Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

MELINTASI SEMINARIS MENUJU KADER-KADER GEREJA YANG TANGGUH DAN MILITAN KRISTIANI

Oleh: A. V. Dian Sano

H:                                “Gini, zaman saya banyak anak yang mencuri, ndableg. Pacaran juga ada. Sekarang ini juga ada. Itu sama, biasa anak muda. Anak muda bandel, kan biasa. Wong Yesus saja bar paskah ndak pulang …. Jadi sampai sekarang itu perbuatan anak muda, psikologis, terjadi; di seminari terjadi.”

W                               “Kalau dilihat ‘seminarinya’, wajar, ndak?”

H                                 “Wajar! Karena anak muda, kok.”

Tulisan tersebut di atas adalah cuplikan pembicaraan kami dengan salah seorang staf guru di Seminari Garum yang juga pernah mengalami kehidupan di situ. Apa yang beliau katakan menjadi menarik karena beliau menyingkap sisi-sisi anak muda yang meskipun seminaris tetapi tetaplah seorang anak muda. Suatu sikap yang munculnya hanya kadang kala di tengah-tengah sikapnya setiap hari yang dipenuhi dengan berbagai macam acara religius. Suatu sikap kenakalan anak muda (yang seminaris) yang dimunculkan secara sembunyi-sembunyi, hati-hati, disertai rasa was-was, pada situasi dan kondisi yang dirasa aman dan mengijinkan. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang aneh, karena mereka memang sadar bahwa mereka ada di seminari. Tempat calon imam. Tempat yang membuat inspirasi bagi mereka untuk mempunyai sifat dan sikap yang utama. Tetapi anak muda tetaplah anak muda. Meskipun seminaris, tetaplah muncul sikap-sikapnya sebagai anak muda. Meskipun dilakukan melalui cara petak-umpat. Kondisi seperti ini menggelitik saya untuk mencermati Seminari Garum dan isinya.

Secara definitif, praktis seminari  memang merupakan tempat pendidikan calon imam. Dan kalau kita melihat kehidupan di seminari, di situ memang terjadi suatu proses pembimbingan atau pembinaan untuk mengembangkan sisi-sisi rohani seseorang; dan atau indoktrinasi untuk menguatkan panggilan agar sampai pada imamat. Jelas di situ mulai ada suatu proses pembentukan. Pembentukan pribadi yang mengarah ke suatu arah tertentu. Kata seminari sendiri berasal dari kata seminarium, yang artinya tempat pembibitan (semen = bibit, akhiran -arium = tempat). Secara eksplisit proses pembentukan tersebut juga dapat kita lihat dengan adanya berbagai macam acara harian (aturan) yang sangat padat, dari menit ke menit hingga dari jam ke jam, yang wajib dijalani oleh para seminaris, yang hampir sebagian besar mengarah ke suatu pembentukan pribadi yang  disiapkan untuk menjadi imam.

Menurut pengalaman saya pribadi, dan konfirmasi dari beberapa teman, pembentukan pribadi tersebut sangat kuat terasa. Karena hal tersebut memang kemudian meng-aktual dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Antara lain, ada perubahan  yang cukup drastis pada pengendalian emosi, lebih sabar, cara berpikir yang lebih rasional terutama sekali ketika menghadapi konflik hubungan. Perilaku sebagaimana layaknya anak muda lebih bisa terkontrol. Apalagi ketika berhadapan dengan umat, serasa ada tuntutan tersembunyi dari umat terhadap seminaris dalam bersikap, dll.

