyak mantan seminaris yang terbiasa untuk membatasi keinginan dan masih sulit untuk melepaskan keterbiasaan itu.

Sedangkan masyarakat luas, kita tidak bisa lagi membatasi keinginan untuk memperoleh wawasan, ilmu pengetahuan, mengembangkan diri dan segala potensi yang kita miliki agar kita dapat maju dan mampu berkompetisi di dunia kerja yang kompetitif. Karena dalam kehidupan dunia luar yang sesungguhnya, akan banyak tuntutan-tuntutan hidup yang memaksa kita untuk berusaha agar tuntutan/kebutuhan hidup tersebut dapat terpenuhi.

Bila kita masih membatasi keinginan untuk kemajuan kita, maka kita tidak akan bisa mendayagunakan seluruh kemampuan yang kita miliki secara optimal.

III. Gunakan standar dunia luar

Sadarilah bahwa standar biarawan tidak bisa digunakan jika berada di masyarakat luas. Di dalam biara kita harus meninggalkan banyak hal, terutama hal-hal duniawi. Tetapi hal ini tidak bisa diterapkan begitu saja di dunia luar, kita harus mencari sesuatu sebanyak mungkin. Pepatah yang berlaku di dunia biara: “Kebahagiaan yang sejati adalah keinginan yang terbatas”; akan sangat berbahaya jika dipakai di masyarakat luas.

Kita harus berpacu dengan waktu, mencari ilmu dan peluang sebanyak-banyaknya, karena untuk dapat survive di dunia luar/awam kita harus berkompetisi. Kita harus mempunyai bekal yang cukup agar mempunyai daya saing yang layak diperhitungkan. Jika kita tidak mempunyai daya saing, kita akan gagal mencari penghasilan yang layak.

Kendati semua mata pencaharian adalah baik, namun upayakan untuk mendapatkan penghasilan yang standar.

Sekarang tergantung dari standar apakah yang akan kita pakai. Jika kita memakai standar biarawan sebagai pendapatan, berarti tidak realistis. Kita harus memakai standar awam/masyarakat luas, karena kebutuhan-kebutuhan hidup yang makin banyak dan harus dipenuhi. Kita akan berhadapan dengan pengeluaran-pengeluaran berdasarkan standar awam jika sudah berkeluarga nantinya, misalnya: kebutuhan makanan, pakaian, rumah dan biaya pendidikan bagi anak-anak dan sebagainya, yang kita tahu teramat mahal.

Untuk dapat mengatasi pengeluaran-pengeluaran dari standar awam tersebut, kita harus mempunyai pendapatan yang cukup berdasarkan standar awam dan melakukan usaha yang sesuai dengan standar awam pula.

Ada banyak cara menempuhnya, pilihlah cara yang paling efektif menurut anda. Misalnya dengan menghindari kuliah pada jurusan yang kurang potensial/mempunyai lapangan pekerjaan yang sempit.

Jangan melulu mengambil jurusan yang kita anggap mudah saja. Ingatlah bahwa semakin mudah jurusan yang kita ambil, maka semakin banyak saingan yang harus kita hadapi di dunia kerja nantinya.

IV. Kita bukan seniman, tapi kita adalah pelaku sejarah.

Selain itu masih banyak mantan seminaris yang hidup sebagai seniman. Yang dimaksud dengan seniman di sini adalah orang yang belum bisa menempatkan posisi kepuasan hidup pada tempatnya.

Kepuasan hidup di sini maksudnya diukur dari sudut kepuasan batin saja. Orang yang masih berlaku sebagai seniman selalu mengutamakan kepuasan batin dan mengesampingkan hal materi, sehingga terlalu enjoy menikmati seni hidup dengan gaya yang santai dan kurang disiplin, memboroskan banyak waktu dan kurang memanfaatkan kesempatan yang ada dengan baik, hingga akhirnya efisiensi kerja menjadi terabaikan.

Bersikaplah realistis dengan menyadari akan pentingnya arti materi, bukan berarti kita dituntut untuk menjadi materialistis. Sadarilah bahwa materi dibutuhkan dalam segala sesuatu hal. Bahkan untuk membangun sebuah gereja/biara sekalipun sampai dengan kelangsungan hidupnya, materi sangat dibutuhkan sebagai salah satu faktor penunjang utama.

Harus diingat bahwa mantan seminaris tidak hidup di lingkungan yang dulu lagi. Cobalah untuk menggeser nilai-nilai kepuasan hidup ke hal-hal yang lebih realistis, yaitu dengan memiliki perasaan batin puas telah mencukupi kebutuhan materi/kebutuhan hidup keluarganya. Jadi tidak lagi sekedar mengejar kepuasan batin saja. Karena hal itu akan sia-sia, walaupun batinnya terpuaskan, tapi kebutuhan materinya tidak terpenuhi.

Jika kita memutuskan untuk keluar dari seminari, maka kita bukanlah seorang petualang lagi, melainkan seorang pelaku sejarah.

Kebanyakan di antara ex-seminaris masih terbawa kebiasaan mereka semenjak tinggal di seminari. Mereka merasa seperti seorang seniman yang tidak perlu terlibat terlalu jauh dengan urusan dunia luar.

Dengan tidak mempunyai maksud untuk menentang opini publik ex-seminaris, penulis ingin mengatakan bahwa sikap demikian kurang dapat dipertanggungjawabkan. Kita bukanlah seniman lagi yang suka memperhatikan kasus-kasus awam tanpa merasa perlu terlibat di dalamnya, sama seperti menonton TV/film dan tidak lebih, dalam arti tidak ada tindak lanjutnya.

Sebaliknya, kita justru harus terjun dan terlibat langsung baik secara fisik maupun psikologis dengan permasalahan di dunia awam, sebagai contoh:

  • Betapa repotnya mencari kerja apalagi tanpa bekal kemampuan dan ketrampilan yang cukup, untuk menghidupi keluarga.
  • Susahnya mata kuliah yang ada di kampus untuk menyelesaikan studi di kampus.

Sebagai mana layaknya film/drama yang sering kita tonton di TV, namun kini bedanya: peran utamanya adalah diri kita sendiri.

Pada saat di seminari kita mungkin sering mentertawakan keputusan (yang menurut kita salah) yang telah diambil oleh pemeran dalam film tersebut.

Sekarang kita sudah berada di luar, mampukah kita untuk mentertawakan setiap keputusan salah yang kita ambil?

Ingatlah bahwa cepat atau lambat setiap keputusan yang salah/kurang tepat akan membawa akibat yang cukup terasa, walaupun akibatnya baru akan terasa beberapa tahun kemudian. Untuk itu pikirkanlah masak-masak akibat di setiap keputusan yang kita ambil.

Langkah apapun yang kita ambil, sangat menentukan sejarah hidup kita di masa mendatang. Bangku kuliah bukanlah akhir perjuangan kita, melainkan awal perjuangan kita. Janganlah tidur di siang bolong dan mengisi kepala kita dengan idealisme macam-macam yang kurang perlu dan tidak bisa di makan (seperti parabola di taman seminari). Karena sudah saatnya bagi kita untuk bersikap realistis dan pragmatis. Untuk mengubah idealisme semacam itu perlu kearifan tersendiri. Lihat dan pahamilah realita hidup yang sesungguhnya, dan ingatlah bahwa dalam hidup ini kita tidak boleh hanya menerima nasib, tapi kita harus berusaha untuk merubah/memperbaiki hidup kita, karena hidup tidak akan berubah bila kita tidak memperjuangkannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *