Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

Seminari Menengah dan Kader-Kader Gereja

Oleh: Alexander Supartono

Seminari Menengah, sebagai awal dari keseluruhan proses formatio seorang imam katolik akhir-akhir ini sampai pada titik kritisnya, walau keadaannya yang kritis ini belum begitu populer. Berbagai masalah dan perdebatan tentangnya hadir, dari segi konseptual maupun praktis, dari berbagai argumen keraguan psikologis sampai kesulitan pendanaan. Tuntutan-tuntutan evaluasi dan kebutuhan-kebutuhan terobosan yang benar baru sedikit demi sedikit mulai terasa semakin lama semakin kuat. Posisinya sebagai awal, dengan padanan yang jelas SMU biasa di luar (apalagi yang mempunyai asrama bagi siswanya), membuat Seminari Menengah semakin terjepit dan harus betul-betul mempunyai nilai lebih, di luar kelebihan religius, untuk tetap eksis dan maksimal. Eksis dalam arti dia tetap berjalan sebagai sekolah menengah berkualitas. Maksimal dalam arti lulusan-lulusannya yang kemudian tidak meneruskan ke seminari tinggi pun tetap bisa dipertanggungjawabkan sebagai kader-kader gereja yang berwawasan.

Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

BAGAIMANA MENJADI AWAM YANG BAIK

F.X. Andhika Bayu

Selama hidup di seminari, banyak suka-duka yang telah kita alami. Kita banyak belajar sesuatu dan menemukan konsep-konsep baru selama hidup di seminari. Namun sejauh manakah konsep-konsep tersebut dapat dipakai/diterapkan setelah keluar dari seminari, terutama bagi kita yang memutuskan untuk tidak melanjutkan studi di seminari tinggi.

Dengan tidak bermaksud beropini yang bertentangan dengan opini mayoritas ex-seminaris lainnya, berikut ini kami ingin menyampaikan apa yang kami ketahui dan rasakan setelah keluar dari seminari.

Kategori
Arsip Buku Membuka Topeng

Epilog

Oleh: Y. B. Mangunwijaya

PAX CHRISTI !

Permintaan untuk menulis suatu epilog bagi bunga rampai berkenaan dengan Yubileum 50 tahun Seminari Menengah di Garum kepada saya ini sebenarnya salah alamat. Saya sayang sekali dan merasa bersalah kok belum pernah melihat Seminari itu, apalagi mengalami kehidupannya. Sekarang tinggal menyesal karena usia lanjut sudah membuat saya malas bepergian, maklumlah sudah masuk dalam fase yang lazim bagi kaum lansia, “nyusuh” , bersarang. Apa lagi di Garum, kehidupan Seminari Menengah di Mertoyudan sekalipun tempat pendidikan calon-calon imam keuskupan agung saya, Semarang pun, hanya saya alami dua tahun sesudah saya bersekolah di luar sampai tamat di SMA, dengan pengalaman hidup zaman Jepang serta Revolusi yang jelas serba profan tidak “saleh dan suci”, penuh pergolakan dan pengalaman yang tidak ada sangkut paut formal dengan pendidikan imam, misalnya ikut-ikutan menjadi gerilyawan dsb, dsb.