Masih terekam dengan jelas dalam kepala saya tentang apa yang dikatakan seorang rekan (Lilik Setiawan) dalam suatu rekoleksi[1] rutin tiga bulanan, dan dalam hati saya membenarkannya. Waktu itu dia mengatakan bahwa di Seminari Garum dia merasakan adanya penurunan kualitas dalam bidang pendidikan sekolah (dia merasakan bahwa pendidikan sekolah di Seminari Garum kurang bermutu[2]). Tetapi di sisi lain ternyata dia mengalami kemajuan yang pesat dalam hal ‘kedewasaan’. Dari hasil obrolan  beberapa teman dan beberapa staf, saya percaya kalau itu terjadi pula pada seminaris yang lain (tingkat kedewasaan yang lebih dari seharusnya). Bahkan saya berani mengatakan bahwa secara umum (artinya dialami oleh sebagian besar seminaris, tetapi tentu ada beberapa perkecualian terhadap beberapa orang seminaris), hal ini sudah menjadi ciri khas seorang seminaris. Bahkan kedewasaan yang ada pada diri seminaris tersebut mungkin juga sudah berkembang keluar yang terwujud dalam bentuk penampilan lahiriah. Seringkali memang penampilan luar itu mencerminkan apa yang ada dalam diri seseorang. Dari caranya atau modelnya berpakaian, cara berjalannya, sepatu atau sendalnya, semuanya kelihatan. Jadi tidaklah mengherankan kalau orang di sekitar (Blitar) akan segera tahu kalau ada seminaris yang sedang berjalan-jalan.

Tetapi anehnya, tidak jarang terjadi juga, ada konflik-konflik atau pertikaian-pertikaian antar pribadi atau antar kelompok (mis, antar tingkat) yang pernah juga berubah menjadi bentrokan hebat. Terkadang pada suatu kejadian tertentu, seorang seminaris bisa menjadi sedemikian emosionalnya, marah, bahkan cenderung brutal, malahan sampai pegang belati segala[3], seolah – olah mau menampakkan siapa sebenarnya mereka, sehingga memang nampak sekali kontradiksi dengan kedewasaan yang telah terbentuk tadi.

Ketika saya mencoba untuk merefleksikan kontradiksi sikap tersebut, justru di situ saya menangkap adanya suatu sikap yang tulus, suatu ekspresi yang murni yang merupakan ungkapan hati dari seorang ‘anak muda’. Dan saya melihat bahwa sebenarnya banyak ekspresi hidup mereka sebagai anak muda yang wataknya memang cenderung agak nakal, kreatif, berani, cenderung memberontak, revolusioner, inovatif dan sangat dinamis, meskipun terkadang nampak kurang bijaksana; menjadi terkubur dan sulit muncul, yang sebenarnya ini merupakan potensi mereka.

Setelah sekian tahun berlalu dari Seminari Garum, barulah kemudian saya menyadari bahwa sebenarnya kedewasaan yang melekat pada sebagian besar seminaris tersebut adalah suatu kedewasaan yang ‘instant’, ‘karbitan’. Belum waktunya tapi sudah dipaksakan, dengan menciptakan suatu kondisi tertentu. Jadi bukanlah suatu kedewasaan yang sebenarnya, bukan kedewasaan yang tumbuh secara alamiah. Dan ini memang hasil dari pembentukan oleh kondisi yang ada di situ. Sebagai salah satu hasilnya adalah adanya ‘pendewasaan’.

Saya yakin sekali kalau setiap seminaris baru, pasti mengalami suatu perubahan yang sifatnya sangat revolusioner dalam tataran emosinya, terutama dalam bersikap dan bertindak terhadap lingkungan baru mereka. Atau kalau boleh saya katakan bahwa mereka ‘not to be themselves’, tidak menjadi diri mereka sendiri. Semacam ada lompatan kepribadian. Mungkin, ini merupakan suatu bentuk adaptasi dengan lingkungan dan suasana yang benar-benar baru. Suatu lingkungan dan suasana yang lengkap dengan segala tradisinya, yang mampu memberikan inspirasi ke dalam benak setiap seminaris bahwa seolah-olah mereka dituntut untuk menjadi sosok yang ideal dalam arti yang ‘imami’. Kemudian sebagai konsekuensinya mereka harus mempertanggungjawabkan diri terhadap apa yang ada dalam benak tadi, notabene adalah sebagai calon imam. Dan ini berlanjut sebagai aktualisasi diri menjadi suatu ekspresi harian mereka yang nampak lebih dewasa.

