Oleh: Alexander Supartono
Seminari Menengah, sebagai awal dari keseluruhan proses formatio seorang imam katolik akhir-akhir ini sampai pada titik kritisnya, walau keadaannya yang kritis ini belum begitu populer. Berbagai masalah dan perdebatan tentangnya hadir, dari segi konseptual maupun praktis, dari berbagai argumen keraguan psikologis sampai kesulitan pendanaan. Tuntutan-tuntutan evaluasi dan kebutuhan-kebutuhan terobosan yang benar baru sedikit demi sedikit mulai terasa semakin lama semakin kuat. Posisinya sebagai awal, dengan padanan yang jelas SMU biasa di luar (apalagi yang mempunyai asrama bagi siswanya), membuat Seminari Menengah semakin terjepit dan harus betul-betul mempunyai nilai lebih, di luar kelebihan religius, untuk tetap eksis dan maksimal. Eksis dalam arti dia tetap berjalan sebagai sekolah menengah berkualitas. Maksimal dalam arti lulusan-lulusannya yang kemudian tidak meneruskan ke seminari tinggi pun tetap bisa dipertanggungjawabkan sebagai kader-kader gereja yang berwawasan.