Mengapa demikian? Pertanyaan ini bukannya berarti akan menyatakan bahwa hal tersebut jelek atau tidak baik. Paling tidak saya tidak mempunyai keinginan untuk menilai baik dan buruknya (karena perlu kajian yang fair dari beberapa sisi … pastilah ada kebaikan dan keburukan yang tersembunyi). Tetapi, saya hanya berusaha untuk mencermati keadaan yang ada, bahwa ada satu hal penting yang harus diperhatikan bahwa dengan ekspresi hidup yang demikian tadi, (kalau boleh dikatakan ekspresi yang semi-wajib!!!) ada sesuatu yang hilang, yaitu sebuah ekspresi ‘merdeka’ yang tulus dan murni dari diri sendiri sebagai seorang ‘anak muda’. Dan ini akan menjadi salah satu penyebab tersumbatnya potensi-potensi yang ada pada seorang anak (muda) untuk berkembang. Karena mereka hidup di bawah tekanan kondisi tertentu dan mungkin dengan segala keterpaksaannya mencoba untuk menjalaninya.

Sebagai contoh yang paling mudah dilihat dari efek-efeknya, yaitu ada beberapa anak yang seringkali nampak murung, mudah stress, ndak kuat, dan lalu keluar. Ada juga yang sakit-sakitan dan setelah keluar malah sehat wal’afiat. Ada yang merasa tidak ingin menjadi imam lagi dan mau keluar, tetapi praktis kesulitan dalam mencari sekolah yang bermutu, lalu terpaksa mempertahankan diri untuk tetap hidup di situ dengan berpura-pura menjaga sikapnya, dsb.[4]

Jawaban atas pertanyaan diatas tadi, menurut saya, adalah karena adanya suatu pengkondisian yang secara dasariah merupakan suatu konsekuensi dari sistem model seminari. Jadi sistemnya yang membawa ke suatu pengkondisian seperti itu.

Yang memberikan kontribusi terbesar dalam hal ini adalah kata ‘seminari’ itu sendiri, dan ini ternyata menggerakkan orang-orang yang ada di dalamnya untuk menjadikannya sebagai landasan dalam bersikap. Sedangkan peranan hariannya dijalankan oleh staf sebagai kepanjangan tangan dari seminari itu sendiri.

Dalam proses pendampingan (pembimbingan) tersebut, nampaknya yang menjadi kata kunci para staf adalah imam(at). Slogan-slogan atau yang didengungkan baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam setiap harinya adalah imam, imam, imam, titik. Tetapi saya rasa ini bukanlah idealisme staf semata atau karena sikap mengejar target tertentu. Namun lebih pada ketaatan yang tertanam terlalu dalam pada sebuah kata referensi yaitu seminari yang memberi image (mungkin sudah menjadi tradisi) psikologis yang kuat: bahwa seminari ini melulu khusus untuk tempat calon imam. Ini harga mati. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jadi sangatlah wajar kalau kata kunci ini melingkari sikap dan tindakan seminaris untuk bergerak hanya pada batas-batas tertentu. Meskipun banyak juga seminaris yang sudah tidak ingin menjadi imam, meskipun ini adalah wajar sebagai anak muda yang selalu mencari, tetapi dengan segala keterpaksaannya harus menjaga sikap dan tindakannya. Dan akhirnya melahirkan sikap-sikap yang bertopeng imamat atau berpura-pura. Ini suatu kondisi yang tidak sehat.

Perlulah kiranya dipertimbangkan suatu dekonstruksi terhadap image imam(at). Dan ada baiknya meng-kaji sekali lagi sistem model seminari. Ini tidak dimaksudkan membela mereka yang tidak ingin menjadi imam lagi. Tetapi mengupayakan bagaimana caranya agar mereka (yang tidak ingin jadi imam lagi) juga bisa tertampung dan diharapkan menjadi kader-kader gereja yang handal. Tidak terlantar begitu saja.

Menarik sekali di sini untuk diperhatikan, komentar seorang pastor muda yang memang pernah menjadi staf Seminari Garum, ketika beliau berbincang-bincang dengan ‘team’ kami, mengenai pendewasaan di Seminari Garum. Pada waktu itu beliau kurang lebih mengatakan begini,

“..bahwa prinsip dari kata pendidikan … (education adalah dari kata educere …) adalah membawa keluar. Artinya dimungkinkan suatu kebebasan untuk bertumbuh, tetapi kebebasan bertumbuh keluar. Ini sesungguhnya juga berarti bahwa apa yang di luar diri itu diharapkan menarik potensi semaksimal mungkin dari apa yang dimiliki pribadi. Dan, menurut saya, dalam rangka pendidikan dalam arti kedewasaan, salah satu kelemahan di seminari itu adalah di sana orang dikondisikan untuk, katakanlah, dekat dengan kacamata kuda, itu hanya untuk melihat suatu pilihan. Dan di usia mereka, usia di seminari menengah itu, ada suatu e.. keterbukaan dan bahkan dimana banyak kemungkinan yang bisa kamu jajaki itu ditentukan. Segala macam hal diukur dengan kondisi dan ukuran-ukuran imami, tetapi mungkin belum waktunya pada usia tersebut diukur dengan ukuran yang demikian. Maka dulu saya memikirkan: ada baiknya kalau Seminari Garum itu dipikirkan sebagai sungguh-sungguh semacam tempat pembentukan generasi muda yang sungguh kristiani dan militan kristiani itu[5].

Secara pribadi saya sangat tertarik dan terkesan dengan apa yang dikatakan oleh pastor muda tersebut, karena ternyata beliau juga sudah memikirkan suatu pemikiran alternatif untuk seminari garum. Menurut saya pemikiran alternatif itu tidak saja untuk memperbaiki kelemahan sistem model seminari, seperti yang saya tulis di atas (suatu pembebasan dari peng-kondisi-an untuk dekat dengan kacamata kuda), tetapi juga memungkinkan suatu sistem yang lebih fleksibel untuk selalu bergerak secara dinamis dalam upayanya untuk selalu menyejajarkan diri dengan perkembangan jaman[6].

Selain itu, acara harian yang sangat padat (termasuk aturan-aturannya), juga sangat berperan dalam proses pengkondisian ini. Tetapi inipun juga merupakan konsekuensi dari model seminari. Karena, kalau modelnya memang seminari, maka sangat wajar kalau disusun acara-acara harian yang sarat dengan acara-acara yang sifatnya rohani dan religius.

Illustrasi tentang seminari ini akhirnya juga menembus benak dari lingkungan eksternal; yaitu umat. Karena umat merasa seminaris adalah calon imam, maka ketika seminaris berhadapan dengan umat, secara tidak sadar ada semacam perjanjian tersembunyi bahwa seminaris harus menunjukkan sikapnya sebagai calon imam dan harus mengubur ke-‘anak muda’-annya.

Jadi kompleksitas sistem di seminari itu menciptakan suatu pengkondisian tertentu yang mengarahkan hidup seorang anak muda ke arah tertentu sekaligus menyumbat pilihan-pilihan lain yang seharusnya dia miliki untuk mengembangkan potensinya, tetapi karena dia harus mempertahankan hidupnya dengan ekspresi tertentu maka dia terpaksa mematikan potensi yang ada dalam dirinya. Sehingga ini membuat posisinya mengambang untuk segera mengambil pilihan alternatif karena memang tidak dimungkinkan untuk mempunyai ancang-ancang yang memadai.

Secara komitmen memang bisa dijadikan semacam ‘apologi’ bahwa seseorang yang masuk seminari itu sudah menentukan pilihannya sendiri (tanpa dipaksa) untuk menjadi imam. Maka sebagai konsekuensinya, ya harus dijalani! Kalau tidak sanggup, ya jangan di sini! Jadi, yang tidak ingin jadi imam (minimal tidak mampu berpura-pura?) dipersilahkan untuk meninggalkan tempat (dengan resiko yang tak menentu, mendapat sekolah yang jauh dari bermutu, padahal sebenarnya ini aset gereja juga).

Suatu hal yang sungguh ‘naif’ sekali apabila kita percaya begitu saja dan meng-’iya’-kan ucapan seorang anak muda yang kurang lebih hanya berumur sekitar 15 tahun ketika ia masuk seminari dan menyatakan tekadnya untuk menjadi imam. Sebuah pengungkapan dari seorang anak muda yang hanya masih berbekal emosi spontan belaka. Anak muda yang hanya tertarik pada jubah  tanpa mengetahui ‘beratnya memakai jubah’. Anak muda yang belum tahu benar potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Belum banyak mengalami jatuh bangun dalam perjalanan hidupnya menggapai cita-cita.  Mereka begitu mudah berubah dalam proses pencarian jati dirinya.  Seorang pastor muda yang kami wawancarai mengatakan begini,

“Saya sendiri ragu, apakah betul di usia seperti itu mereka sudah benar-benar memiliki motivasi untuk menjadi imam?”.

Jadi, bukanlah salah anak muda itu kalau dia tidak konsisten terhadap apa yang dinyatakannya ketika dia masuk pertama kali masuk seminari untuk menjadi imam. Karena dia sedang ada dalam proses pencariannya. Dan waktu itu yang muncul adalah spontanitas emosinya, seolah-olah sudah menemukan apa yang dicarinya. Memang begitulah anak muda! Belum banyak tahu apa-apa, namun bisa bicara banyak. Ingin mencoba-coba, tanpa tahu apa yang dicobanya. Rasa ingin tahu-nya begitu besar. Jadi, sangatlah wajar, kalau setelah melihat ke dalam, ternyata dia menemukan berbagai ketidakcocokan dan kemudian memilih alternatif-alternatif lain yang dirasa cocok dengan apa yang ada dalam dirinya sebagai usaha untuk menemukan yang lain.

Maka menarik sekali untuk dipertimbangkan secara sungguh-sungguh suatu pemikiran alternatif dari seorang pastor muda tadi di atas yang menyebutkan bahwa seminari dijadikan tempat pembinaan bagi kader-kader gereja yang tangguh, militan dan sungguh-sungguh kristiani. Ini bukan berarti menutup kemungkinan untuk merekrut calon-calon imam, yang akan membawa kekhwatiran terhadap tidak adanya produksi imam. Bagaimanapun juga kita tidak mengharapkan hal ini. Tetapi saya mempunyai keyakinan bahwa dengan model tersebut, beberapa diantaranya akan ada yang menawarkan dirinya untuk menjadi imam. Toh dengan sistem model seminari, paling-paling yang jadi imam hanya dua atau tiga orang untuk setiap angkatan, jadi secara kuantitatif hasilnya sama saja. Tetapi di situ setiap anak bisa tetap dimungkinkan berekspresi secara merdeka dan mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam setiap pribadi masing-masing secara maksimal. Bakat-bakat yang terpendam bisa dikeluarkan. Segala macam ide bisa disalurkan tanpa ada rasa takut untuk di ‘drop-out’. Yang mau jadi dokter, silahkan. Mau jadi insinyur silahkan, tanpa harus dengan ekspresi yang berpura-pura. Mau ke Seminari Tinggi dan ingin jadi imam? Sangat dipersilahkan.

Jadi di situ memang diijinkan untuk memiliki berbagai macam alternatif pilihan. Tidak ada kacamata kuda. Tidak ada pengarahan ke jurusan yang hanya satu arah. Dan yang lebih penting lagi adalah mempunyai tujuan yang lebih luas lagi dari hanya sekedar mencetak calon imam, yaitu mencetak kader-kader gereja yang tangguh dan militan kristiani.

Hal ini bisa saya analogkan dengan SMU Taruna Nusantara[7], dimana siswa-siswanya tetap mempunyai kebebasan memilih kemana sesukanya sebagai kelanjutan dari apa yang diinginkan. Sama sekali tidak diberi image untuk meneruskan sebagai calon ABRI, karena memang tidak diharuskan menjadi perwira ABRI. Dan memang sebagai kata referensi dari sekolah ini adalah ‘calon pemimpin bangsa’ bukan ‘calon pemimpin ABRI’. Meskipun di situ tidak ada keharusan, toh ada juga yang memilih melanjutkan studinya ke jurusan ABRI (AKMIL) untuk menjadi perwira ABRI, meskipun hanya sebagian kecil saja. Hasil lulusannya juga terbukti berkualitas dan memang sebagian besar mampu menembus perguruan tinggi-perguruan tinggi negeri yang bonafide di negeri ini.

Tetapi saya akui bahwa tidaklah mudah untuk mengubah suatu sistem yang sudah lama berdiri, dan tentu diperlukan suatu pemikiran yang matang dan keberanian tersendiri, khususnya dari para otoritas gereja.

Sisi lain yang menjadi keprihatinan di Seminari Garum adalah penyelenggaraan pendidikan sekolahnya. Sebagai sebuah SMU (SMAK) saya melihat Seminari Garum sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk menjadi sekolahan yang unggul secara akademis[8]. Karena di situ ada keteraturan dan kedisiplinan dalam belajar. Suasana proses mengajar-belajar yang sangat disiplin dan tenang, membuat penyerapan terhadap ilmu yang diberikan menjadi maksimal. Ada rasa saling bekerja sama (dalam arti yang positif) dalam belajar antar siswa-siswanya. Ini semua jarang dimiliki oleh siswa-siswa sekolah biasa lainnya.

Sayangnya, potensi tersebut belum menunjukkan hasilnya. Sekali lagi saya masih sependapat dengan apa yang dikatakan oleh seorang rekan di atas tadi (Lilik Setiawan) bahwa secara akademis dia merasa pendidikan di seminari kurang bermutu[9].

Alasan yang pertama kali akan saya kemukakan adalah bahwa sejak awal seleksi secara akademis banyak calon yang memang jauh dari memadai untuk kaliber calon imam. Sehingga yang diterima pun sebagian besar juga mempunyai kapasitas intelektual yang sangat minim. Kemudian minimnya fasilitas yang mendukung proses mengajar-belajar, terutama jumlah variasi buku. Buku-buku versi terbaru yang layaknya dipunyai anak SMU tidak dipunyai oleh seminari/s (minimal sangat terlambat). Yang lain misalnya, laboratorium, alat-alat praktikum, sangat tidak memadai. Seringkali waktu praktikum, guru kami dulu, yang kebetulan berasal dari luar (bukan pengajar tetap) membawa peralatannya sendiri untuk praktikum. Ini sangat memprihatinkan (pada tingkatan tertentu nama seminari bisa jatuh)! Saya teringat kata-kata salah seorang guru bahwa, dulu itu seminari termasuk sekolah pertama yang punya komputer, sekarang termasuk sekolah yang paling tertinggal dalam hal komputer. Tetapi bila ngomong tentang hal ini, ujung-ujungnya ada pada masalah dana, yang berarti perlu perhatian serius dari seluruh umat, donatur, dan keuskupan sendiri.

Seandainya seminari benar-benar dijadikan tempat pendidikan kader-kader gereja seperti di atas tadi, saya kira sangat relevan bila sekolah ini mengadakan penyeleksian yang cukup ketat pada syarat akedemik siswa-siswanya. Misalnya disyaratkan hanya yang mempunyai ranking sepuluh besar yang boleh mendaftar, baru kemudian diadakan serangkaian test dan macam-macam lainnya. Mengenai fasilitas sudah barang tentu harus dibuat memadai. Bila hal ini diumumkan melalui paroki-paroki saya optimis bahwa akan banyak anak muda atau orang tua yang mendambakan anaknya bisa sekolah di situ.

Dan memang tidaklah berlebihan untuk berharap munculnya kader-kader gereja yang handal untuk menghadapi tantangan masa depan gereja yang semakin lama dirasa semakin dalam urgensinya dalam era yang sangat transformatif.

Saya kira Seminari Garum di usianya yang ke-50 tahun ini sudah waktunya untuk menunjukkan potensinya (yang tadi saya katakan mempunyai potensi yang hebat!) secara maksimal dan memang hal itu tidak bisa dihindarkan untuk timbulnya reformasi-reformasi terhadap hal-hal yang menghambat munculnya potensi tersebut.

Disamping itu tentunya adalah dibutuhkannya dukungan baik secara moriil dan materiil (terutama memang dukungan materiil) dari seluruh lapisan gereja.

 

Bagai jurang yang dalam

menggemakan suara dari dasarnya

dari sanalah terdengar seruan:

“Dan Kau, Garum,

Kau sekali-kali bukanlah yang terkecil

Karena darimu akan lahir

orang-orang besar.

Dan sungguh,

jika kembali engkau mengasah pedangmu,

melenturlah busurmu dan membidik

anak panahmu akan menjadi menyala.”

 

Dirgahayu,

50 Tahun Seminari Garum.

 

[1] Rekoleksi tersebut pada waktu itu diberikan oleh Rm. Kurdo Pr. Temanya ‘YA’.

[2] untuk pendidikan sekolah di seminari memang harus mengacu pada sekolah-sekolah yang elite dan bonafide di jatim sebagai competitor.

[3] Dari hasil wawancara dengan salah seorang ex-staf romo.

[4] Wawancara dengan seorang pastor ex-staf seminari

[5] Rm. YB Mangunwijaya juga pernah menyatakan di majalah hidup bahwa seminari tidak hanya tempat pendidikan calon imam tetapi juga tempat pendidikan pejuang awam gereja. Saya menangkap ini sebagai suatu dekonstruksi terhadap image bahwa seminari hanyalah melulu tempat calon imam. Sehingga memungkinkan para pembina untuk memberi toleransi terhadap pilihan alternatif dan mengembangkan sisi lain dari apa yang ada dalam diri pribadi anak muda tersebut. Dari situ diharapkan munculnya pejuang awam gereja yang berasal dari hasil didikan seminari.

[6] Sudah menjadi pengetahuan umum kalau seminari memang cenderung terisolasi dari berbagai informasi tentang berbagai kemajuan ilmu dan alat, yang seringkali identik sebagai simbol perkembangan jaman.

[7] Sebuah SMU swasta milik ABRI yang diharapkan mencetak kader-kader pemimpin bangsa yang handal. Sekolah ini mulai dibuka tahun 1990 di Magelang-Jateng. Dan hanya mengambil siswa-siswa yang memiliki kepandaian khusus dan tentu mempunyai keunggulan secara akademis dan mempunyai sistem penyaringan yang sangat ketat dari setiap propinsi.

[8] Sebagai ukuran harus dibandingkan pada level sekolah-sekolah top di Jatim tidak hanya melulu dibandingkan dengan sekitar garum atau Blitar.

[9] Menurut wawancara kami, Seminari Garum menempati ranking 2 setelah Mertoyudan di antara seminari menengah seluruh Indonesia. Entah apa kriteria penilaiannya tetapi sedikit banyak ini juga menggambarkan kondisi seminari-seminari menengah lainnya yang ada di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *